Home » My Files » Diary Enggak Setiap Hari #RD » 7 Pelajaran Ketika Hiatus atau Vakum Dari Media Sosial

7 Pelajaran Ketika Hiatus atau Vakum Dari Media Sosial

7 Pelajaran Ketika Hiatus atau Vakum Dari Media Sosial

media sosial, hidup tanpa media sosial, vakum media sosial, hiatus media sosial, dampak media sosial

Via: IBTimes.co.uk

Media sosial.

Siapa yang tahan lama-lama hidup tanpa media sosial? Tanpa mengeluh, gitu.

Sebagian besar orang sudah mulai merasa gundah ketika harus off dulu dari Fesbuk, Twitter, Instagram, BBM, dsb. Mungkin karena sedang berada di tempat yang sulit sinyal, sedang ada kesibukan, tak ada kuota, dsb. Begitu aktif, kita pun langsung update dan sesegera mungkin mengejar ketertinggalan.

Daku termasuk orang yang (sepertinya) tak bisa offline seharian. Secara tidak langsung, media sosial menjadi media yang penting untuk menunjang kegiatan sehari-hari, khususnya terkait menulis. Hanya saja, hubunganku dengan media sosial antara dulu dan sekarang berubah secara signifikan.

Kalau dulu sempat-sempatnya scrolling beranda fesbuk, hanya untuk melihat-lihat update status akun-akun yang ada, bahkan ikut kepo sampai ke komentar-komentar segalanya. Belum lagi ketika sudah tergoda untuk mengklik profil akun-akun, atau link-link lain. Tahu-tahu aktivitas itu saja sudah menguras waktu.

media sosial, akibat media sosial, kehidupan sosial setelah adanya media sosial, hidup tanpa media sosial, vakum media sosial, hiatus media sosial, dampak media sosial

Via: npr.org

Tetapi sekarang… penggunaan media sosial memang lebih dibatasi dan lebih sadar waktu lagi. Berusaha untuk efektif dan efisien, begitu.

Kebetulan sekarang pun masih sedang taking a break dengan media sosial, khususnya Instagram dan Pinterest. Hehe.. nah, setidaknya ada tujuh pelajaran yang bisa diambil. Jom!

#1. “Oh… jadi media sosial yang selama ini mengalihkan duniaku!”

Kalau tak berusaha untuk bijak, media sosial bisa menguasai diri penggunanya. Termasuk kita, yang kadang sampai lupa diri, tak tahu waktu, dan mengabaikan lingkungan sekitar. Tiap hari terus nunduk, membuat jari-jemari ekstra bekerja, pekerjaan asli mulai dinomorduakan, tak peduli pulsa atau kuota, diam-diam sibuk mencari perhatian, lupa pada ibu/ bapak yang makan sendirian, serasa memiliki dunia sendiri, dsb.

Baca Juga :  Numpang Tersenyum Ketika Kota Kuningan Berulang Tahun

Kita jadi terlalu peduli urusan orang lain, dan sedikit mengesampingkan masalah diri sendiri serta yang ada di sekitar. Kita tahu kejadian badai matthew di seberang sana, tapi malah enggak ngeh dengan longsor yang menimpa tetangga sebelah. Kita tahu kegiatan sehari-hari Si Z, tapi jadwal diri sendiri malah berantakan.

#2. “Hmm.. apakah kita sudah merasa cukup dan bersyukur?”

Ketika berselancar di “pekarangan” media sosial yang sangat luas, secara tidak langsung kita akan masuk rayuan untuk selalu membanding-bandingkan. “Wow! akun X punya banyak likes dan komentar”, “pose selfie-nya keren banget! Hampir tanpa cacat”, “outfitnya badai!”, “body-nya… ugh!”, “tempat-tempatnya kece, daku kapan ya ke sana?”, “Aaak… mereka romantis banget! Mirip pasangan dalam cerita dongeng! Daku kapan move on?”, dsb.

Akun A gini, akun B gitu, dan akun kita sendiri ingin meniru mereka. Kita seperti memandang wah pada kehidupan maya mereka, lalu memandang payah pada kehidupan real diri sendiri. Ada rasa cemburu, kekecewaan, kegelisahan, dan perasaan mengganggu lain yang muncul karena ulah sendiri. Ap… apakah… kita sudah merasa cukup dan bersyukur menjadi diri sendiri?

