Home My Files Diary Tentang Inspirasi dan Motivasi 4 Jenis Marah, Kamu Lebih Sering Melakukan yang Mana?

4 Jenis Marah, Kamu Lebih Sering Melakukan yang Mana?

4
SHARE
jenis marah dalam islam, 3 jenis marah, jenis orang marah, 4 jenis marah, jenis-jenis perasaan marah, jenis jenis marah
Image via: experiencelife.com

Marah? Silakan saja. Normal, kok.

Marah, Bahasa Inggrisnya ‘anger’. Menurut Dr. John Schinnerer, istilah tersebut berasal dari kata latin ‘angere’, yang artinya ‘mencekik’. Apa emosi marahmu memang mencekik?

Kebanyakan dari kita memang akrab dengan emosi marah. Lihat saja di jalanan, di ruangan-ruangan, di kolom komentar media sosial, di status WhatsApp, dalam karya-karya, dalam komedi; di mana-mana.

Banyak orang tidak bisa mengendalikan amarah. Apalagi kalau sedang lapar, harga diri merasa terinjak, sakit migrain, faktor hormon, pandangan politiknya berseberangan, pemahaman agamanya berbeda, ada masalah pribadi, ada masalah kerja, dll.

Emosi marah tersebut datang ketika ada seseorang atau sesuatu yang menjegal langkah, tujuan, dan mimpimu. Faktor kemarahan semakin banyak, namun kamu tetap disarankan untuk menahan diri. Oh, susah sekali.

Nah, berikut ini 4 jenis kemarahan yang sering dialami:

4Marah terhadap Diri Sendiri

Image via: peacefuldumpling.com

Emosi marah tidak melulu dari kamu untuk orang lain. Emosi tersebut bisa juga tertuju pada dirimu sendiri. Rasa marah tersebut terus menggerutu dan mengendap. Orang lain tidak mendengarnya, tapi kamu sendiri merasa begitu berisik.

Seringkali kamu marah, tetapi tidak mengakui dan mengekspresinya. Sebaliknya, kamu malah terus menutup-nutupinya. Kemarahan tersebut seperti bom waktu. Setelah lama didiamkan, rasa itu bisa meledak.

Efek ledakannya bahkan bisa mengenai orang-orang, hewan-hewan, benda-benda, pemerintahan, atau apa pun yang ‘tidak secara langsung berdosa’ pada kamu.

Akhirnya kamu meluapkan kemarahan pada orang yang polos, di waktu yang tidak tepat, dan mungkin dengan sikap yang kebablasan.

Marah yang lama terpendam juga bisa berpengaruh buruk terhadap kesehatan.

3Marah terhadap orang lain

Image via: udemy.com

Emosi marah selanjutnya mengarah ke luar, tak jarang juga ke pihak yang salah.

Kemarahan ini sangat merusak jika targetnya salah, melampaui batas, tidak tahu tempat dan waktu, serta tidak lihai mengomunikasikan kemarahan itu.

Risikonya cukup berat, sebab kamu mempertaruhkan hubunganmu dengan orang tersebut. Kalau keterlaluan, kamu juga bisa dijerat hukum.

2Marah karena kecewa

Kekecewaan merupakan kolaborasi antara marah dan sedih. Kadang-kadang, rasa kecewa ini muncul bersamaan dengan penghakiman sepihak dari kamu. Padahal kamu tahu kalau judgement atau sikap menghakimi selalu menimbulkan masalah.

Semua orang berhak mendapat kesempatan untuk menjelaskan, ‘kan?

Sikap judgmental membuatmu merasa tahu segalanya tanpa konfirmasi siapa pun. Padahal justru sebaliknya. Kamu tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada orang lain. Kamu tidak pernah tahu apa yang terbaik bagi orang lain – bahkan mungkin bagi diri kamu sendiri.

Ya, siapa pun tak tahu apa-apa tentang siapa saja.

1Marah yang positif & ‘membangun’

Ekspresi marah memiliki stigma tersendiri. Padahal, marah merupakan emosi yang normal. Adapun dampak buruk dan baiknya, tergantung bagaimana kamu meng-handle-nya. Bahkan jenis kemarahan ini menjadi solusi bersama.

Bisa dibayangkan kalau kamu pura-pura tidak marah ketika sahabatmu menyebarkan nomor kontak tanpa permisi, ketika pasanganmu menutup-nutupi sesuatu, ketika atasanmu terlambat memberikan gaji, ketika orang tuamu menuduh yang tidak-tidak, ketika rekan kerjamu memfitnahmu, dsb.

Apa kepura-puraan itu akan membuat segala sesuatunya baik-baik saja? Bagaimana kalau semua itu terulang, lagi dan lagi?

Tidak diperlakukan sesuai keinginan itu memang menyebalkan. Kamu perlu waktu untuk mendinginkan gemuruh di hatimu. Berpikir saja dulu sebelum memuntahkan teriakan, kata-kata kasar, atau kalimat menyakitkan.

Utarakan dengan jujur kalau kamu marah dan kecewa. Pilih dan rangkai kata, agar sasaranmu tidak merasa tersudut, dihakimi, atau dilecehkan.

Kalau mampu melalui tahap ini, setidaknya kamu sudah melakukan ‘triple kill’.

Pertama, kamu bisa mengendalikan emosi. Kedua, kamu bisa mengekspresikan perasaan jujurmu. Terakhir, kamu bisa mengkomunikasikannya tanpa memantik masalah lain yang lebih besar dan rumit. Demikian, 4 Jenis Marah, Kamu Lebih Sering Melakukan yang Mana? #RD

SHARE

4 COMMENTS

  1. saya jarang marah. jarang sekali.

    namun, dikala saya mengenang histori kesalahan yang saya lakukan di masa lalu, nah disaat itu lah saya marah dan kecewa pada diri sendiri. mengapa aku melakukan hal itu? jika tidak kulakukan aku tidak akan seperti ini, dans eterusnya

    • Ah, marah terhadap diri sendiri ya, Mas Sabda. Perlu perlawanan juga untuk melepas itu semua. Untuk tidak fokus pada yang sudah2, yang jelas2 tidak bisa diedit lagi. Tapi mesti fokus pada langkah ke depannya..

    • Kadang2 saya pun begitu, Mbak. Kalau sedang marah, sering “menghindari” manusia, sebab takut membludak ke mereka, gitu. Heuheu … iya nyesek :’)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.