Home My Files Diary Enggak Setiap Hari #RD Marahlah, Jangan Ditutupi, Asal Tetap Kendalikan Diri

Marahlah, Jangan Ditutupi, Asal Tetap Kendalikan Diri

2
SHARE
marah, marah adalah, ekspresi marah, mengendalikan marah, cara mengatasi emosi pada diri sendiri, cara mengendalikan emosi seseorang, cara mengatasi emosi berlebihan, cara mengendalikan emosi wanita
Image via: scarymommy.com

“Bicaralah ketika kamu marah dan kamu akan menciptakan pidato paling disesali…”

Begitulah kata seorang penulis puisi, cerpen, sekaligus jurnalis bernama Ambrose Bierce.

~

Entah berapa kali saya menyesal dan melakukan kekonyolan, karena tidak bisa mengendalikan diri ketika marah.

Saya dan sahabat (yang sama-sama pemarah), pernah tidak saling sapa selama berbulan-bulan, hanya karena kesalahpahaman. Saya pernah sengaja makan di luar seharian, hanya karena sedang marah sama orang rumah. Saya pernah memilih kantin ketimbang mengikuti pelajaran di kelas, hanya karena marah pada seorang guru SMA. Dan, masih banyak lagi.

Sebagai bagian dari emosi, amarah tentu tak bisa saya hindari. Rasa itu pasti ada. Meskipun jauh dalam hati, saya sadar, segalanya akan lebih damai jika saya tidak marah. Hubungan apapun – hubungan sama pasangan, sahabat, keluarga, dll – pasti bisa aman tanpa emosi marah.

Namun, bagaimana bisa saya selalu lolos dari kemarahan? Adakah orang yang tidak pernah marah?

Saya rasa wajar kalau ada mahasiswa yang marah karena draft skripsinya disobek di depan muka, bahkan dilempar ke muka juga oleh dosennya. Saya rasa wajar kalau ada pebisnis yang marah karena konsumen hanya melakukan pre-order tapi tidak transfer. Mahasiswa dan pebisnis itu sulit, hampir mustahil, mengendalikan emosi marahnya. Namun mereka masih bisa mengendalikan diri untuk bereaksi.

Mungkin reaksinya ada yang menghajar dosen itu?

Mungkin reaksinya dengan mengirim kata-kata kasar ke konsumen?

Mungkin reaksinya dengan menyindir via media sosial?

Mungkin reaksinya dengan diam saja?

Memicu Emosi

wanita marah, wanita marah diam, memicu emosi, hormon yang mempengaruhi emosi, ciri2 wanita marah
Image via: zahma.cairolive.com

Tadi siang (Jumat, 05 Oktober 2018), saya datang ke lembaga kursus untuk mengajar dua rombongan belajar sekaligus. Satu rombel berisi 8-10 siswi. Saya mesti bolak-balik, sebab instruktur laki-laki Jumatan.

Suasana hati saya sedang kacau. Ada masalah pribadi. Ada masalah sahabat juga, yang entah kenapa, saya ikut memikirkannya. Saya juga begadang malam, sehingga bawaannya suntuk. Saya paling payah kalau sudah kurang tidur. Huhu

Kata orang, saya mesti profesional.

Tetapi beberapa siswi terus mengeluh tentang latihan yang diberikan. Meski judulnya ‘evaluasi’, yang mestinya saya tinggalkan, namun saya memutuskan untuk tetap mendampingi mereka. Saya tidak membiarkan mereka memecahkan soal sendirian. Dan, itu pun masih saja berisi keluhan.

Saya tidak akan marah karena siswa tidak bisa/ tidak mengerti. Tetapi emosi saya cepat meledak kalau menghadapi siswa yang mengeluhkan pelajaran. Uh, siapa yang suka mendengar keluhan tanpa lebih dahulu berikhtiar maksimal?

Keluhan itu menularkan energi negatif. Mood bisa anjlok. Saya juga jadi cepat lelah. Apalagi saya tipikal introvert, yang energinya cepat terkuras kalau berinteraksi lama-lama dengan manusia pengeluh.

“Kami capek …”

“Pusing banget!”

“Kami ini banyak masalah, mana baru ujian, lagi?”

Wow! Jadi harus saya saja yang memahami mereka dan mereka tak perlu memahami saya, begitu?

Saya hampir akan memuntahkan deretan kalimat – yang kalau jadi dikeluarkan – pasti bikin saya menyesal. Tapi, uh, saya tahan.

Akhirnya saya mengungkapkan rasa yang sama. Bahwa saya pun ikut capek dan pusing menghadapi mereka yang jumlahnya banyak. Saya ungkapkan dengan nada bercanda.

Di satu sisi, saya hanya ingin mengingatkan mereka, kalau saya pun manusia. Di sisi lain, saya tidak ingin membuat mereka takut atau trauma.

Tapi, beneran. Bagi saya, menghadapi sekitar 16 siswa sendirian itu merepotkan. Lebih baik sedikit saja, tetapi saya bisa maksimal meladeni mereka.

Tidak bisa mengontrol amarah, tapi masih bisa mengontrol reaksi diri sendiri

menahan emosi, menahan amarah, cara mengatasi emosi pada diri sendiri, meredam amarah
Gif via: glee.wikia.com

Saya tidak bisa mengelak dari emosi marah yang menjalar. Saya tidak pura-pura tidak merasa marah.

Saya tidak ingin amarah itu justru mengendap dalam hati. Ibaratnya saya mengepal bara panas, yang ujung-ujungnya hanya akan membakar dan menyakiti diri sendiri. Siapa yang mau?

Saya pasrah pada emosi. Saya akui, saya merasakannya. Saya marah, jengkel, sebal, dan muak. Namun saya tidak pasrah ketika hendak melakukan reaksi buruk. Saya melawannya dengan menahan diri.

Ada untungnya saya tidak memudahkan mulut untuk berkata kasar, membentak, atau menghardik.

Saya melakukan apapun, yang sekiranya bisa mengalihkan pikiran. Ketika marah di ruang rombongan belajar 1, saya keluar sejenak, lalu ke ruang rombongan belajar 2. Kalau keduanya sama-sama menjengkelkan, saya duduk di luar – minum, makan, atau ngobrol dulu dengan seorang rekan.

Pejamkan mata. Tarik napas sepuas mungkin, keluarkan perlahan. Kalau perlu, baca istigfar. Tenang. Tenang.

Mengontrol diri karena marah pasti menjadi latihan seumur hidup. Semoga selalu diberi kemudahan agar selalu lulus; agar tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain, agar hubungan apapun tetap damai terjaga. Marahlah, Jangan Ditutupi, Asal Tetap Kendalikan Diri. #RD

SHARE

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seven + 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.