3 Solusi Ketika Anak Broken Home Terus Berkata Negatif Pada Diri Sendiri

2
SHARE
berkata negatif pada diri sendiri, bicara negatif pada diri sendiri, anak broken home, contoh pikiran negatif, berpikir negatif, penyebab orang berpikir negatif
Image via: blog.trello.com

Bagaimana perasaanmu ketika memosting foto selfie, lalu ada yang komen, ‘ih postur tubuhnya gak ideal’?

Atau ketika kamu mengunggah karya (tulisan, lukisan, video cover lagu, dll), lalu ada yang komen, ‘jelek banget’?

Secuek apa pun sama komentar orang lain, seringkali rasa sakit dan tersinggung itu ada. Manusiawi, ya. Memang banyak orang, terutama di media sosial, yang begitu kritis. Seakan-akan siapa pun yang dikomennya itu tumbuhan yang enggak punya perasaan, sehingga ujarannya kadang seperti tanpa saringan.

Padahal kita ‘kan manusia juga.

Kalau kita tipikal orang yang mudah percaya dan mengizinkan komentar negatif itu merasuk dalam jiwa, tentu kita akan down. Ke depannya jadi malas lagi untuk berkarya. Rasa percaya diri juga ikutan merosot.

Efeknya ngeri juga, ya?

Tanpa sadar, komentar negatif juga kerap muncul dari dalam diri sendiri. Ya, kita sering bicara pada diri sendiri atau self-talk. Ada yang positif, banyak juga yang negatif.

Khusus bagi anak broken home, ada suara batin yang berusaha meyakinkan kalau kita itu rapuh, tidak berharga, dan tidak layak bahagia. Suara tersebut begitu jahat dan berbahaya, sebab orang lain tidak mendengarnya. Hanya diri sendiri saja.

Kalau kita larut dalam suara-suara negatif ini, bukan tidak mungkin kita akan terjebak pada depresi dan kecemasan berkepanjangan.

4 tipe omongan negatif diri sendiri

self talk adalah, bicara buruk pada diri sendiri, negatif pada diri sendiri
image via: produktivitasdiri.co.id

Dirilis dari Mayo Clinic, ada 4 tipe negative self-talk yang tanpa sadar suka dilakukan:

#1. Filtering (penyaringan, pilih-pilih)

Dalam setiap keadaan, kita selalu fokus pada sisi negatifnya saja. Misalnya hari ini bapak dan ibu cekcok, lalu kita mengeluh dan larut terhadap keadaan buruk tersebut. Saking pilih kasihnya sama hal negatif itu, kita sampai lupa kalau hubungan sama adik-kakak masih harmonis, badan masih sehat, jualan di olshop masih berjalan, dll.

Baca Juga :  Sulitnya Meluluhkan Hati Anak Broken Home!

#2. Personalizing (bikin kesimpulan sendiri)

Tandanya, kita selalu menyalahkan diri sendiri dalam setiap keadaan negatif. Misalnya ketika rencana reuni keluarga besar dibatalkan, kita langsung berasumsi mungkin anggota keluarga tidak suka karena kita mau datang.

#3. Catastrophizing (suuzon terus akan terjadi malapetaka)

Tipe yang satu ini penuh dengan sangkaan buruk. Misalnya ketika beres-beres rumah, pigura atau frame foto keluarga jatuh, lalu kita menyimpulkan kalau hari itu akan ada kejadian buruk yang menimpa keluarga.

#4. Polarizing (polarisasi)

Tipe ini juga penuh dengan penghakiman pada diri sendiri. Misalnya ketika orang tua cekcok, lalu kamu berteriak lepas kendali. Di saat itu kamu langsung memvonis diri sebagai anak durhaka, adik yang kurang ajar, dan kakak yang tidak bisa jadi role model.

Keempatnya manusiawi jika terjadi. Toh kita memang manusia biasa. Namun perlu juga bagi kita untuk mengendalikannya.

Apalagi keempat tipe tersebut berpusat dalam pikiran diri sendiri. Kalau semakin dibiarkan, bahkan dilayani, bukan tidak mungkin pikiran tersebut menjelma menjadi  semacam keyakinan.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Keempat tipe omongan negatif diri sendiri lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya. Kita jadi cemas, takut, dan ragu sendiri. Luay Rahil dari Lifehack memberikan 3 solusi:

1Suara negatif harus direspons, jangan diabaikan

Image via: shutterstock.com

Jika volume suara negatif itu keras, kita perlu menurunkannya. Jika suara negatif itu agresif, kita perlu menenangkannya. Ketika memang terjadi hal-hal buruk, upayakan untuk memaafkan diri sendiri, mengambil pelajaran, move on, dan melanjutkan kehidupan – bukan malah larut dalam hal buruk tersebut.

Misal ketika diri sendiri membully, ‘kamu bukan anak yang baik’. Respons dengan, ‘saya bukan nabi, bukan manusia sempurna, tidak apa-apa’. Namun respons tersebut sebaiknya lembut saja. Tidak sekeras, sekasar, dan seagresif suara negatif.

Baca Juga :  11 Rahasia Anak Broken Home yang Sering Disembunyikan, Maaf Dibocorkan!

2Berdamai dan beramah-tamah dengan diri sendiri

Image via: hepatitisc.net

Kalau orang lain atau haters berkata negatif, kita tidak bisa mengontrol mereka. Kita tidak bisa mematahkan jari atau membekap mulut mereka. Tetapi kalau perkataan negatif dari diri sendiri, kita punya wewenang penuh untuk mengendalikannya.

Usahakan untuk tidak mengatakan kata-kata yang sekiranya tidak akan pernah kita katakan pada keluarga atau sahabat sendiri.

Tetap baik pada diri sendiri ketika kalah dalam pertandingan, tetap baik pada diri sendiri ketika vonis perceraian orang tua sudah sah, tetap baik pada diri sendiri ketika usaha belum membuahkan hasil, dst.

Kita semua pernah lupa, pernah khilaf, punya kekurangan, dan punya takdir yang tidak selalu sesuai harapan. Namun semua itu tidak menjadikan kita sebagai manusia paling terkutuk.

3Tekan ambisi untuk menjadi sempurna

Image via: istockphoto.com

Semakin mencari kesempurnaan, kita akan semakin tidak menemukannya. Sebab kesempurnaan itu memang tidak ada.

Justru manusia itu penuh dengan ketidaksempurnaan. Tetapi hal tersebut wajar. Kita justru mesti menerima dan merangkul ketidaksempurnaan itu.

Tidak perlu menetapkan standard tinggi bahwa keluarga kita harus harmonis sempurna, pasangan harus sempurna mesranya, keadaan keuangan harus sempurna berkecukupan, gaya hidup harus sempurna mengikuti zaman, dll.

Jika begitu, biasanya kita akan tergoda untuk membanding-bandingkan diri. Lalu ketika ada yang lebih baik, kita mulai mengutuk dan menghujani diri sendiri dengan perkataan buruk. Kita bahkan jadi lupa untuk mensyukuri apa yang kita punya sekarang, sebab pikiran ini melayang pada sesuatu yang tidak ada dalam genggaman.

Tentu saja hidup tidak selamanya berisi positive vibes, tidak selamanya penuh senyuman, dan tidak selamanya mendatangkan kedamaian. Namun perkataan negatif dari dan untuk diri sendiri tidak akan membantu apa-apa, justru memperparah keadaan. 3 Solusi Ketika Anak Broken Home Terus Berkata Negatif Pada Diri Sendiri. #RD

Baca Juga :  11 Quotes Broken Home Bahasa Inggris dan Artinya
SHARE

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

ten + twenty =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.