5 Alasan Kenapa Terlalu Positif itu Bisa Jadi Enggak Baik

0
SHARE
terlalu positive thinking, terlalu berpikir positif bisa jadi tidak baik, terlalu positive thinking aja, kata bijak positif thinking
Image via: pexels.com

“Positive thinking is like alcohol: it makes you feel good for a little while, but if you do it too much you won’t know what’s real anymore.”

Itu kata Mark Manson, penulis buku “The Subtle Art of Not Giving a F*ck”. Artinya, berpikir positif itu seperti alkohol: cuma bikin kamu baikan sementara waktu, tapi jika kamu terlalu banyak berpikir positif … kamu tidak tahu lagi apa itu nyata’.

Lalu dr. Jiemi Ardian juga ngetwit, ‘Studi neurosains menunjukkan orang yang over-positif terjadi karena dia mengabaikan hal yang negatif. Bisa jadi kontraproduktif, karena kita abai bahkan menyangkal adanya tanda bahaya.’

~

Saya sendiri sangat suka terhadap orang yang menebarkan positive vibes. Entah itu positif dari segi kata-kata, pemikiran, postingan, sikap, dll.

Tetapi harus diakui, sesuatu yang berlebihan – termasuk terlalu positif, tidak akan berakhir baik. Apalagi kalau penggunaannya keliru. Nanti bisa jadi ‘senjata makan tuan’.

Berikut ini 5 alasan kenapa terlalu positif itu enggak baik:

1Terlalu positif, sampai mengabaikan negatif

Fake Happy – Paramore

Tidak hanya positif saja yang ada, negatif juga ada. Jangan sampai pilih kasih.

Kita melihat positif sebagai senyuman, kebahagiaan, optimistis, dll. Kita sangat sayang terhadap emosi-emosi tersebut. Lalu kita memandang negatif sebagai tangisan, penderitaan, amarah, ketakutan, dll. Kita sangat membenci bahkan mengutuk emosi-emosi itu.

Bahkan kita menganggapnya tidak ada. Sehingga kita terjebak pada sikap ‘pura-pura bahagia’ atau ‘bibir tersenyum dan hati menangis’.

Kita tidak hanya berbohong pada semesta, tapi juga pada sanubari sendiri.

Padahal sebaiknya kita membiarkan diri sendiri menerima dan merasakan emosi apa pun. Kalau sedang sedih dan ingin tersedu-sedan, silakan lakukan. Jangan sampai memendamnya, mengusirnya, dan memaksakan bibir untuk mengulum senyum saja.

Baca Juga :  8 Hal yang Harus Diingat Ketika Kamu Mulai Membandingkan Diri dengan Orang Lain dan Tidak Bersyukur

Bagaimana pun, kita hanya manusia biasa. Justru dengan adanya emosi positif dan negatif, kita tumbuh dan berkembang. Inilah hidup di dunia. Inilah realita.

2Munculnya ilusi atau khayalan

Image via: pixabay.com

Terlalu positif dan optimis bisa jadi mengaburkan sikap objektif kita. Sehingga menganggap kalau kita ini “bebas” dari risiko atau bahaya. Semuanya pasti sesuai dengan harapan dan rencana.

Misalnya ada seorang lelaki yang mengejar wanita impiannya. Ketika sang wanita memberikan respons negatif, dia tidak memerdulikannya, dan berkeyakinan kalau wanita tersebut akan jatuh hati padanya dan bersedia menikah dengannya. Sikap terlalu optimis membuatnya tidak bisa melihat ciri penolakan. Dalam pikirannya hanya terdapat keindahan dan kebahagiaan, sebab sudah muncul ilusi atau khayalan bahwa wanita pujaannya memiliki perasaan yang sama.

Padahal sikap ini risikonya tinggi, bisa sangat sakit hati.

Demikian juga dengan orang yang hobi main judi. Terlalu positif membuat rasa percaya dirinya meroket. Dia bahkan sampai sudah membayangkan, kalau menang, uangnya akan diapakan. Padahal risikonya dia bisa memasang nominal tinggi dan kalah telak.

3Cepat puas

Image via: peterstark.com

Sikap positif dan optimis yang ekstrem bisa memunculkan bayangan indah pada sesuatu yang belum terjadi. Ketika memikirkan soal sekolah, mereka sudah membayangkan akan menjadi murid terbaik. Ketika memikirkan soal kompetisi, mereka sudah membayangkan akan menjadi pemenang. Ketika memikirkan soal undian, mereka sudah membayangkan akan menggenggam hadiah.

Tetapi ketika menjalankan prosesnya, energi dan motivasi mereka belum tentu seirama. Rasa terlalu percaya diri itu justru bisa mengelabui.

4Jadi beban

Image via: metro.co.uk

“Bersikaplah positif!”, “berpikir positiflah!”, “yang baik yang positif-positif aja!”, dst. Jargon-jargon semacam ini memang bagus. Namun tidak perlu tunduk juga. Jangan sampai ketika diterpa keadaan atau emosi negatif, lantas menekankan pada diri sendiri untuk tetap positif.

Baca Juga :  3 Syarat dan Ketentuan Berlaku Kalau Ingin Berubah Menjadi Lebih Baik

Mirip ketika kamu makan sate ayam, lalu dagingnya belum matang dan keras, tetapi kamu tertekan merasa tidak enak untuk bilang sejujurnya. Sehingga kamu memaksakan diri untuk mengatakan, ‘sate ini enak, saya akan makan banyak banyak’. Padahal lidah, perut, dan ususmu tersiksa.

5Dihantui rasa bersalah

Image via: dnaindia.com

Maraknya “paksaan” untuk berpikir negatif, membuat sebagian orang jadi tersudut. Misalnya ketika ada orang yang dilanda musibah, orang-orang lain menyarankan agar dia positive thinking saja. padahal orang tersebut sudah kehilangan harta benda, bahkan orang-orang terkasihnya. Jauh dalam hati, bisa saja dia merasa stres berat atau depresi.

Orang-orang memintanya untuk tetap positif, tapi dia tetap tidak bisa bersikap demikian. Maka dia merasa bersalah karena merangkul perasaan yang sebenarnya, yakni stres berat dan depresi. Hal ini memperparah keadaan, sebab dia cenderung larut dalam derita. Sehingga berpeluang “menular” ke korban musibah lainnya.

Tentu saja orang-orang yang menyebarkan aura positif itu memiliki niat dan tujuan yang baik. Hanya saja, tidak semuanya cocok dan berhasil. Apalagi kalau berlebihan.

Kadang-kadang yang kita bisa hanya menerima keadaan negatif itu, lalu pulih secara perlahan-lahan. Bagaimana pun, emosi itu tidak memiliki saklar yang bisa ditekan dan langsung berubah.

Kalau pun orang lain yang sedang didera hal-hal negatif, kadang-kadang mereka tidak memerlukan quotes, caption, ceramah, nasihat, dll – melainkan keberadaan orang-orang yang mendukungnya. 5 Alasan Kenapa Terlalu Positif itu Bisa Jadi Enggak Baik. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.