6 Sikap Pribadi Ketika Kamu Menjadi Korban Bullying Dirimu Sendiri

6
SHARE
korban bullying diri sendiri, dibully pikiran sendiri, pikiran negatif sendiri, contoh pikiran negatif, pikiran negatif selalu muncul, penyebab orang berpikir negatif
Image via: psychology-spot.com

“Kamu payah”.

“Kamu enggak pantas disukai”.

“Kamu bodoh enggak bisa ngapa-ngapain”.

“Kamu enggak berguna”.

“Kamu enggak penting dan berpengaruh ”.

“Pasanganmu bisa mendapatkan sosok yang lebih baik darimu”.

“Orang tuamu tidak merasa bangga padamu”.

“Kamu begitu memalukan”.

“Kamu memang membosankan”.

“Kamu hanyalah beban bagi semua orang”.

“Sahabatmu masih menemanimu karena kasihan padamu”.

“Kemampuanmu standard, enggak akan pernah sukses”.

Kata-kata semacam ini pasti sangat menyakitkan. Dijamin kamu akan selalu ingat siapa yang sudah mengucapkannya pada dirimu. Kalau bilang seperti ini pada orang lain, tentu kamu akan dicap sebagai pembully atau orang yang melakukan perundungan.

Namun tanpa sadar, kamu juga sering mengucapkan hal-hal tersebut pada dirimu sendiri. Mungkin kata-katanya saja yang berbeda. Tetapi intinya kamu malah membully dirimu sendiri.

Pernah?

Efek bully terhadap diri sendiri memang dahsyat. Rasa percaya dirimu runtuh. Rasa bersyukurmu pudar. Kebahagiaanmu juga melayang.

Apalagi ketika kamu berharap lebih pada dirimu sendiri. Lalu ketika harapan itu tidak sesuai kenyataan, kamu malah menghujankan ejekan pada diri sendiri. Mungkin saja ejekan itu tidak diucapkan keras-keras, namun sekadar suara batin. Tetapi dampaknya saja.

Kamu down karena kamu sendiri.

Kenapa kamu melakukannya?

Mungkin karena kamu perfeksionis, ya? Kamu ingin segala sesuatunya sempurna, sesuai dengan rencana. Mungkin juga, kamu takut akan komentar dan penilaian orang lain. Kalau tidak sesuai standard umum di masyarakat, kamu takut dianggap gagal.

Padahal, tidak semua hal bisa kamu kendalikan.

Memperbaiki hubungan dengan diri sendiri

Bullying terhadap diri sendiri membuktikan kalau hubungan kamu dengan dirimu sendiri sedang berantakan. Masing-masing individu memiliki cara untuk berdamai dan berhubungan baik dengan diri sendiri. Bagaimana caramu?

Baca Juga :  Terlalu Banyak Hal yang Menyakitkan, Tapi Rasa Sakit Ini Tidak Akan Abadi

1Sadari sebagai “manipulasi” diri sendiri

Image via: yourdost.com

Ibarat rasa takut pasca menonton film horor, kamu harus menyadarkan dirimu sendiri bahwa film tersebut tidak nyata. Bahwa aktornya hanya akting, hantunya buatan dan semuanya hanyalah pura-pura.

Persis ketika merasa terpuruk karena dibully diri sendiri, kamu harus sadar bahwa semua itu tidak benar dan tidak nyata. Tidak perlu terlalu dipercaya.

2Ajak bercanda

Candaan selalu sukses mencairkan suasana. Termasuk ketika kamu terlibat ketegangan dirimu sendiri. Ketika pembully yang bersuara dalam pikiran sedang beraksi, kamu bisa melemparkan lelucon.

Begitu pikiran negatif berseru , ‘halah payah banget kamu!’. Kamu bisa membalas, ‘gak apa-apa, woy! nanti bisa dicoba lagi’.

3Kelola jadi pemicu positif

Ketika diri sendiri berbisik, ‘kerjaanmu enggak bagus’, kamu bisa menjadikan bisikan itu sebagai pecut. Anggap saja komentar negatif itu adalah protes yang membuatmu berusaha lebih keras lagi. Sehingga kamu meningkatkan performa ketika bekerja.

Tidak perlu menutup diri dari kritik diri sendiri. Terima saja, lanjutkan belajar dan terus tumbuh.

4Netral saja, hati-hati dengan sikap positif yang toxic

Image via: tinybuddha.com

Ketika kamu berkompetisi dan kalah, pikiran negatifmu langsung mengelurkan yel-yel, ‘gagal lagi … gagal lagi …’. Kalau kenyataannya memang tidak berhasil, sebaiknya tidak memaksakan diri untuk menyerukan yel-yel tandingan seperti, ‘saya berhasil, kok!’ atau ‘saya wajib bisa!”.

