7 Kesalahan yang Menghambat Anak untuk Terampil dan Mandiri + Solusinya

0
SHARE

A mother drops her daughter off at school
theguardian.com

Kesalahan 5: Menunggui Anak Di Sekolah

Ada beberapa alasan mengapa ortu tidak bisa selamanya menunggui anak di sekolah; ibu yang cemas meninggalkan anak di sekolah akan membuat anak ikut-ikutan cemas dan rewel bila mereka terpisah, anak tetap tergantung pada orang lain khususnya ortu, anak tidak lepas bergaul dengan teman-temannya, rasa percaya diri anak untuk menjaga dirinya sendiri tak akan berkembang, membuat anak bingung tentang konsep kemandirian (di rumah ia diajarkan untuk mandi dan makan sendiri, namun nyatanya di sekolah ia tetap full diawasi), dsb.

Solusi 5: Hentikan Menunggui Anak Di Sekolah Secara Perlahan

Hentikan acara menunggui anak di sekolah secara perlahan. Misalnya awal-awal masuk sekolah memang ditunggu full sampai pulang, lalu kurangi jadi sampai istirahat dan menjemputnya, kurangi lagi sampai anak masuk kelas saja dan menjemputnya, menungguinya diam-diam (dari luar kelas atau dibalik jendela) sampai kemudian total melepas mereka. Tentu, dengan menjalin komunikasi dengan gurunya. Biarkan sang guru yang mengawasi dan mengabari ortu.

Agar sedikit mengalihkan perhatian, ortu bisa mengisi waktu dengan melakukan kegiatan lain yang bermanfaat. Kalau masih ‘tak tega’ melepaskan anak? Ortu juga bisa menawarkan diri pada sekolah sebagai ‘pengajar relawan’, entah itu menjadi koordinator suatu kegiatan atau jadi pembawa cerita di kelas. Sehingga anak bisa tetap dekat, namun tak merasa terus diawasi.

~~~

anak diberi mainan banyak tapi mainnya sendirian tanpa orang tua
slodive.com

Kesalahan 6: Memberi Banyak Mainan Tapi Tak Pernah Menemani Bermain

Tak semua mainan bisa dimainkan dengan baik dan benar oleh anak. Misalnya mainan ‘puzzle’. Tentu jenis mainan itu perlu bimbingan ortu di awal-awalnya. Jika tidak, anak akan kebingungan. Bisa jadi ia hanya melempar-lemparkannya, merasa bosan dan fungsi positif mainan pun akan hilang. Karena itu, mainan banyak belum berarti kalau ortu tidak pernah menemaninya.

Baca Juga :  15 Tips Perkenalan, Mengajar dan Menyesuaikan Diri Bagi Guru Baru

Solusi 6: Dampingi dan Selipkan Hal-Hal Baru dalam Sebuah Mainan

Mainan anak ada yang digolongkan sebagai mainan edukatif dan bukan. Bukan masalah, selagi ortu tampil sebagai pendamping mereka. Dengan mainan, ortu bisa mengenalkan banyak hal. Misalnya saat anak main pistol-pistolan, kita bisa jelaskan kalau senjata itu tidak bertujuan untuk kekerasan/tawuran/berkelahi, dst. Bisa kita jelaskan siapa saja yang ‘syah’ memakai pistol, seperti polisi. Lalu, kita paparkan pula tugas seorang polisi dengan senjata pistolnya.

Atau, saat anak perempuan bermain boneka… kita bisa selipkan nilai-nilai sosial. Misalnya, mereka memainkan sejumlah boneka. Biarkan mereka memberi nama, merangkai cerita dengan boneka-bonekanya, dan kita selipkan nilai-nilai persahabatan juga tenggang rasa. Terlebih di usia pra-sekolah, penanaman nilai-nilai sosial memang mesti banyak diperkenalkan.

~~~

orang tua tidak memberi kesempatan pada anak untuk memilih
news.health.com

Kesalahan 7: Anak Tak Dibiasakan Memilih

Di usia 4 tahun, ketika kemampuan kognitif anak mulai meningkat, mereka mulai memiliki dorongan untuk melakukan segala sesuatu sendiri. Mereka itu ada pada tahap otoritas dan ingin menunjukan ‘siapa aku’. Namun karena masih ‘pemula’, tentu mereka perlu bimbingan orang tua.

Yang terbaik yaitu, anak diberikan pilihan-pilihan, dibiarkan memili dan dididik untuk bertanggung jawab atas pilihannya tersebut. Sayang, yang sering terjadi adalah sebaliknya. Ortu yang tampil sebagai pemilih dan pemutus, tanpa melibatkan anak. Padahal, sikap ini berefek kurang baik. Bisa-bisa anak jadi gamang, tak bisa menentukan suatu pilihan dan bermental ‘pengekor’.

Solusi 7: Beri Keleluasaan pada Anak untuk Memilih

Ortu bisa melibatkan anak untuk memlih, mulai dari hal-hal sederhana. Misalnya memilih buku bacaannya sendiri ketika di toko buku, memilih jaket yang ia suka ketika di toko pakaian atau memilih jenis mainan yang membuatnya tertarik. Kalau ortu tidak cocok terhadap pilihan anak? Misal ketika anak memilih jaket yang harganya selangit dan tak sesuai kantong, jangan buru-buru melarang. Bisa carikan alternatif pilihan, “Gimana kalau yang pink tua atau ungu cerah itu, Dek? Pasti bagus kalau Adek pake!” (padahal harganya lebih bersahabat. hehehe).

Baca Juga :  Ketika Anak dan Remaja Ingin Bunuh Diri, Bagaimana?

Namun beberapa hal yang sifatnya berbahaya tentu tak bisa ditawarkan jadi pilihan sang anak. Misalnya anak ingin main pisau, lalu kita biarkan saja. Tentu tidak. Sebisa mungkin kita jelaskan alasan mengapa kita khawatir kalau anak main pisau. Kalau tidak, kita cari alternatif berupa pisau mainan untuk sang anak.

Selain terpuaskan, anak juga jadi tahu mana yang boleh dan tidak boleh, utamanya berkenaan dengan keselamatan. Anak akan berpikir, iya sih aku gak boleh ngelakuin A, tapi aku masih boleh kok ngelakuin B. Ia juga akan paham bahwa, apa yang ia inginkan belum tentu akan ia dapatkan.

Memilih… kegiatan ini akan terus kita lakukan dari dini sampai tua nanti. Jika keleluasaan memilih dan bertanggung-jawab atas pilihan itu terbentuk dari kecil, maka anak akan merasa percaya diri dan dihargai. Lama-lama ia bisa mengasah diri bahwa memilih dan memutuskan sesuatu itu mesti yang terbaik. [#RD]

*Note: January 25, 2014
*Referensi: lptcindo.com
1
2
3
SHARE