70 Fakta Menarik Tentang Raden Adjeng atau RA Kartini

70 Fakta Menarik Tentang Raden Adjeng atau RA Kartini

hari kartini, kata kata hari kartini, ucapan hari kartini, makna hari kartini, hari kartini 2016, puisi hari kartini, peringatan hari kartini, hari kartini tanggal berapa, hari kartini jatuh pada tanggal, hari kartini diperingati tanggal berapa

RA Kartini itu sosok yang dekat dengan penjajah, kenapa malah dia yang diagung-agungkan? Kenapa bukan pejuang perempuan lain yang nyata-nyata angkat senjata, malah musti tumbang di medan perang? Penepatan 22 April sebagai hari besar itu sungguh tak adil!”

~

Beberapa kali daku menemukan “pertikaian” yang sama ketika Hari Kartini tiba. Ada pihak yang mengemukakan sisi kontra. Namun banyak juga yang masih semangat merayakan hari besar nasional ini.

Apapun itu, suara atau pendapat masih dilindungi undang-undang. Yang terpenting, kita masih bisa saling respect, ya. Bagaimanapun, perbedaan itu menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Mustilah ada.

Tepat di Hari Kartini, daku sudah mengoleksi berbagai informasi terkait Ibu Kita Kartini. Rasanya kurang afdhol kalau sekadar ikut-ikutan update status, ngetweet, atau mosting yang isinya “Selamat Hari Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang” saja. Karena itu, kita bisa memanfaatkan momen ini untuk lebih mengenal siapa beliau.

Dalam list ini, daku membahas biodata atau profil beliau. Daku juga mencari fakta-fakta lain seperti peranan, apresiasi, termasuk juga kontroversi tentang beliau. Nah, jom!

hari kartini, kata kata hari kartini, ucapan hari kartini, makna hari kartini, hari kartini 2016, puisi hari kartini, peringatan hari kartini, gambar hari kartini, tanda tangan ra kartini

1. Raden Adjeng Kartini/ Raden Ayu Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jateng.

2. Beliau meninggal pada 17 September 1904 di Rembang, Jateng.

3. Beliau meninggal di usia muda, 25 tahun, 4 hari pasca melahirkan anak satu-satunya.

4. Beliau dimakamkan di Desa/ Kec. Bulu, Rembang.

5. Beliau berasal dari keluarga priyayi, ningrat, bangsawan, atau dari kalangan kelas atas.

6. Beliau adalah puteri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara kala itu.

7. Beliau adalah puteri dari M.A. Ngasirah, salah-satu isteri sang bupati.

8. Kakek-nenek dari ibunya adalah Kyai Haji Madirono dan Nyai Haji Siti Aminah

9. Dari 11 saudara kandung dan tiri, ia jadi anak tertua ke-5. Namun dari saudara kandung, Ibu Kartini menjadi cikalnya.

10. Ibu Kartini sekolah di ELS (Europese Lagere School) sampai usia 12 tahun.

RA Kartini dan keluarga, poto RA Kartini dan keluarga, ayah ibu RA kartini, adik kakak ibu kartini, saudara kandung dan tiri ra kartini, ayah RA Kartini, ibu RA Kartini
Ibu RA Kartini berpoto bersama Keluarganya [Via: profilpedia.com]
11. Di usia 12 tahun tersebut, dirinya dipingit sesuai adat. Dia seperti “dikurung” di rumah dengan mahramnya, sambil menanti laki-laki yang bersedia meminang atau menikahinya.

12. Ibu Kartini menguasai Bahasa Belanda, bahkan memiliki beberapa teman asal negeri kincir angin tersebut.

13. Ibu Kartini gemar bertukar surat dengan temannya, salah-satunya yaitu Rosan Abendanon.

14. Ibu  Kartini senang membaca buku, majalah, dan koran Eropa.

15. Ibu Kartini menaruh perhatian pada cara berpikir kaum perempuan di Eropa.

16. Bermula dari kekaguman dan perbandingan kondisi perempuan Eropa dan Indonesia, timbul kesadaran bahwa status sosial kaumnya yang rendah musti segera diubah.

Baca Juga :  Cerita Lucu & Inspiratif; Yang Hilang, Yang Kugenggam

17. Hobi membacanya berkembang menjadi hobi menulis.

18. Ibu Kartini menulis dan mengirimkan karya tulisnya, sampai kemudian dimuat di Majalah Wanita Belanda, De Hollandsche Lelie.

