Home My Files Diary Enggak Setiap Hari #RD Tak Selamanya Lantang itu Kuat dan Diam Itu Lemah

Tak Selamanya Lantang itu Kuat dan Diam Itu Lemah

2
SHARE
Tak Selamanya Lantang itu Kuat dan Diam Itu Lemah, kekuatan diam, kekuatan dalam diam, kekuatan cinta dalam diam, kekuatan dari diam
Image via: br.freepik.com

Suara lantang berpotensi mencuri atensi. Sedangkan yang diam, kebanyakan luput dari perhatian.

Di dalam kelas atau ruang belajar, khususnya ketika awal masuk, seringkali ada siswa yang mendominasi suara. Dia sangat aktif, suaranya nyaring, dan menjadi pusat perhatian. Segala ide, pendapat, kritikan, atau candaan bisa dengan mudah terlontar.

Dia tampak luwes dan tidak kagok dengan semua orang, termasuk dengan guru atau tutornya sendiri.

Namun di kelas atau ruang belajar itu juga, ada siswa yang pendiam. Dia tidak banyak bicara, tapi banyak mendengar dan mencatat. Dia juga tampak sebagai pihak yang paling menyimak.

Hanya saja, begitu dia diberi kesempatan untuk membuka suara, betapa seringnya seisi ruangan dibikin takjub. Gagasan dan pikirannya kadang anti-mainstream, tidak kepikiran.

Nah, eksistensi orang yang banyak bicara dan pendiam bukanlah masalah. Semuanya menjadi penyeimbang.

Namun yang sering menjadi masalah yaitu …

ketika saya hanya fokus pada yang lebih aktif bersuara, dan mengabaikan mereka yang pendiam – yang sebenarnya memiliki harta karun berupa pemikiran keren. Juga ketika saya menganggap kalau siswa yang selalu mengangkat tangan itu patut mendapat poin lebih ketimbang mereka yang antap saja.

Dengan demikian, saya sudah kehilangan potensi besar.

Dalam beberapa kasus, para siswa yang ‘ekstra’ itu justru mempermalukan dirinya sendiri. Misalnya dia asal bicara tanpa data, penampilannya tidak berkualitas, kharismanya luntur, atau ada seseorang yang tak disangka ‘bisa mengalahkannya’.

Masalah lain, yaitu ketika golongan para pendiam yang ternyata brilian itu tidak memiliki media untuk bersuara atau mengekspresikan diri.

Itu baru lingkungan kecil.

Bagaimana dengan keadaan sekarang?

Misalnya ketika ada video, artikel, unggahan, atau berita viral mengemuka…

Pihak-pihak noisy begitu percaya diri untuk beraksi. Tak jarang, banyak yang justru menghadirkan kontroversi. Lalu hal viral tersebut jadi melebar.

Sementara pihak-pihak yang bijak biasanya tidak banyak merespons, atau bahkan diam saja. Nah, sikap ini memang menjadi hak mereka. Namun yang diresahkan, masyarakat awam cenderung tidak tahu siapa yang patut disimak, digugu, dan ditiru. Akhirnya mereka menelan apapun yang banyak di-sharing, entah benar atau tidak.

Orang-orang yang diam sering menjadi korban salah-paham. Mereka dianggap pecundang, ilmunya dangkal, pikirannya kosong, lemah, pasif, tidak kreatif, submisif (menerima dan menyerah saja), dll. Padahal bisa jadi sebaliknya.

Bisa jadi mereka adalah sosok yang kuat, pemberani, intuitif, kreatif, dan bijaksana. Mereka mampu menahan diri untuk tidak mengedepankan nafsu. Tidak serta-merta memberi tanggapan, yang bisa jadi disesali di kemudian hari.

Mereka legowo membiarkan orang-orang berkoar-koar. Mereka mendengar, melihat, menyimak, dan mengobservasi semua informasi. Mulut mereka terkatup, namun telinga dan mata mereka terbuka. Nah, mereka berhati-hati sebelum menginjak tahapan aksi.

Seorang penulis bernama Amy Efaw pernah menyatakan, ‘don’t judge me because I’m quiet. No one plans a murder out loud’. Artinya, ‘jangan hakimi saya karena saya pendiam. Tak ada rencana pembunuhan (yang) terang-terangan’.

Dengan kata lain, diamnya seseorang yang punya ilmu (dan adab) itu memang mematikan. Bungkamnya dia bahkan bisa mengalahkan mereka yang terlampau cerewet, nyaring, dan rusuh.

Tak jarang kalau penampilan orang pendiam itu jadi ekslusif. Sekali tampil bisa mengejutkan. Tahu-tahu dia menelurkan karya, tahu-tahu dia berprestasi, tahu-tahu dia menghasilkan produk, tahu-tahu dia mengunggah sesuatu yang berkualitas, dll.

Lalu hiruk-pikuk dan suara-suara sumbang itu pun hening. Tak Selamanya Lantang itu Kuat dan Diam Itu Lemah. #RD

SHARE

2 COMMENTS

  1. Duh untuk pertama kalinya saya senang dikatakan pendiam, wkwkwk
    Tapi pas baca bagian ini : “Tak jarang kalau penampilan orang pendiam itu jadi ekslusif. Sekali tampil bisa mengejutkan. Tahu-tahu dia menelurkan karya, tahu-tahu dia berprestasi, tahu-tahu dia menghasilkan produk, tahu-tahu dia mengunggah sesuatu yang berkualitas, dll.”, saya jadi galau soalnya sampai sekarang saya belum melahirkan prestasi atau sesuatu lain yang membanggakan. Sepertinya saya benar-benar pasif 🙂

  2. Hehe..
    Ada kata-kata “tak jarang”..
    Kontribusi kita tak perlu harus berupa prestasi, piagam, penghargaan, dll. Hal-hal kecil pun mesti tetap diapresiasi.. ^^

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × four =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.