6 Alasan Kenapa Pemberian PR itu Kurang Baik Bagi Siswa SD

6 Alasan Kenapa Pemberian PR itu Kurang Baik Bagi Siswa SD

6 Alasan Kenapa Pemberian PR itu Kurang Baik Bagi Siswa SD, dampak PR, efek negatif PR, PR bagi siswa SD, anak SD stress karena PR
By: AnnVP on DeviantArt

Bisa dibayangkan, kalau ada anak SD yang “nyasar” ke sini, senyuman ­kiyut-nya pasti muncul. Hehe…

Sungguh, tulisan ini tak berangkat dari pengalaman burukku tentang PR di masa SD dulu. Malah, daku tak terlalu ingat. Hanya saja, kebetulan dua keponakanku merupakan murid Sekolah Dasar.

Daku kadang tercenung ketika mereka asyik bermain, lalu orang tuanya datang tergopoh-gopoh, hanya untuk mewartakan kalau mereka masih memiliki PR yang musti dikerjakan. Walau masih anak-anak, tapi mereka juga tentu saja sudah memiliki yang namanya mood atau suasana hati. Retaklah selera bermain mereka kala itu. Duh!

Kita, orang yang lebih dewasa, secara tidak langsung sudah merenggut HAA aka Hak Azasi Anak, bukan? Untuk bermain, maksudnya.

~

Setelah searching, daku “bertemu” dengan Harris Coopers. Beliau mengklaim sudah melakukan penelitian mendalam terhadap PR selama 25 tahun lamanya. Beliau juga sudah menerbitkan buku terkait, dengan judul “The Battle over Homework: Common Ground for Administrators, Teachers, and Parents”. Hasilnya tentu terurai panjang, ya. Tapi intinya;

“PR itu meluluhlantakkan siswa, khususnya yang masih SD.”

Penemuan Pak Coopers memang anti-mainstream. Pasti ada pengajar, pendidik, atau orang tua yang kontra. Namun tidak dengan seorang profesor pendidikan di Universitas Arizona, Etta Kralovec. Beliau juga bilang,

“PR itu ndak ada untungnya bagi siswa SD.”

Baiklah… daku juga penasaran, kenapa PR itu bisa berdampak kurang baik sama anak SD, ya? Jom!

#1. Pandangan Anak Sama Sekolah Jadi Negatif

Namanya juga anak-anak, sekolah tentu masih menjadi hal yang cukup asing. Mereka perlu pendekatan dan adaptasi agar bisa menerima atau menyukai hal-ihwal sekolah. Kalau bisa, guru mustinya menanamkan kesan menyenangkan. Hal tersebut bisa diciptakan dengan proses belajar-mengajar yang fun.

 

Sayangnya, PR kadang membuat mereka stress atau terbebani. Jadinya mereka akan sedikit kesulitan untuk mencintai sekolah. Mereka menganggap kalau sekolah itu enggak asyik dan bikin pusing. Bahkan, bukan tidak mungkin kalau anak justeru akan balik membenci, memusuhi, bahkan melawan.

#2. Mengancam Hubungan Anak dan PR di Masa Depan

Pekerjaan Rumah mulai menunjukkan manfaatnya ketika level pendidikan meningkat. Jadi kalau anak SD tidak memerlukan PR, anak SMP atau SMA justeru mesti membawa “oleh-oleh sekolah” tersebut. Namun kalau sejak SD saja sudah kurang suka dengan PR dan sekolah, bagaimana nantinya?

#3. PR Sebelum Tidur? No!

Sebagian orang tua memberi keleluasaan bermain pada anak-anaknya. Hanya saja ketika malam tiba, mereka akan menjadi “alarm PR”. Anak-anak yang pulang mengaji, yang sudah menguap, yang pengin dibacakan dongeng, bahkan yang sedang sikat gigi pun akan dihalang-halangi waktu tidurnya sebelum mengerjakan PR. Padahal, apa iya PR adalah sesuatu yang mereka pengin sebelum beristirahat? Sepertinya tidak, ya?! Seperti halnya orang dewasa, anak-anak pun perlu relaksasi di malam hari.

PR, dampak PR terhadap siswa, sekolah, anak-anak, anak anak SD stress karena PR, efek PR terhadap anak SD
Via: kidspot.com.au

#4. Tujuan untuk Bersikap “Tanggung Jawab” Bisa Lenyap

Menugaskan PR itu bermanfaat agar anak belajar bertanggung jawab. Hal ini lebih berlaku untuk siswa dengan level pendidikan lebih tinggi dari SD, ya. Kalau sudah bicara tentang PR, anak-anak SD lebih sering diingatkan bahkan “diancam” orang tua, ketimbang dengan mengerjakannya karena panggilan jiwa. Mereka lebih fokus pada bermain, yang memang sudah menjadi haknya. Lagipula, mereka sudah biasa dengan orang tua yang suka mengingatkan PR, khususnya di malam hari sebelum tidur.

#5. Anak Terancam Merasakan “Masa Kecil Kurang Bahagia”

Sumber kebahagiaan manusia memang banyak ragamnya. Namun bagi anak-anak, kebahagiaan itu masih sangat simpel. Beberapa dari sekian sumber kebahagiaan itu adalah… mereka bisa bermain, melakukan aktivitas fisik, bersama teman-teman, dan berada di luar. Selain having fun, mereka juga memang memerlukan “pelampiasan” energi yang masih berapi-api. Olahraga juga, bukan? Kalau momen-momen tersebut terusik karena kehadiran PR, alangkah malangnya..!

#6. Anak-anak Harus Istirahat

Selain sekolah, seyogyanya anak-anak itu menikmati waktu dengan bermain dan mulai mengembangkan proses bersosial. Aktivitas itu saja sudah membuat mereka lelah. Karenanya, mereka berhak untuk beristirahat dengan baik.

Sementara itu, kebiasaan mengerjakan PR di malam hari membiasakan mereka untuk tidur agak larut. Apalagi kalau orang tua menerapkan aturan “pokoknya selesaikan PR dulu!” terhadap mereka. Padahal besoknya mereka musti berangkat dan menghadapi serangkaian aktivitas sekolah lagi. Belum lagi kalau yang anaknya sudah aktif dengan aneka kegiatan les juga? Tentunya mereka semakin butuh akan rehat yang berkualitas, ya?

Well, tentu saja, guru dan orang tua memiliki niat baik ketika memberikan PR pada anak. Namun kadang kita luput dengan kenyataan, kalau anak-anak SD masih dalam tahap “penjajakan” dengan dunia sekolah. Alangkah baiknya mereka dipupuk dengan kesan menyenangkan, dan pastikan kalau masa kanak-kanaknya benar-benar dinikmati dengan bijak. 6 Alasan Kenapa Pemberian PR itu Kurang Baik Bagi Siswa SD. #RD

You May Also Like

2 Comments

Comments are closed.