7 Waktu atau Situasi Ketika Menyerah Bisa Menjadi Pilihan Terbaik

0
SHARE

waktu untuk menyerah, situasi untuk menyerah, menyerah, give up, give in, give up dan give in, menyerah dalam bahasa inggris, menyerah bahasa inggrisnya adalah, menyerah bahasa inggris,, boleh menyerah
Karya: Cindy Thornton

#4. Ketika Perjuangan Mati-Matian Kita Diprediksi Akan Tetap Sia-sia

Banyak orang yang tetap melakoni sesuatu yang menyiksa, membebani, atau tidak disukai sama-sekali. Tetapi mereka bertahan, sebab begitu pulang, ada senyum keluarga yang selalu menyemangati. Saat itu mereka pun sadar kalau perjuangannya yang melelahkan itu tak akan pernah sia-sia. Ada “hadiahnya”.

Beda lagi situasinya ketika kita mulai penat berikhtiar, dan diprediksi kalau perjuangan itu tetap berujung kegagalan. Tak ada perubahan. Kita pun bisa merenungkan strategi untuk “mundur elegan”. Bagaimanapun, masih banyak sesuatu atau seseorang yang lebih layak akan waktu dan perjuangan kita. Terlampau banyak yang harus diperhatikan atau dimenangkan.

#5. Ketika Pada Akhirnya Benar-benar Tak Bisa

Poin yang satu ini mungkin terlihat begitu pesimis. Di saat yang lain mendorong untuk tetap bertahan dan berusaha, kita tetap harus jujur pada diri sendiri. Objektif. Misalnya ketika harus mengerjakan sesuatu yang tak benar-benar kita kuasai.

Sekalipun sudah bekerja keras dan mengerahkan dedikasi, tapi ujungnya tetap tak mampu. Kita bisa menanyai diri sendiri. Apakah kita benar-benar memiliki bakat itu? Apakah kita tak memaksakan diri? Apakah kita sudah “mencuri” kesempatan seseorang yang lebih layak mendapatkannya? Dsb. Keputusan terakhir masih ada dalam genggaman.

#6. Ketika Kita Tak Diapresiasi Sama-sekali

Yang super baik dan tulus, tetap saja ada yang “memperalat” atau mengeksploitasi. Yang berbakat dan pekerja keras, tetap saja yang menyia-nyiakan. Yang setia dan penyayang, tetap saja ada yang mengabaikan. Intinya, sepositif apapun kita, dampak yang didapat selalu negatif.

Semua itu bisa terjadi kalau kita memang berada di lingkungan yang egois, kejam, dan toxic alias “beracun”. Lingkungan ini membuat jalan hidup kita sangat sulit. Tetapi kita juga bisa sangat puas jika berhasil melintasinya. Karena itu, kita bisa saja tetap melanjutkan perjuangan. Fokus pada sesuatu yang menjadi alasan kita untuk tetap bertahan. Tetapi masih ada opsi untuk menyerah atau mengabaikan lingkungan dan orang-orangnya, agar kita tidak “terkontaminasi” oleh mereka.

Baca Juga :  8 Ciri-ciri Utama Orang Fake, Palsu, atau yang Pura-pura Baik

#7. Ketika Terjadi Perubahan dan Ada Kesempatan Lain yang Lebih Baik

Waktu berjalan bahkan mungkin berlarian sambil menggandeng perubahan. Ada masa di mana perubahan itu sangat menguji, sekaligus menggiring pada kesempatan yang lebih baik lagi. Umpamanya keluarga kita sudah lama menjalankan bisnis wartel.

Kita bisa memilih untuk setia mengoperasikan itu semua, dengan konsekuensi besar berupa kebangkrutan. Tetapi kita juga bisa mengambil langkah lain, yakni menyerah dan menyesuaikan diri dengan zaman. Kecuali kalau kita memang tak peduli dengan uang dan penghasilan, kita bisa mempertahankan usaha tersebut.

~

Keukeuhnya kita ketika berusaha dan berdoa memang sangat dianjurkan. Tetapi ada fakta penting yang tak bisa kita kesampingkan, kalau pantang menyerah dan perjuangan habis-habisan itu tak selamanya membawakan hasil yang diinginkan. Kita harus selalu siap dengan kejutan.

Ada beberapa kondisi di mana menyerah itu bisa jadi pertimbangan. Menyerah yang dimaksud tak berarti lemah. Menyerah itu justru menandakan kekuatan besar untuk… melepaskan atau mengorbankan.

Menyerah yang indah. Ketika kita sudah mengerahkan segala daya dan upaya, lalu ujungnya mempercayakan itu semua pada Sang Kuasa. Damai bagi kita semua. 7 Waktu atau Situasi Ketika Menyerah Bisa Menjadi Pilihan Terbaik. #RD

1
2
SHARE