Home My Files Diary Tentang Inspirasi dan Motivasi Jangan-Jangan Kamu Sendiri yang Jadi Orang Toxic

Jangan-Jangan Kamu Sendiri yang Jadi Orang Toxic

0
SHARE
orang toxic, cara menghadapi orang toxic, jangan-jangan kita sendiri yang toxic, orang tua toxic, arti orang toxic
Image via: adammaynard.co

Siapa yang suka orang toxic?

Bahkan postingan di internet pun banyak yang bernada ‘benci’ terhadap orang toxic. Kita membahas tentang ‘ciri orang toxic yang patut diwaspadai’, ‘alasan kenapa kamu harus putus hubungan dengan orang toxic’, atau ‘cara agar tidak berurusan dengan orang toxic’.

Semuanya seakan tentang mereka, tentang orang lain.

Kadang-kadang kamu sudah menjalin hubungan dengan orang baik. Mereka menghormatimu, tidak melakukan kekerasan/pelecehan padamu, tidak menipumu,  tidak menjatuhkanmu, dll. Tetapi pada akhirnya, kamu dan mereka mesti ‘renggang’ juga.

Misalnya kamu dan kekasihmu. Kadang kalau putus tanpa kesalahan apa pun dari pihak lain, maka akan keluar istilah ‘dia terlalu baik bagi saya’ atau ‘saya tidak pantas mendapatkannya’.

Si ‘dia’ itu sebenarnya bukan tipikal orang toxic, tetapi mungkin saja dia memang bukanlah sosok yang sedang kamu butuhkan.

Contoh lain, kamu dan keluargamu. Kamu hidup bersama mereka yang mencukupi semua kebutuhanmu. Mereka tidak memerasmu, tidak memukulmu, tidak berkata-kata kasar padamu, tetapi mereka memang sempat ‘memaksamu’ untuk menuruti jalan karier tertentu. Sebenarnya mereka tak bisa otomatis dilabeli toxic, sebab ada alasan kuat di baliknya.

Contoh lainnya masih banyak. Entah itu kamu dan sahabatmu, kamu dan tetanggamu, kamu dan rekan kerjamu, dst.

Mereka bukan monster yang isinya negatif melulu, tetapi mungkin kekhilafan dan kekurangannya sebagai manusia tidak bisa kamu handle dengan baik.

Mungkin juga, kamulah sebenarnya yang menjadi orang toxic.

Seringkali kamu tidak sadar, kalau sebenarnya orang-orang lain juga ‘susah-payah’ menjalin hubungan denganmu. Entah sebagai keluarga, sahabat, pasangan, teman kerja, dll. Mungkin mereka juga merasa kurang nyaman denganmu. Hanya saja mereka tidak bilang-bilang, dan kamu tidak menyadarinya.

Jadi, masalah itu kadang bukan tentang orang lain saja. Kamu juga bisa menjadi akar masalahnya.

Kamu terlalu fokus pada dirimu sendiri, sehingga selalu merasa paling sering berkorban, paling sering tersakiti, atau paling sering tidak dimengerti. Padahal orang lain pun bisa jadi merasa demikian.

Inilah salah-satu masalah besar orang toxic; yaitu selalu tidak sadar dan tidak tahu diri kalau dirinya itu memang toxic. Sehingga di matanya, semua orang lain itu salah dan hanya dialah yang benar.

Akhirnya semua pihak bisa berpeluang menjadi toxic.

Pada intinya tidak ada manusia yang sempurna. Tak perlu ada aksi saling menyalahkan. Tak perlu ada aksi saling menuding. Tak perlu ada aksi saling mengklaim.

Kamu tetap bisa menyayangi keluarga yang ‘memaksamu’ untuk mengikuti jejak karier tertentu. Tetapi usahakan, jangan sampai perbedaan keinginan itu memecah ikatan sebagai keluarga. Masih ada alternatif lain untuk menyelesaikannya.

Bisa dipastikan tidak ada keluarga, sahabat, pasangan, dll, yang akan sesuai dengan keinginanmu. Mereka akan tetap memiliki cela. Tetapi tidak apa-apa. Namanya juga manusia biasa.

Ada beberapa hal negatif dari orang lain yang bisa kamu maafkan. Demikian juga dengan hal-hal negatif dalam dirimu, yang mesti kamu maafkan juga. Seringkali hal-hal negatif itu bahkan ke luar tanpa sengaja.

Pada akhirnya, tak ada sosok yang benar-benar sempurna dan bebas toxic sama-sekali. Sosok itu termasuk diri kamu sendiri. Tetapi selama ketidaksempurnaan itu tidak fatal, kamu harus terus belajar mencintai dan mempertahankan hubungan yang sudah terjalin selama ini. Jangan dulu menghakimi. Jangan-jangan kamu sendiri yang jadi orang toxic. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eight + 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.