27 Ciri-Ciri Kalau Kamu itu Seorang Penulis Sejati

27 Ciri-Ciri Kalau Kamu itu Seorang Penulis Sejati

penulis, menulis, ciri ciri penulis, tanda penulis, profesi penulis, pekerjaan penulis, penulis adalah
Illustration: v0lha via Getty Images on irishtimes.com

Penulis itu siapa, sih?

Kalau secara bahasa, penulis ya orang yang menulis. Tetapi kita bisa lihat sekitar, hampir semua orang menulis. Pelajar menulis materi di bukunya, pedagang menulis pengeluaran & pendapatan di bukunya, orang lewat menulis di dinding yang dilaluinya, dsb. Hehe…

Well, ceritanya daku tengah mengotak-atik pesan di fesbuk. Daku enggak tahu ternyata ada banyak pesan seperti tersembunyi. Pokoknya banyak yang baru daku tahu. Nah, salah-satunya:

penulis sejati, penulis, ciri-ciri penulis, penulis sejati

Jadi bertanya-tanya sendiri; daku ini penulis, gitu?

Daku jadi kembali teringat pada seorang teman. Dia pernah bilang di depan mataku sendiri kalau daku ini penulis lantaran… suka ngeles.

What???

Beneran, dia bilangnya begitu. Waktu itu kami tengah ujian tertulis, dan kebetulan pengawasnya ke luar. Soal ujiannya menuntut pendapat pribadi, bukan textbook, jadi tak celah untuk menyamakan jawaban. Kebetulan kala itu jawabanku panjang. Hey, ujiannya memang meminta kita menulis opini. Dan, sudah naluriku untuk membeberkan segala yang ada dalam pikiran.

Temanku menambahkan, orang yang suka ngeles kalau disuruh menulis, pasti tulisannya panjang. Makanya daku bisa lancar menulis. Hohoho… entahlah. Waktu itu daku mustinya marah, tapi ujung-ujungnya malah bingung. Lagipula, coba kalau waktu itu daku ngeles, merasa menang nantinya. 😀

Sudahlah. Intinya percakapan kami itu selalu teringat dan jadi sumber renungan.  Nah, kembali lagi ke topik, tentang serentetan ciri atau tanda penulis sejati. Daku sampai melanglang buana di dunia maya. Isinya ternyata banyak.

Tetapi kalau dibikinkan list sih, berikut ini daftarnya. Jom!

menulis, mesin ketik penulis, penulis adalah, dunia menulis, ilustrasi penulis menulis, mesin ketik dan kopi
By: Kuu Hubbard via Behance.net

#1. Suka Membaca

Membaca bisa menghibur, mencengangkan, menginspirasi, dsb. Tergantung isi bacaannya. Pokoknya bagi penulis, membaca itu memang menghadirkan efek yang ajaib dan fun. Dia pun tak bisa lepas dari hobinya tersebut. Sumbernya sendiri bisa dari mana saja. Ya buku, blog, portal berita, dsb.

#2. Hobi Mengoleksi Kata-kata atau Kutipan

Quote atau kutipan bisa datang dari mana saja. Dari sopir angkot, dari film, dari penceramah, dari status sebuah akun, dsb. Ketika menemukan ada yang menarik, penulis akan segera “menangkapnya”.

#3. Cenderung Melankolis

Sosok yang melankolis itu begitu menekankan perasaan. Pokoknya sensitif dan peka. Namun apa yang dirasakan itu bisa diungkapkan lewat tulisan, dan biasanya pembaca akan hanyut juga. Entah dalam tulisan yang galau, mungkin terkesan lebay, romantis, dsb.

#4. Suka “Berpetualang”

Petualangan di sini maksudnya… kadang pikiran penulis itu (maaf) kerap tidak fokus pada satu tempat. Makanya suka ada kesalahpahaman kalau dia itu sering jadi pelupa, atau seperti tak memerhatikan. Padahal dia memiliki dunia lain yang sangat luas, yang dinamakan imajinasi. Somewhere only they know, gitu.

#5. Berwajah Dua

Ups!

Meski tidak selamanya, namun isi tulisan penulis seringkali justeru berbanding terbalik dengan kenyataannya. Topiknya tentang senyum, padahal realitanya justeru sedang sedih. Atau topiknya tentang sesuatu yang memotivasi, padahal nyatanya sang penulis sendiri sedang rapuh.

