Home My Files Diary Tentang Inspirasi dan Motivasi Mengakui Kesalahan Dulu, Move On Kemudian

Mengakui Kesalahan Dulu, Move On Kemudian

0
SHARE
mengakui kesalahan, mengakui kesalahan menurut islam, mengakui kesalahan dan minta maaf, orang yang tidak mau mengakui kesalahan, orang yang tidak mau mengakui kesalahannya disebut, kata kata untuk orang yang tidak mau mengakui kesalahannya
Image via: thoughtcatalog.com

Mengaku salah, meski memang salah, seringkali bukan perkara mudah.

Sebagai Gemini, saya sering dinilai sulit mengakui kesalahan. Disalahkan juga gak mau. Seringkali malah menghindar atau kabur. Not cool, memang.

Penilaian itu menjadi bahan introspeksi. Saya menerimanya.

Tetapi pada Malam Minggu kemarin, saya bangga juga terhadap diri sendiri, karena sudah mengakui kesalahan. Saya mengutarakan kekhilafan dan kebodohan itu di hadapan seorang sahabat. Rasanya lega. Serasa ada seseorang yang membantu mengangkat sebagian beban saya. Uh, kenapa tidak dari dulu, ya?

Bonus besar dari mengakui kesalahan

move on setelah mengakui kesalahan, cara menghilangkan rasa bersalah menurut islam, bangkit dari rasa bersalah, cara menghilangkan rasa bersalah terhadap orang lain, sering melakukan kesalahan di tempat kerja
Image via: inspiredbymaps.com

Saya tidak meragukan lagi, kalau mengakui kesalahan itu bukan perkara gampang. Butuh keberanian untuk menginjak ego sendiri dan bersikap layaknya kesatria. Maka, saya sangat mengapresiasi kesediaan beberapa orang terdekat untuk mengakui kesalahan. Setidaknya, pengakuan itu sudah memberikan bonus besar, yakni menyelamatkan suatu hubungan.

Sementara ketidakmauan untuk mengakui kesalahan hanya akan mendatangkan derita berkepanjangan.

Pernah tidak, ada seseorang bersalah padamu? Oke, pasti pernah.

Misalnya dia sudah bikin kamu kesal, ingkar janji, teledor, membocorkan rahasia, buang sampah sembarangan, tidak menutup pasta gigi, dll. Tetapi ketika dia enggan mengaku salah, bagaimana reaksimu? Uh! dijamin kecewa, frustrasi, enggak percaya lagi, dan perasaan buruk lainnya.

Kondisi itu bahkan berpotensi mempertaruhkan hubunganmu dengan dia.

Sebaliknya, jika orang tersebut mengakui kesalahan, bagaimana perasaanmu? Kemungkinan besar amarahmu berkurang, kamu merasa bangga, ada sensasi hangat dalam jiwa, bahkan kamu seakan tak tega untuk memperlakukannya dengan buruk.

Yang ada, kamu sangat mengapresiasi pengakuan itu. Lebih-lebih, kalau diiringi dengan permintaan maaf dan perubahan yang lebih baik.

Bahkan ketika partner atau siapapun bersedia mengakui kesalahan, saya pun jadi terpacu untuk melakukan hal yang sama. Saya jadi ingin meruntuhkan gengsi dan ikut mengakui kesalahan. Kalau sudah begitu, saya berharap kesalahan-kesalahan yang sama tak akan pernah terulang.

Aksi ini tentu sulit, apalagi kalau belum biasa. Tetapi sulit bukan berarti mustahil dilampaui.

Kalau ujian untuk mengakui kesalahan sudah dilalui, efek hebatnya …  saya tak perlu lagi tenggelam dalam rasa bersalah yang menyesakkan. Saya ingin move on, beralih pada hal-hal lain yang masih membutuhkan perhatian. Jangan sampai karena kesalahan masa lampau, yang sudah tidak bisa diedit lagi, saya terjebak selamanya di sana. Oh, jangan sampai.

Cara dan tahapan untuk mengakui kesalahan

perempuan pemberani, berani mengakui kesalahan, bersikap kesatria, mengakui kesalahan menurut islam, orang yang tidak mau mengakui kesalahan, mengakui kesalahan dan minta maaf
Image via: leplus.nouvelobs.com

Persepsi kalau mengakui kesalahan itu ciri orang lemah, mesti kita luruskan. Justru butuh jiwa perkasa untuk melakukannya. Aksi heroik ini bahkan bisa menepis ancaman sebuah hubungan.

  1. Tenggang rasa

Sewaktu SD, saya belajar tentang tenggang rasa, yaitu kemampuan untuk ikut menghormati dan menghargai perasaan lain. Saya pun harus menerapkan hal sama ketika melakukan kesalahan kepada orang.

Kalau bersalah karena sudah berbohong, saya harus memaklumi reaksi buruk seseorang. Saya bisa membayangkan, bagaimana kalau justru dia yang berbohong, pasti reaksinya juga sama-sama buruk.

  1. Memilah kesalahan

Apa kamu sudah salah bersikap? salah memutuskan? salah memilih? tidak terampil? melakukan error? lupa? dll. Jika bukan kesalahanmu, kamu tak perlu menanggung semuanya. Jika salah di satu hal, akui saja, tetapi jangan dilebih-lebihkan.

Hindari diri dari keadaan larut dalam kesalahan. Kalau sudah mengaku salah dan meminta maaf, kemudian orang tersebut terus mengungkit – seakan sulit untuk memberi maaf, tidak apa-apa. Tugasmu sudah selesai. Soal pemberian maaf yang tulus, itu jadi urusan dia sepenuhnya.

  1. Sederhana

Ada orang yang mengaku salah, tetapi sambil memberikan penjelasan ini-itu. Sehingga dia terkesan melakukan pembenaran dan menuding orang lain yang salah total. Kadang-kadang sikap itu justru membuat situasi jadi rumit. Ada juga yang memilih mengakui kesalahan dengan sederhana, tanpa embel-embel sebagai upaya menutupi kesalahannya.

  1. Komitmen

Kamu bisa berkomitmen terhadap dirimu sendiri, kalau kesalahan tersebut sebisa mungkin tak akan terulang. Agar meyakinkan, kamu juga bisa mengutarakan komitmen itu pada orang yang baik.

Begitu semuanya crystal clear, tak perlu lagi diskusi panjang terkait kesalahan tersebut. Kecuali untuk dijadikan contoh pengalaman saja, kalau sewaktu-waktu kesalahan tersebut berpotensi terjadi.

Tak perlu mempertahankan kesalahan masa lalu untuk memboikot langkah ke depan. Saatnya move on. Masih banyak misi lain yang lebih positif untuk dihadapi.

Cukup sudah membelenggu diri dengan rasa bersalah, kebencian, dan kepayahan. Saatnya mengapresiasi diri untuk merangkai masa depan yang lebih baik. Mengakui Kesalahan Dulu, Move On Kemudian. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

14 − 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.