6 Catatan Tentang Memendam Emosi yang Tidak Direkomendasikan

0
SHARE
memendam emosi, memendam rasa, memendam rindu, memendam amarah, memendam perasaan,
Image via: anxietytreatmentadvisorscolorado.com

Apakah salah-satu ciri dewasa itu, ketika kita berhenti menceritakan apa yang kita rasakan pada orang lain?

Demikianlah pertanyaan seseorang yang baru lulus SMA. Saya menjawab tidak dalam kapasitas sebagai psikolog, psikiater, konselor, atau terapis. Saya hanya memberikan pendapat pribadi, bahwa ciri dewasa tidaklah demikian.

Hanya saja, semakin dewasa, kita akan dengan sendirinya lebih selektif memilih tempat curhat atau wadah untuk menampung emosi. Sebab, orang dewasa pun perlu support alias dukungan yang membantu diri untuk merasa lega dan pulih dari beban.

Lagipula, mengeluh dan menceritakan emosi terpendam pada orang yang tepat itu bukanlah tanda kelemahan, bukan?

Berikut ini 6 Catatan Tentang Memendam Emosi yang Ternyata Tidak Direkomendasikan:

1Emosi yang Terpendam akan Mengendap dan Semakin Berat

Semakin dewasa, luka demi luka semakin bertambah. Penyebabnya beragam. Tingkat kenyeriannya juga bervariasi. Jika terus ditumpuk, luka tersebut bisa membusuk.

Selain itu, semakin lama malah akan semakin banyak dan memberatkan. Jika emosi itu terus dibawa dan tidak dilepas, bukan tidak mungkin hidup kita akan terus terbebani. Tidak heran ada istilah ‘bom waktu’, yang merupakan momen meledaknya beban hati dan pikiran yang lama terpendam.

2Membicarakan Emosi yang Dirasakan

Salah-satu cara efektif untuk melepas beban emosi, yaitu dengan membicarakan apa pun yang dirasakan pada sosok pilihan. Pilih sosok yang terpercaya, memberikan kenyamanan, tidak menekan, tidak menghakimi, mampu memahami, dan mendengarkan apa pun yang kita utarakan. Kita bisa bicara langsung, chattingan, teleponan, dll.

3Menuliskan Isi Hati dan Pikiran

Image via: dumblittleman.com

Tidak semua orang bisa lancar dan fasih berbicara. Sebagian memilih media tulisan untuk menuangkan kecamuk hati dan pikiran. Sensasinya begitu plong. Apalagi kalau kita tidak perlu melakukan sensor apa pun terhadap tulisan tersebut.

Baca Juga :  6 Kekacauan Akibat Self Diagnosis, Sekadar Mengingatkan Agar Tidak Tuman

Lega rasanya menuliskan tentang rasa yang sudah lama dipendam, tentang rindu yang hanya terkurung dalam kalbu, tentang daftar orang-orang yang pernah membuat hatimu retak, tentang kekecewaan terhadap orang tua, tentang aneka pertanyaan terhadap Tuhan, dll.

4Mengikis Rasa Tidak Enakan

Sering terjadi, kita ingin mengeluh tentang Si A, tapi tidak mampu untuk bicara langsung. Paling banter kita mengeluhkannya pada Si B, Si C, Si D, dll. Padahal keterbukaan itu sangat membantu menjaga hubungan kita dengan Si A.

Misalnya kita suka tepat waktu, sedangkan Si A terlalu sering terlambat. Atau kita tidak suka asap rokok, namun Si A suka merokok sembarangan. Mestinya kita tidak pura-pura toleran. Tidak perlu merasa enggak enakan. Mestinya kita terbuka saja.

Asalkan disampaikan dengan cara yang tidak begitu menghakimi dan menyinggung. Misalnya, ‘maaf, ya, saya ngerti kamu pecandu rokok tapi saya kurang nyaman sama asapnya, nih…’ atau, ‘saya maklum alamat kamu memang agak jauh, ya, tapi saya akan sangat mengapresiasi kalau kamu datang tepat waktu’.

5Membebaskan Emosi dengan Cara yang Tepat

Emosi itu manusiawi. Mereka bukan para tersangka yang harus kamu penjara. Maka, sebaiknya bebaskan saja. Jika kita tidak “mood” membebaskannya dengan cara curhat atau menulis, masih banyak kegiatan yang bisa dipilih.

Misalnya kita menghabiskan waktu dengan mendengar dan menyanyikan lagu kesukaan, olahraga, belajar hal baru, dll. Poin pentingnya, sesuatu yang membantu kita melepas emosi itu tepat dan sehat.

6Alasan Memendam Emosi

Banyak hal yang membuat seseorang mengurungkan niat untuk membebaskan emosinya. Mungkin ada yang bingung hendak mulai dari mana, takut si pendengar tidak paham, takut hubungannya jadi renggang, ada harapan kalau orang-orang akan paham dengan sendirinya tanpa kita harus bicara, atau memang terpengaruh karakter introvert yang cenderung memendam pikiran serta perasaan.

Baca Juga :  Kisah Inspiratif; Sang Raja Budiman & Seorang Anak Miskin yang Galau

Apa pun alasannya, memang tidak mudah untuk tiba-tiba jadi terbuka. Tidak mudah untuk mengikis kebiasaan memendam pikiran dan perasaan. Perlu perjuangan tersendiri untuk mengekspresikan diri.

Tetapi, sebagai manusia biasa, kita tetap berhak menyampaikan isi hati dan pikiran. Selain itu, kita juga tetap memerlukan koneksi dengan yang lainnya. 6 Catatan Tentang Memendam Emosi yang Tidak Direkomendasikan. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 − six =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.