19. Ibu Kartini sangat tertarik mengungkapkan gagasannya akan emansipasi wanita dan permasalahan sosial politik pada umumnya.

poto kartini dan suami, R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat (1903)., suami ibu kartini
Ibu RA Kartini Menggandeng Suaminya, R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat. [Via: Wikipedia]
20. Beberapa buku yang beliau baca yaitu Max Havelaar (Multatuli/ Eduard Douwes Dekker), Surat Surat Cinta (Multatuli/ Eduard Douwes Dekker), De Stille Kraacht/ Kekuatan Ghaib (Louis Coperus), Die Waffen Nieder/ Letakkan Senjata (Berta Von Suttner), dsb.

21. Ibu Kartini menikah dengan Bupati Rembang, K.R.M Adipatio Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

22. Sang bupati sudah memiliki 3 isteri, sehingga Ibu Kartini berstatus isteri keempat.

23. Mereka menikah pada 12 November 1903.

24. Suami sudah tahu keinginan isterinya dan mendukung penuh.

25. Dia begitu suportif ketika Kartini ingin mengembangkan usaha ukiran jepara.

26. Sang suami membebaskan dan memberi support ketika istrinya membangun sekolah perempuan di kompleks kantor kabupaten, yang kini disebut sebagai Gedung Pramuka.

27. Suami juga mendukung mimpi Ibu Kartini menulis atau menerbitkan buku.

28. Anak satu-satunya diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat, yang lahir pada 13 September 1904.

29.Pada tahun 1912, Yayasan Kartini Semarang mendirikan Sekolah wanita bernama “Sekolah Kartini” sebagai wujud penyambung perjuangan RA Kartini.

30. Yayasan tersebut dikelola oleh keluarga Conrad Theodore van Deventer, seorang ahli hukum dan tokoh Politik Etis asal Belanda.

Door Duisternis tot Licht, Door Duisternis tot Licht book, buku Door Duisternis tot Licht, habis gelap terbitlah terang, maksud habis gelap terbitlah terang, arti habis gelap terbitlah terang, cerita habis gelap terbitlah terang, buku habis gelap terbitlah terang ra kartini

31. Sekolah-sekolah itu sudah tersebar ke berbagai daerah seperti Surabaya, Malang, Cirebon, Yogyakarta, dsb.

32. Pasca wafatnya Ibu Kartini, Jacques Henrij Abendanon atau J.H. Abendanon tertarik untuk mengumpulkan surat-surat Kartini. Beliau sendiri merupakan Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda periode 1900-1905.

33. Surat-suratnya kemudian dibukukan. Buku itu berjudul “Door Duisternis tot Licht”, yang kini dikenal sebagai ungkapan “Habis Gelap Terbitlah Terang”, terbitan tahun 1911.

34. 11 tahun pasca penerbitan buku, Balai Pustaka merilis versi Bahasa Melayunya (diterjemahkan oleh Empat Saudara) dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran”.

35. Pada tahun 1938, Armijn Pane (sastrawan) ikut menerbitkan buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” versinya, lengkap dengan pemecahan karya menjadi beberapa bab.

36. Sulastin Sutrisno juga menerbitkan versinya sendiri dengan judul “Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya”

37. Surat-surat Ibu Kartini juga diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Dr Joost Cote dengan judul “Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1990-1904”.

38. Sulastin Sutrisno kembali menerbitkan buku terkait surat-surat Ibu Kartini, bertajuk “Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya”

Baca Juga :  7 Hal Selain Uang yang Bisa “Membeli” Kebahagiaan

39. Usaha Dr Joost Coté untuk mengumpulkan surat-surat Kartini diterjemahkan dan dibukukan dengan judul “Aku Mau… Feminisme dan Nasionalisme”. Namun isinya lebih spesifik, sebab hanya surat-surat Kartini pada Stella Zeehandelaar periode tahun 1899-1903.

40. Moto hidup Ibu Kartini adalah “Aku mau…”

kutipan ra kartini, kata kata ra kartini, isi surat ra kartini
Via: statusfan.com

41. Berdasarkan surat tertanggal 27 Oktober 1902, Ibu Kartini mengungkapkan kalau dia mulai membatasi bahkan tidak memakan daging. Karenanya, banyak yang berasumsi kalau Ibu Kartini merupakan seorang vegetarian

42. Buku berisi surat-surat Kartini diterjemahkan dalam berbagai bahasa, termasuk Inggris, Jawa, dan Sunda.

43. Isi surat-surat Ibu Kartini mayoritas tentang curhatan, isi pikiran, atau gagasannya terkait kondisi sosial yang ada, khususnya yang menyangkut kaum perempuan.

