6 Kekacauan Akibat Self Diagnosis, Sekadar Mengingatkan Agar Tidak Tuman

0
SHARE
self diagnosis, self diagnosis adalah, self diagnosis artinya, self diagnosis awas tuman, akibat self diagnosis
Image via: studentnewspaper.org

Saya orangnya emang moody banget. Pagi ceria, siangnya marah-marah, pas malam mendadak melankolis. Jangan-jangan saya bipolar!

Saya ini sering halu (halusinasi), delusi, dan sulit konsentrasi. Fixed, saya menderita skizofrenia.

Saya ketagihan berbohong dan lihai berpura-pura. Apa saya ini psikopat, ya?

Apa kamu pernah menghakimi diri sendiri seperti di atas? Ya, mungkin gejalanya berbeda. Tetapi kadang kamu suka menyimpulkan sendiri, gitu.

Sesuai istilahnya, self-diagnosis adalah mendiagnosis diri sendiri secara mandiri tanpa konsultasi pada ahli.

Tidak hanya mental atau psikologis, kadang kamu juga terjebak pada diagnosis diri sendiri untuk penyakit fisik. Misalnya ketika pusing 9 keliling, kamu langsung mengaku-ngaku sebagai penderita vertigo.

Pernah seperti itu, tidak? Boleh enggak, sih?

Menurut Srini Pillay M.D. via Psychology Today, “self-diagnosis bisa menggiringmu pada jalan atau jalur yang salah”.

Mesin pencari dan media sosial

dokter google, self diagnosis, self diagnosis adalah, self diagnosis artinya, akibat self diagnosis
Image via: mygunnedah.com.au

Perilaku self-diagnose semakin parah ketika kita dimanjakan oleh internet. Kita bisa saja Googling atau menggali informasi lewat mesin pencari dan media sosial. Hampir semua data bisa ditemukan di sana. Termasuk tentang nama penyakit, cirinya, gejalanya, pengobatannya, atau pencegahannya.

Semua itu tentu menjadi info yang bagus. Malah wajar saja kalau kita mencari dan memperbanyak referensi. Masalahnya, banyak yang main hakim sendiri. Sampai-sampai kita mendiagnosis diri karena memiliki ciri atau gejala yang persis sama seperti dalam keterangan via Internet.

Self-Diagnosis dan kesalahpahaman yang bikin runyam

Ibaratnya kamu menemukan nomor baru yang mengirim emoticon berbentuk love pada ponsel pasanganmu. Kamu jadi gelisah sendiri. Makan dan tidur gak enak. Sebab pikiranmu sibuk menerka-nerka skenario yang ada.

Jangan-jangan pasangan balikan sama mantannya? Jangan-jangan pasangan sudah tidak sayang? Jangan-jangan pasangan sudah nikah siri? Jangan-jangan selama ini hanya jadi simpanan. Jangan-jangan….

Sampai kemudian kamu menyimpulkan kalau pasanganmu selingkuh. Lalu kamu curhat ke sahabat dan keluargamu bahwa pasanganmu mendua, bahkan kamu langsung konsultasi soal rencana meminta cerai saja. Dst.

Baca Juga :  15 Hal Sederhana yang Membuat Anak Kecil Merasa Sangat Dicintai, Istimewa, dan Bahagia

Mengerikan, ya?

Kesalahpahaman memang mengerikan. Semua jadi runyam dan kacau. Apalagi kalau kamu menjadi hakim untuk kasusmu sendiri.

Meski kamu lebih tahu tentang diri sendiri, kadang kamu perlu cermin untuk memeriksa lebih detail. Kadang kamu juga mesti melibatkan pihak lain, terutama ahlinya. Dalam hal ini, mestinya kamu konsultasi juga pada dokter, psikolog, atau psikiater.

Memangnya apa kekacauan yang ditimbulkan dari self-diagnosis?

1Salah diagnosis, salah penanganan

Image via: hbioedge.org

Kalau dari awal sudah salah mendiagnosis atau menentukan penyakit, tentu dampaknya berbahaya. Apalagi kalau kamu sudah bertindak. Misalnya kamu menyimpulkan dirimu sebagai penderita depresi, lalu kamu meminum obat psikotoprika atau antidepresan. Padahal bisa saja, ternyata “kelainan”  yang kamu alami tidak mengarah pada depresi.