#3. Terjebak untuk Tidak jadi Diri sendiri

Umumnya seseorang ingin menampilkan yang terbaik di media sosial. Poto yang diedit atau difilter, caption keren yang dicontek dari quote seseorang, atau lifestyle yang terkesan dilebihkan. Padahal hidup kita sederhana atau biasa-biasa, tapi unggahan di media sosial mengesankan kalau kita ini glamor. Padahal kebersamaan dengan keluarga hanya diisi dengan “mijit ponsel masing-masing”, tapi poto groufie mengesankan kalau kita ini keluarga yang harmonis dan komunikasinya bagus. Banyak kesan semu yang membuat kita terus haus perhatian.

media sosial, tak ada privasi dalam media sosial, terlalu terbuka dalam media sosial, hidup tanpa media sosial, vakum media sosial, hiatus media sosial, dampak media sosial

Via: voolas.com

#4. Hobi Baru; Publikasi

Baca Juga :  Soal-Soal Uji Kompetensi di Lembaga Kursus

Mau yang selebritis atau figur biasa, selama ada media sosial, kita semua jadi memiliki hobi baru yang rata-rata sama. Kita jadi gemar gembar-gembor. Entah kenapa, kita merasa perlu untuk segera memposting kegiatan terhangat yang sedang dilakukan. Ketika sedang di lokasi anu, ketika sedang bersama si anu, ketika sedang ada masalah anu, dsb. Hampir tak ada privasi.

#5. Media Sosial dan Pertemanan

Kata orang, media sosial bisa digunakan untuk menjalin komunikasi dengan teman-teman. Betul sekali. Tetapi kadang penggunaannya tidak terlalu tepat. Seringnya, kita dan teman-teman itu hanya saling bertukar simbol jempol atau hati. Seringnya, kita dan teman-teman itu hanya saling kontak kalau ada kebutuhan atau karena ingin mengundang ke acara pernikahan. Sekalinya masuk sebuah grup, hanya nama-nama tertentu yang aktif. Topik yang diangkat pun kadang-kadang tidak merangkul semua pihak. Dan begitu kita tutup akun, pertemanan itu pun seakan tertutup pula. Tak ada kabar berita. Berhembus begitu saja.

Baca Juga :  Apa Jadinya Jika Kita Sudah Mengetahui Tanggal dan Waktu Kematian Sendiri?

#6. Ranjau Media Sosial

Entah sudah berapa kali, akun-akun terjerat kasus karena media sosial. Ada yang dituntut karena pasal pencemaran nama baik, ada yang disomasi karena memposting meme yang bikin tak nyaman, ada yang berurusan dengan polisi karena posenya bikin gerah banyak orang, ada yang jadi musuh bebuyutan karena berdebat di ruang inbox atau direct message, ada yang jadi viral karena kecolongan memposting sesuatu yang sensasional, dsb. Media sosial penuh dengan ranjau. Sekalinya salah langkah, kita bisa “meledak”.

#7. Tapi… Media Sosial itu Terus Hidup

Daku pernah penasaran, apakah Facebook akan bangkrut? Apakah Twitter akan tutup?

Tapi teknologi terus maju. Termasuk juga media sosial. Para pemiliknya melakukan upaya sekeras mungkin agar “tidak ditinggalkan” para akun langganan. Atau, banyak pihak lain yang memunculkan medsos baru yang lebih mutakhir. Mereka begitu kuat. Tetapi kita harus lebih kuat untuk tidak jadi bonekanya, yang seakan-akan tak berdaya jika harus dikuras segalanya.

Daku tak menyimpulkan kalau media sosial itu adalah sesuatu yang buruk total dan harus dihapuskan. Intinya, kita harus memanfaatkan waktu dan energi sebijak mungkin. Kita patut merasa rugi dan cemas jika terus-terusan menjadi “budak media sosial”, bukan malah galau karena tidak bisa online dan merasa ketinggalan.

Kualitas hidup kita tidak diukur dari seberapa kekinian kita di media sosial, bukan juga dari jumlah views-like-comment dari orang-orang. Iya, ‘kan? 7 Pelajaran Ketika Hiatus atau Vakum Dari Media Sosial. #RD

error: