7 Alasan Kenapa Menulis itu Hobi yang Aneh Tapi Harus Dipertahankan

0
SHARE
hobi menulis, menulis itu aneh, hobi menulis yang menghasilkan uang, hobi menulis puisi, hobi menulis diary, hobi menulis cerpen
Image via: pixfeeds.com

Pilih menulis atau mengajar?

Seorang adik didik pernah bertanya demikian. Saat itu saya tidak memberi banyak jeda. Jawabannya ‘menulis’.

Lalu sesuai dugaan, dia kembali bertanya, ‘kenapa?’.

Saya bergumam dalam hati ‘karena menulis itu aneh dan normal itu membosankan’.

Tetapi tentu saja mulut saya menjawab dengan uraian yang sekiranya masuk akal. Saya membahas tentang passion, tentang menulis sebagai terapi, tentang kemungkinan pendapatan dari menulis, dll.

Jawaban dalam hati dan jawaban mulut saya sama-sama benar. Tetapi untuk postingan kali ini, saya pengin fokus pada keanehan menulis. Namun saya tidak berniat untuk meninggalkan keanehan tersebut. Saya justru ingin bertahan.

Ada beberapa alasan kenapa hobi menulis itu aneh atau ganjil atau ajaib:

1Menulis itu … hening yang ramai

Image via: istockphoto.com

Kamu menulis sendiri dalam keadaan sepi. Mungkin hanya ditemani alunan musik dan secangkir kopi. Orang yang melihatmu juga menganggap kamu sedang fokus dalam senyap.

Tanpa mereka tahu, pikiranmu begitu ‘berisik’. Hatimu lantang bersuara. Jari-jemarimu berpesta. Otakmu berputar, memproduksi dan merangkai aksara. Setelah tulisan tersebar, kata-kata yang kamu ciptakan itu bergerilya ke pikiran dan kalbu banyak orang.

2Menulis itu … pengecut yang berani

Image via: leafly.com

Kamu tak perlu membuka mulut untuk menyampaikan sesuatu. Kamu tak perlu mendatangi orang per orang untuk menyampaikan gagasan dan unek-unekmu. Kamu hanya mewakilkannya pada kata-kata. Terkesan pecundang, memang. Namun di saat yang sama, itulah tindakan berani yang sudah kamu lakukan.

Dengan menulis, kamu jadi bisa mengekspresikan diri. Kamu bisa menyuarakan apa yang selama ini terpendam dalam hati saja. Kamu juga mengakui kalau tulisan tersebut adalah karyamu, entah dengan nama pena atau pun nama asli. Setidaknya kamu sudah unjuk gigi ke dunia ini.

Baca Juga :  11 Tips Trik Menulis yang Aneh, Unik, dan Menarik

3Menulis itu … zona tidak nyaman yang bikin nyaman

Image via: worldnomads.com

Otakmu sudah mengoleksi banyak kosa kata. Tata letaknya masih berantakan. Ketika kamu membuka kertas atau layar, semua kata itu tidak apik seketika. Kamu perlu memikirkan bagaimana cara menumpahkan kata pada sebuah media dengan posisi yang rapi. Pantas saja menulis menjadi skill berbahasa paling sulit setelah mendengarkan, berbicara, dan membaca.

Tidak semua orang menyukai, tertarik, bahkan betah dengan aktivitas menulis. Menulis itu sunyi, perlu konsentrasi tinggi, dan tidak tampak sebagai kegiatan yang asyik. Bahkan menulis juga tidak menjamin materi, uang, atau ketenaran.

Malah menulis itu sering membawa masalah. Kamu jadi kecanduan kopi, sesekali harus begadang, otak panas, badan pegal, dll. Belum lagi jika tulisan tersebut menyinggung seseorang atau menjadi umpan kritik dan cacian. Anehnya, kamu tetap nyaman dengan semua ketidaknyamanan itu.

4Menulis itu … selingkuh yang teduh

Image via: nohuboderecho.blogspot.com

Menurut KBBI, selingkuh itu kebiasaan menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan diri sendiri. Hal ini persis seperti yang kamu lakukan ketika menulis. Kamu curi-curi waktu di sela waktu kerja dan waktu istirahat. Atau kamu memang mendedikasikan diri untuk bermesraan dengan pulpen atau keyboard-mu.

Kamu menyelinap ke ‘dunia lain’, bertemu aneka karakter, bercengkerama dengan ‘sosok imajiner’, merasakan plot cerita yang tak ada hubungannya dengan realita, dll. Orang-orang di sekitar menginterupsimu. Mereka meminta waktu dan perhatianmu. Tetapi kamu sudah kadung tenggelam dalam love affair-mu dengan tulisan.

5Menulis itu … tersesat untuk menemukan jalan

Ketika menulis cerita fiksi, kamu memasuki gerbang imajinasi. Kamu membiarkan dirimu tersesat untuk masuk ke dalam belantara cerita. Kamu tidak merasa khawatir bertemu dengan dunia baru dan karakter asing di dalamnya.

Baca Juga :  27 Ciri-Ciri Kalau Kamu itu Seorang Penulis Sejati

Demikian juga ketika menulis non-fiksi, kamu terus menggali apa yang belum diketahui. Kamu tersesat dalam aneka informasi dan referensi. Lalu kamu menuangkannya menjadi tulisan. Bahkan ketika proses penulisan itu, bukan tak mungkin kamu kembali menelusuri berbagai macam pengetahuan.

Semuanya dijalani. Kamu merelakan diri untuk tersesat. Sebab dengan cara itulah kamu akan menemukan jalan.

6Menulis itu … bukti ‘ada yang abadi’

Pada dasarnya semua hal di dunia ini fana, rusak, dan akan binasa. Namun Pramoedya Ananta Toer membuat pernyataan menggetarkan. Beliau bilang, ‘menulis adalah bekerja untuk keabadian’.

Penulis juga manusia, sehingga akan meninggal, dikubur, dan mungkin dilupakan. Tetapi jika memiliki karya, maka tulisan atau gagasannya akan tetap “hidup” dan “bersuara”.

Kita bahkan tak pernah bertemu dengan Jalaluddin Rumi, karena dia hidup di kisaran tahun 1207-1273. Tetapi sampai tahun 2019 sekarang, kita masih bisa menikmati syair atau kutipannya.

7Menulis itu … menjadi diri sendiri tanpa rasa bersalah

Jika sudah berhadapan dengan kertas atau papan ketik, tak ada yang berhak mendikte isi tulisanmu. Kamu bebas menuliskan tentang apa saja. Sekasar, sejorok, semustahil, setolol, senarsis, atau seklise apa pun itu. Kamu hanya ingin menjadi kamu dengan segala ekspresimu.

Aneh, tapi ingin selalu dipertahankan. 7 Alasan Kenapa Menulis itu Hobi yang Aneh Tapi Harus Dipertahankan. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 − six =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.