2Peran dokter jadi rusak

Image via: appsychology.com

Kadang kamu merasa tidak percaya, bahkan mungkin takut terhadap dokter, psikolog, atau psikiater. Sehingga kamu nekad untuk melakukan segala sesuatunya “secara solo”. Padahal mereka merupakan orang-orang terdidik yang enggak bisa mendiagnosis sembarangan.

Selain itu, kepercayaan juga menjadi salah-satu kunci ikatan yang baik antara dokter dan pasien. Dokter pasti akan meminta kamu untuk menceritakan kondisi apa pun yang kamu alami. Mereka tidak mungkin tidak mendengar keluhanmu. Intinya, mesti ada diskusi terbuka.

Misalnya ketika kamu merasa mudah cemas, kamu langsung menjudge sudah menderita anxiety disorder. Padahal bisa jadi ketika ahli kejiwaan memeriksanya lebih detail, faktanya tidaklah demikian.

3Penuh prasangka buruk

Image via: independent.co.uk

Seringkali ketika tidurmu larut terus, kamu melabeli diri sebagai penderita insomnia atau gangguan tidur lainnya. Kamu memercayai diagnosis diri itu sepenuh hati. Kamu juga berprasangka dan bahkan percaya bahwa dirimu ada dalam masalah. Sehingga kamu hanya membuat keadaan jadi tambah kacau.

Baca Juga :  13 Tips Menjadi Lebih Percaya Diri

Padahal bisa saja kamu baik-baik saja. Bisa saja kamu ketagihan begadang karena data kuotamu masih penuh dan baterai ponselmu juga awet. Bisa jadi hal tersebut hanya tentang kebiasaan buruk, bukan pertanda gangguan kejiwaan.

4Denial atau penyangkalan

Poin ini justru mengarah pada penolakan akan gejala-gejala yang kamu alami. Misalnya ketika merasa nyeri dada, kamu diam-diam mencari informasinya. Lalu ketika terdapat berbagai kemungkinan penyakit yang ada, kamu justru tidak mengindahkannya. Kamu merasa nyeri dadamu itu jadi sesuatu yang normal.

Masalahnya, kamu merasa terganggu dengan adanya ancaman penyakit yang tidak disukai. Kamu tidak ingin penyakit apa pun datang. Kamu tidak ingin merepotkan keluarga. Kamu hanya ingin menunjukkan pada dunia kalau dirimu baik-baik saja, padahal jauh dalam hati sebenarnya kamu terusik akan hal ini.

5Takut dan panik sendiri

Melakukan self-diagnosis dan memercayainya bisa menciptakan kepanikan dan ketakutan sendiri. Kamu malah tambah khawatir dan tidak enak rasa terus-menerus. Rasanya tersiksa. Sehingga kamu jadi tidak bergairah menjalani hidup. Bahkan kamu jadi terlalu dalam berpikir. Sampai kamu stres sendiri dan malah mengundang penyakit berdatangan. Kondisi ini berbahaya, bukan?

6Rusaknya hubungan sosial

Setelah mendiagnosis diri sendiri dan memercayainya, bukan tidak mungkin kamu jadi minder. Sehingga kamu merasa harus mengisolasi diri. Kamu jadi murung dan bingung. Rasanya tidak antusias untuk berkumpul dengan keluarga atau menikmati kebersamaan dengan kawan-kawan.

Self-diagnosis tidak hanya berlaku untuk diri sendiri. Perilaku ini juga sama bahayanya ketika kamu mendiagnosis orang lain berdasarkan info yang kamu cari dan gali sendiri. Oleh karena itu, alangkah lebih baiknya mengunjungi dokter, psikolog, atau psikiater. Biar pasti, tidak menggantung terus. 6 Kekacauan Inti Akibat Self Diagnosis Alias Mendiagnosis Diri Sendiri. #RD

Baca Juga :  10 Anak atau Remaja Terkaya Di Dunia Tahun 2015
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve − 8 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.