#6. Menulis Dirasa Lebih Baik Ketimbang Berbicara

Ada momen di mana orang ingin sekali bersuara lantang agar didengar. Entah pengin meluapkan unek-unek, menyatakan cinta, mengajukan komplain, dsb. Tak banyak yang bisa menahannya, kecuali penulis. Mereka bisa diam dan memendamnya. Bukan karena ciut, tapi karena… entahlah. Pokoknya dia lebih memilih mencurahkannya lewat tulisan.

Baca Juga :  Skandal Plagiat: Psikologi Para Plagiator Zaman Now

#7. Cenderung Pendendam

Dendam menjadi salah-satu rasa yang kerap hadir di hati manusia, termasuk penulis. Contohnya ketika penulis dicemooh seseorang lantaran dinilai abal-abal dan enggak mutu, maka ia akan ingat terus. Omongannya akan selalu terngiang. Namun masing-masing penulis memiliki aneka cara untuk membalaskan dendamnya. Ada yang memilih menjelek-jelekkan via tulisan, ada juga yang mengolahnya menjadi motivasi.

penulis, perempuan penulis, perempuan menulis, perempuan mengetik di laptop, penulis adalah, menulis di kafe, penulis dan kopi
Via: theodysseyonline.com

#8. Punya Naluri “Tulisan ini Bagus atau Tidak”

Penulis yang sudah berpengalaman atau baru merangkak biasanya memiliki “indera” tersendiri untuk menilai tulisan orang lain. Entah dari segi susunannya, pemilihan kosakatanya, maknanya, dsb. Penulis seringkali bisa menentukan, oh tulisan ini keren atau oh tulisan ini kurang dari segi anu.

#9. Penyendiri dan Suka Suasana Sepi

Rata-rata penulis menghabiskan waktu sendirian. Dia bukan antisosial, tetapi memerlukan me time untuk menuangkan isi hati dan pikirannya. Sebab terkadang suasana gaduh membuat otak jadi rusuh. Kecuali kalau musik favorit, yang kadang serasa sedang memijit.

#10. Perhatian

Bagi penulis, keramaian pasar itu bukan sesuatu yang mengganggu atau bikin sumpek. Demikian juga dengan beranda atau timeline yang selalu ramai. Terkadang ia justeru senang, sebab sudah mendapatkan berbagai ide atau inspirasi tulisan dari berbagai percakapan, status, atau kejadian di sekitarnya. Orang-orang mungkin tidak sadar kalau mereka tengah diperhatikan, tak lain dan tak bukan, yakni oleh sesosok penulis.

#11. Penasaran

Poin ini mirip dengan “perhatian” di atas. Penulis, disadari atau tidak, memang lebih condong untuk mengobservasi segala hal di sekitar. Ia bisa keukeuh merasa penasaran walau kata orang “biarin ajalah, ngapain dipikirin?!”. Misalnya ketika ada bocah yang kerap joget-joget di atas tower jaringan telekomunikasi, ketika ada kucing yang raut matanya selalu merengut, ketika penjaga kantin yang periang tiba-tiba murung, dsb. Penulis serasa tak bisa untuk tak peduli. Ia sebenarnya memiliki naluri untuk ingin tahu lebih banyak tentang segala sesuatu yang ditemuinya.

#12. Pendengar yang Baik

Penulis bisa membuka lebar mata, telinga dan pikirannya ketika ada orang yang curhat. Baik itu secara langsung, via telepon, atau juga tulisan. Ia selalu berusaha memposisikan diri sebaik mungkin. Bila perlu, ia justeru akan mengangkat cerita tersebut ke dalam tulisannya.

#13. Memiliki Dunianya Sendiri

Penulis adalah kreator, atau pencipta dari tulisannya sendiri. Untuk menuangkan rangkaian katanya, ia seperti memiliki “pabrik” tersendiri di “dunianya”. Ada yang bertugas mencari tema atau topiknya, mengumpulkan kata-katanya, menyusunnya, menambahkan efek indahnya, dsb. Semuanya bekerja tanpa disadari orang di sekitar.

