5 Tahap Berduka, di Awal Saja Sulit Menerima

0
SHARE
tahap berduka, tahap berduka dan kehilangan, tahap kehilangan, berduka cita, kata kata berduka, kata kata berduka cita
Image via: hbr.org

Ketika terjadi kemalangan, menerima kabar buruk, atau didera rasa kehilangan … apa kamu pernah menolaknya? apa kamu tidak bisa langsung menerimanya?

Postingan ini terinspirasi dari utasnya Psikiater Andreas Kurniawan. Dia juga menukil teorinya Kubbler Ross yang klasik, tapi masih relevan sampai sekarang.

Ketika berduka, pada tahap awalnya, kita memang cenderung tidak bisa menerima apa yang terjadi. Tahapannya ada 5:

1Denial (penyangkalan)

Ketika hal buruk terjadi, kita langsung bereaksi merasa kaget dan bahkan tidak percaya. Kadang ketika seseorang menerima kabar kematian, dia langsung berujar, ‘ah masa sih?’ atau ‘enggak mungkin!’.

Meski sudah ada fakta, seringkali dia masih sulit menerima. Bahkan dia merasa kalau orang yang meninggal tersebut masih ada dan sedang beraktivitas seperti biasa.

Saya sendiri jadi ingat ketika kakak dan sahabat meninggal. Memang di awal-awal, saya sulit menerima kalau mereka sudah tiada di dunia.

2Anger (marah)

Setelah masa-masa menyangkal reda, seseorang yang berduka akan mulai marah dan menyalah-nyalahkan. Mungkin menyalahkan dokter yang menangani orang yang sudah meninggal itu, mungkin menyalahkan pihak keluarga yang dianggap terlambat membawanya ke rumah sakit, mungkin menyalahkan Tuhan, atau mungkin juga menyalahkan diri sendiri.

Dia kemudian banyak bertanya ‘kenapa meninggal dengan sangat cepat?’, atau malah menggerutu, ‘ahhh nyesel dulu semasa hidup jarang menghabiskan waktu bersama!’.

3Bargaining (berandai-andai)

Mulai ada pikiran-pikiran kalau saja waktu bisa kembali diputar. Otaknya akan berpikir, ‘kalau aja dibawa ke RS Y bukan RS X’, ‘kalau aja ditangani oleh dokter anu’, ‘kalau aja penyakitnya ketahuan sejak dulu’, ‘kalau aja lewatnya enggak ke jalan anu’, dst.

4Depresi

Tahapan ini memang wajar terjadi. Kita pasti tertekan jika orang tersayang meninggal. Kita mulai sadar bahwa raganya sudah tidak ada, sehingga tidak bisa lebaran atau jalan-jalan bareng.

Baca Juga :  6 Kekacauan Akibat Self Diagnosis, Sekadar Mengingatkan Agar Tidak Tuman

Masa-masa ini cukup krusial. Ada yang tenggelam dalam kesedihan, tetapi mulai sadar kalau hari yang kelabu akan segera berlalu. Ketika kakak saya meninggal, saya menghibur diri dengan pikiran bahwa dunia dan seisinya hanya sementara. Bahwa saya pun akan menyusul kakak.

Namun hati-hati jika sampai ada yang depresi berkepanjangan, saking larutnya dalam rasa sedih dan kehilangan. Jika tidak bisa dihadapi oleh orang-orang terdekat, sebaiknya melibatkan penanganan psikoterapi.

5Acceptance (Penerimaan)

Tahap ini masih bukan akhir, tetapi masih proses. Rasa sedih, kehilangan, dan kerinduan itu tetap ada. Namun mulai ada kesadaran bahwa;

apa yang terjadi sudah tidak bisa diubah, apa yang terjadi merupakan kuasa Tuhan YME – di luar kendali manusia, bahwa semua yang bernyawa pasti meninggal, dst.

Lama-lama bisa menerima, tetapi tidak lantas memupus lara yang terasa.

Masing-masing orang bisa memiliki tahapan berduka yang berbeda. Ada yang cukup cepat, ada juga yang sangat terlambat.

Tetapi biarkan saja emosi sedih dan penyesalan itu datang. Menangislah jika diperlukan. Tidak perlu juga melarang-larang orang, lelaki atau perempuan, untuk menumpahkan air matanya.

Semua manusia tentu pernah merasakan tahapan berduka. Namun semoga kita semua bisa saling menguatkan, memaafkan diri sendiri dan keadaan, serta pulih dari semuanya. 5 Tahap Berduka, di Awal Saja Sulit Menerima. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.