Netral saja. Rangkul kegagalan itu. Namun tidak perlu berlarut-larut. Gagal dalam satu kompetisi bukan berarti gagal dalam keseluruhan hidup. Gagal satu hari bukan berarti gagal seumur hidup.

Ketika kamu memang tidak mampu melakukan sesuatu dan pikiran negatifmu terus mengejek ‘kamu tidak bisa’, ubah dengan mantra ‘saya belum bisa’. Lalu tekadkan dalam diri untuk terus belajar memperbaiki diri. Jika sudah terasa perubahan signifikan, kamu bisa dengan percaya diri mengatakan, ‘saya bisa!’.

Baca Juga :  7 Tips Memaafkan Diri Sendiri

5Merangkul ketidaksempurnaan diri

Derita karena bullying diri sendiri biasanya timbul karena kamu perfeksionis. Entahlah, mungkin kamu lupa kalau manusia biasanya memang tidak ada yang sempurna. Selalu saja ada cacat dan kurangnya.

Kamu bisa mengejar target, tapi jangan pernah mengejar kesempurnaan.

Setiap manusia boleh, bahkan sudah dipastikan akan akrab dengan kesalahan, kekhilafan dan kagagalan. Tidak perlu terlalu keras dan memaksa diri sendiri untuk memenuhi semua target. Ketidaksempurnaan itu justru melengkapimu.

Rasakan efeknya ketika kamu mengatakan pada dirimu sendiri, ‘hai … kalau kamu hobi menyanyi, silakan menyanyi … tapi gak apa-apa kok kalau nada dan suaramu tidak sempurna’.

6Kamu bisa meminta pertolongan pihak luar

Jika ‘musyawarah’ antara kamu dan diri sendiri berjalan alot, tidak apa-apa untuk meminta bantuan pihak luar. Kamu bisa curhat pada teman atau keluargamu. Kamu juga bisa konsultasi pada terapis, psikolog, life coach, dsb.

Pihak luar itu cenderung netral. Mereka bisa menyediakan pertolongan dan support ketika kamu hendak ambruk. Mereka juga akan menjadi pengingat kalau kamu bukan satu-satunya korban bullying diri sendiri.

Selain itu, kamu juga bisa menyalurkan emosi atau konflik batin ini lewat karya dan tulisan. Intinya, mengekspresikan dan mengungkapkan apa yang dirasakan itu sangat penting. 6 Sikap Pribadi Ketika Kamu Menjadi Korban Bullying Dirimu Sendiri. #RD

SHARE

6 COMMENTS

  1. Nomer 5 itu penting. Kadang saya berpikir, memang nggak ada orang yang sempurna. Jadi kalau membully diri sendiri terus mikirnya, “ya udah, do your best aja.” Gitu.

    • “… do your best aja” – kalimat ini dampaknya super, Mbak. Kita memang “menuntut” performa terbaik dari diri sendiri, tapi tidak memaksakan hasilnya harus sempurna sesuai dgn harapan.

  2. I couldn’t agree more. Bagi saya pribadi yang selalu saya lakukan jika pikiran negatif muncul adalah menerima dan merangkul diri sendiri apa adanya. Seringnya ekspektasi luar mengharuskan saya untuk menjadi sempurna. Ketika ketidaksempurnaan itu terjadi muncullah omongan yang berkata seharusnya saya bisa lebih dari ini. Awalnya saya terpengaruh. Namun saya sadar bahwa omongan dari orang lain itu hanya akan menghancurkan saya. Saya pun mulai fokus ke diri sendiri dan dengarkan batin lebih sering daripada apa kata orang lain. Alhamdulillah sekarang apapun yang saya rasakan saya terima perasaan itu dengan terbuka dan berusaha mencari jalan untuk mengekspresikannya dengan positif seperti journaling atau blogging. Saya sudah capek mengikuti standar orang lain. Tidak ada habisnya. Nice post mbak…

    • Terima kasih sudah menambahkan poin yang sangat penting, bahwa kita harus menerima dan merangkul diri apa adanya. Bahwa bisingnya pikiran negatif bisa menghancurkan kita. Bahwa journaling dan blogging bisa membantu mengekspresikan rasa secara positif. Bahwa mengikuti standard orang lain itu melelahkan.

      Ah saya (dan kawan2 lain) merasa sangat didukung dan punya kekuatan besar. :’)

Leave a Reply to Dyah Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

seventeen + 11 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.