#14. Punya Daya Imajinasi

Tinggi atau tidaknya imajinasi itu berbeda-beda. Tetapi penulis pada umumnya memang memiliki fantasi atau khayalan tersendiri, khususnya bagi yang menulis di ranah fiksi. Kadang-kadang karyanya bisa hadir lantaran penulis mengkhayalkan seseorang, berfantasi tentang suatu kejadian, berangan-angan ada di pulau antah-berantah, dsb. Dengan imajinasinya itu, penulis bisa melahirkan dunia beberapa tokoh atau karakter buatan sendiri.

Baca Juga :  Resensi Buku; Siluet Sang Perindu

#15. Menolak Plagiat

Rasanya sulit kalau penulis menulis dengan murni, tanpa inspirasi dari manapun. Tulisannya kerapkali tak lepas penulis-penulis terdahulu yang sudah ia baca. Namun penulis sejati akan terbuka jika ia memang mengutip atau menyadur suatu karya. Ia akan sangat terganggu apabila mencoba mengaku-ngaku sesuatu yang bukan ciptaannya. Ia juga akan otomatis merasa geram jika tindak plagiarism terjadi di sekitar. Contohnya pada pelajar yang dengan mudahnya mengunduh beragam tugas, lalu sampai tega mengganti nama penyusun asli dengan namanya. Ups!

#16. Tak Ada Pengalaman yang Sia-sia

Bagi penulis, segala sesuatu yang dianggap “apa-apaan” bukanlah sesuatu yang tak berguna. Misalnya ketika dikeluarkan dari kelas karena PR-nya kurang lengkap, ketika kucing lapar bermanja-manja ke betisnya, ketika basah kuyup kehujanan, ketika salah orang, dsb. Semua itu bisa jadi list untuk ditulis.

#17. Sangat Menghargai Tulisan

Zaman sekarang, penulis memiliki berbagai media untuk “mengandangkan” tulisannya. Entah itu di buku diary, di fitur note fesbuk, dalam buku yang diterbitkan (solo atau antologi), dalam blog, koran, dsb. Yang jelas, semuanya begitu berarti bagi penulis. Ia bisa jadi akan galau berkepanjangan apabila buku catatannya hilang atau lupa menyimpan.

penulis, perempuan penulis, ciri penulis, tanda penulis, pekerjaan penulis, profesi penulis, penulis dan kopi
Via: jackieleasommers.com

#18. (Sebenarnya) Ingin Diapresiasi

Cinta penulis pada dunia literasi atau kepenulisan memang besar. Ada penulis yang berterus terang ingin terjun karena bisa dikomersilkan (mendapat honor atau bayaran), pengin dikenal, diakui eksistensinya, dan pengin karyanya dinilai. Ada juga yang mengatakan kalau menulis itu panggilan hati. Dia terus menulis walau tanpa ada bayaran atau pujian. Dirinya percaya kalau uang, popularitas, atau review bagus dari pembaca itu merupakan bonus atau “efek samping” dari passion yang dijalaninya.

#19. Menulis Sudah Dianggap Sebagai Terapi Tersendiri

Seseorang berpeluang untuk tak stabil. Begitu juga dengan penulis. Dia bisa stress atau depresi, kecewa atau marah, cemas atau takut, dsb. Namun ia memiliki senjata tersendiri untuk mengatasinya, yakni dengan terapi menulis. Jika sesuatu yang mengganjal belum ditumpahkan lewat tulisan, rasanya nyesek.

#20. Banyak Pikiran

Salah-satu nasihat yang sering digaungkan orang adalah… jangan banyak pikiran. Namun bagi penulis, kebiasaan ini tak bisa dihindari dengan mudah. Selalu ada saja yang mengisi pikiran, membuat otak kita jadi tambah sibuk.

#21. Sangat Mengapresiasi Apresiasi Pembaca

“Tulisanmu bagus”, “sangat menginspirasi”, “indah!”, “jatuh cinta sama karyamu”, dsb. Semua lontaran pujian itu sekali atau beberapa kali datang pada penulis. Tentu saja menyenangkan, tetapi si penulis tidak tinggi hati. Ia justeru terkadang merasa takut kalau tulisannya, suatu saat, berubah mengecewakan. Karena itu, semua pujian bukan mengantarkannya pada rasa bangga dan jumawa. Ia justeru semakin tertantang dan termotivasi untuk lebih banyak belajar.

