SHARE
anak broken home takut menikah, Benarkah Anak Broken Home Takut Menikah, pacaran sama anak broken home, catatan anak broken home, ciri ciri anak broken home, broken home indonesia
Image via: marriage.com

Tak perlu menjadi anak broken home untuk merasa takut menikah. Banyak orang yang latar belakang keluarganya baik-baik saja, namun masih dihinggapi keraguan untuk berkomitmen.

Eh … pada dasarnya pernikahan memang bukan perkara gampang.

Lebih-lebih bagi anak broken home, yang menyaksikan orang tuanya berpisah – atau masih bersama, namun dalam keadaan yang tidak begitu bahagia. Pernikahan itu menjelma jadi horor, yang mungkin bagi sebagian orang, terlihat irasional.

Nah, jika kamu bukan anak broken home, kemungkinan besar tidak akan paham.

Putus, cerai, pisah ranjang, cekcok, ketidakcocokan, pengkhianatan, ketidakpercayaan, perpisahan, saling diam, saling bentak, dan hal buruk semacam itu menjadi sesuatu yang traumatik.

Ada pikiran, ‘orang tua yang pernah saling mencintai dan mengasihi saja bisa berakhir dengan perpisahan atau perselisihan, apa kabar kita?’.

Benteng hati anak broke home

wanita Broken Home, perempuan Broken Home, komitmen percintaan, percintaan anak broken home, calon istri dari keluarga broken home, sifat anak broken home, psikologi anak broken home
Image via: mamamia.com.au

Maka, anak broken home itu bagai mendirikan benteng beton di hatinya. Mereka sulit terbuka. Orang-orang juga sulit menembusnya. Boleh dibilang, mereka over-protektif terhadap hatinya.

Hal ini terjadi bukan karena mereka tak mau merasakan sensasi jatuh cinta dan memberi kepercayaan pada orang lain. Bukan karena anti hubungan, anti komitmen, atau anti pernikahan. Bukan juga karena ingin menyendiri selama-lamanya. Bukan. Selengkapnya, sudah saya tulis dalam “17 Serba-Serbi Cinta Di Mata Anak Broken Home”.

Ada sesuatu yang terus mensabotase mereka. Bahwa jatuh cinta, menjalin hubungan, memberi kepercayaan, dll, adalah “daftar kesalahan” yang pernah dilakukan orang tua. Mereka jadi takut semua itu akan terulang.

Jika pernah dekat atau bahkan sedang menjalin ikatan spesial dengan anak broken home, kamu tentu tahu sensasinya. Cukup sulit dan melatih kesabaran. Saya pun sudah menuangkannya dalam “Menjalin Hubungan Spesial Dengan Anak Broken Home? Ada 10 Hal yang Mesti Dicamkan”.

Bicara tentang pernikahan …

pria broken home, komitmen bagi pria, pernikahan bagi pria, pria dari keluarga broken home, calon suami dari keluarga broken home, menikah dengan laki laki broken home
Image via: orlandofamilyteam.com

Untuk jawaban lebih spesifik, tentu masing-masing anak broken home memiliki pandangannya sendiri.

Namun jika ditanya tentang kesiapan menikah, sepertinya mayoritas anak broken home perlu jeda. Mereka tidak akan serta-merta mengangguk dan menyerukan ‘siap 86!’. Namun mereka juga tidak lantas menggeleng-geleng seakan fobia.

Pernikahan di mata mereka adalah sesuatu yang sakral, tidak bisa sembarangan, penuh pertimbangan, dan diselimuti aneka keraguan juga. Ada yang memilih menghindar, tidak menikah sama-sekali, atau menunda-nunda momen besar itu.

Jujur saja, anak broken home takut pada hal-hal yang tidak diinginkan dalam pernikahan, sekalipun semua itu belum terjadi. Jadi meskipun masih berstatus single atau sudah punya kekasih (tetapi belum menikah), namun pikiran buruk itu selalu menghantui.

Ada kegelisahan mereka akan mengalami nasib sama seperti orang tua; menjalani bahtera rumah tangga, bermasalah, lalu berpisah.

Seringkali  ada kecemasan kalau suatu saat giliran mereka yang mengalami sakit hati, kegagalan rumah tangga, kehilangan orang-orang tersayang, ditelantarkan, diperlakukan berbeda, digantikan oleh orang lain, dsb.

Mereka enggan semua ketakutan itu jadi kenyataan.

Untuk itu, anak broken home yang sukses mengambil hikmah dan pelajaran dari perceraian orang tua, kemungkinan besar akan menjelma menjadi pasangan yang sangat total.

Mereka belajar bagaimana seharusnya seorang suami/ istri, bagaimana menjadi ayah/ ibu, bagaimana menghadapi konflik dengan pasangan, bagaimana perasaan anak melihat orang tuanya bertengkar, dll.

Mereka juga cenderung setia, penyayang, mampu berkomunikasi agar tidak salah-paham, jujur, respect, dan berikhtiar keras agar perceraian tidak menurun pada pernikahannya. Namun sifat-sifat itu hanya berlaku bagi seseorang yang sudah lolos seleksi ketat. Sebab, mereka biasanya tidak mudah jatuh cinta, tidak mudah percaya, tidak mudah berjanji muluk-muluk, dan tidak mudah memutuskan keputusan penting.

Menikah itu adalah keputusan super penting

menentukan pilihan, menentukan pilihan yang tepat, bingung menentukan pilihan jodoh, memutuskan menikah
Image via: women-s.net

Berbanggalah jika bisa meyakinkan anak broken home untuk menikah. Pasti usaha dan kesabaran kamu sudah teruji. Sebab, lagi-lagi, tidak mudah melenturkan hati mereka. Lebih lagi membuat mereka berani merangkul segala konsekuensi dari hubungan atau ikatan pernikahan.

Meski demikian … isu-isu tentang komitmen, kepercayaan, kejujuran, keterbukaan, dll, tak akan hilang dengan mudah. Meski sudah menikah, semua itu masih selalu membayangi.

Perlu partner terbaik untuk selalu bekerja sama mengarungi bahtera rumah tangga. Perlu kedekatan khusus juga dengan Tuhan YME, agar selalu ditenangkan hatinya dan dipositifkan pikirannya.

Menikah atau mengikat janji untuk hidup berkeluarga, seyogyanya hadir dengan niat baik. Kalau niatnya memang sudah positif, tak akan ada yang sia-sia. Pasrahkan pada-Nya. Skenario Dia selalu yang terbaik, yang sesuai kemampuan hamba-Nya. Benarkah Anak Broken Home Takut Menikah? #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

sixteen − 15 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.