#22. Kebal Kritik

Kritikan pedas-manis atau bahkan olok-olok kemungkinan bisa jadi santapan sehari-hari penulis. Tetapi dia sudah memiliki “saringan” tersendiri. Dari sekian komentar galak yang hadir, ia mencomot sesuatu yang sekiranya memang musti diperbaiki. Untuk kata-kata kasar nan menyakitkannya dibuang saja. Semua itu jadi pembelajaran, bahwa segala gerakan atau perjuangan itu tak akan lepas dari cobaan. Namun ia percaya, selama kegiatannya baik dan benar, Tuhan YME akan menolongnya.

Baca Juga :  11 Penulis Perempuan Berbakat dan Tercantik Di Dunia

#23. Meracik Rasa Iri Jadi Motivasi

Penulis sudah pasti membaca tulisan orang lain juga. Semakin banyak membaca, semakin ia sadari bahwa banyak sekali yang lebih bagus. Kala itu, perasaan iri atau cemburu datang tak terelakkan. Namun penulis tak berniat untuk menghancurkan atau menjatuhkan seseorang yang lebih baik darinya. Ia justeru serasa “tertampar” untuk terus belajar memperbaiki tulisan serta lebih berkarakter lagi.

#24. Tidak Baper Pada Dunia Menulis

Salah juga kalau ada yang menganggap penulis dan dunia menulis itu bahagia sepanjang masa. Ada momen menyebalkan juga. Katakanlah ketika penulis dicaci-maki atau dipreteli kekurangannya di depan publik, ketika penulis berhadapan dengan fenomena writer’s block, ketika penulis tak mendapat imbalan apa-apa, dsb. Namun semua pengalaman itu tidak lantas membuatnya baper, lalu balik kanan dari menulis. Entahlah, pokoknya dia tidak bisa putus. Tahu saja kalau dirinya tak akan bisa move on dari menulis.

#25. Menjadi Pelajar Abadi

Ada beban tersendiri bagi penulis untuk terus menjaga mutu atau kualitas tulisan. Kalau seorang murid bisa lulus dari sekolahnya, dia justeru menjadi pelajar abadi. Dia tak pernah mencapai kata “cukup” dalam hal belajar. Selalu ada saja yang musti direvisi, diperbaiki, atau ditingkatkan. Baik dari segi penggunaan kosa katanya, tata bahasanya, teknik penyajiannya, pesan tulisannya, dsb.

#26. Mengutus Kata untuk Memberikan Makna

Penulis sudah menelan banyak sekali efek baik dari menulis, dia pun ingin pembacanya merasakan hal yang sama. Untuk itu, sebisa mungkin dia menyajikan karya yang bermanfaat. Selalu ada pesan atau makna kebaikan yang diselipkan di tiap rangkaian katanya.

#27. Konsisten, Tak Bisa Tanpa Menulis

Ada kegalauan tersendiri ketika hari-hari penulis dilalui tanpa menulis. Dia seperti kehilangan separuh jiwanya. Bagaimanapun, dirinya begitu berterima kasih pada menulis. Dengan menulis, dia bisa merasakan kebahagiaan dan kepuasan tersendiri. Menulis mengajarkannya untuk lebih bijak, lebih lembut, lebih tahu, lebih paham, dan pokoknya lebih baik. Karena itu, dia memilih untuk konsisten menulis.

~

Penulis tak wajib memiliki semua tanda di atas, ya. Hanya saja dominannya memang demikian. Nah, daku pungkas postingan ini dengan quote atau kutipan dari Richard Bach, ya. Katanya; penulis profesional adalah penulis amatiran yang tak pernah berhenti atau mengundurkan diri. 27 Ciri-Ciri Kalau Kamu itu Seorang Penulis Sejati. #RD

You May Also Like

4 Comments

  1. Hmmmmm…… bnr lgi … bbrpa hal memang ada di saya, tp akhir2 ini lg gak mood menulis postingan, lg doyan membc nyasar dr blog ke blog dan kemudian “nyampah” ngomen disana. Semoga gak keberatan yah…

    Oia. Lam kenal .

    1. Mungkin sedang capek atau bagaimana. Nanti biasanya semangat nulisnya muncul lagi. Aamiin… Wah sangat tidak keberatan kok, Mbak. Haha…

      Salam kenal juga, ya. ^_^

Comments are closed.