44. Lewat suratnya, Ibu Kartini mengeluhkan budaya Jawa atau tradisi masa itu yang menghambat kemajuan para perempuan.

45. Lewat suratnya, Ibu Kartini menumpahkan harapan agar ia dan kaumnya mendapat bantuan dari luar. Ia berharap bisa maju seperti para perempuan Eropa.

46. Lewat suratnya, Ibu Kartini ternyata keberatan akan beberapa hal. Tentang perempuan yang tak leluasa mengeyam pendidikan, musti pasrah ketika dipingit, tak berdaya ketika dijodohkan, atau juga wajib menahan pilu ketika dimadu.

47. Lewat suratnya, Ibu Kartini mengungkapkan mimpi untuk studi ke Eropa.

48. Lewat suratnya, Ibu Kartini mengatakan kalau beberapa sahabat pena yang berkorespondensi dengannya memang suportif akan impiannya.

49. Cita-citanya untuk sekolah ke Eropa tidak tercapai, tapi masih ada opsi lain dengan menempuh pendidikan menjadi guru di Betawi. Demikian saran sang ayah dan Nyonya Abendanon.

50. Niat Ibu Kartini untuk melanjutkan tingkat pendidikan dimuluskan oleh Departemen Pengajaran Belanda, yang memberi izin pada Kartini serta saudaranya (Rukmini) untuk melanjutkan studi.

gambar ra kartini dalam uang, uang keluaran tahun 1952, uang 5 IDR, uang 5 rupiah, uang zaman dahulu, uang tempo lalu, uang jadul
Via: Wikipedia

51. Lewat suratnya, Ibu Kartini mengatakan kalau kesempatan studi di Betawi pun batal lantaran ia akan menikah.

52. Pada tahun 1952, wajah Ibu Kartini tercetak dalam uang kertas IDR 5.

53. Pada 2 Mei 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan Kepres RI yang berisi penetapan Ibu RA Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan menjadikan tanggal lahirnya sebagai hari besar (Hari Kartini).

54. W.R. Soepratman tak hanya menciptakan lagu “Indonesia Raya”, melainkan juga “Ibu Kita Kartini”.

55. Namanya dijadikan sebagai nama jalan di Utrecht (Belanda) dengan sebutan “Jalan R.A. Kartini” atau “Kartinistraat”.

56. Namanya dijadikan sebagai nama jalan di Venlo(Belanda Selatan) berdekatan dengan tokoh perempuan dunia seperti Anne Frank dan Mathilde Wibaut.

57. Namanya dijadikan sebagai nama jalan di Bijlmer (Amsterdam Zuidoost) dengan sebutan “Jalan Raden Adjeng Kartini”, berdekatan dengan nama perempuan hebat lain seperti Nilda Pinto, Rosa Luxemburg, dan Isabela Richaards.

Baca Juga :  6 Ujian atau Perjuangan Sulit yang Dihadapi Orang-orang Super Baik

58. Namanya dijadikan sebagai nama jalan di Haarlem(Belanda), berdekatan dengan tokoh penting lain dari Indonesia seperti Mohammed Hatta, Sutan Sjahrir, dan Chris Soumokil.

59. Namanya dijadikan sebagai nama majalah asuhan Lukman Umar dan dirilis perdana pada tahun 1973.

60. Namanya dijadikan sebagai nama pantai yang terletak di Desa Bulu, Kec/ Kab. Jepara, sekitar 2,5 km dari pendopo kabupaten ke arah baratnya.

jalan dengan nama ra kartini, ra kartini dan belanda, ra kartini di belanda, nama jalan ra kartini
Via: m.galamedianews.com

61. Namanya dijadikan sebagai nama universitas di Surabaya yang didirikan pada tahun 1986.

62. Namanya dijadikan sebagai nama museum di Kota Jepara, tepatnya di jalan Alun-alun Nomor 1.

63. Namanya dijadikan sebagai nama ajang award atau penghargaan pada tahun 1995. Pelaksanaannya dibuat sebagai wujud apresiasi terhadap tokoh kaum perempuan yang inspiratif.

64. Terjadi kontroversi. Sebagian pihak menduga kalau J.H. Abendanon mengotak-atik isi surat Kartini, sehingga kebenarannya masih diragukan.

65. Terjadi kontroversi. Mayoritas dari surat-surat asli Kartini tidak diketahui ada di mana.

66. Terjadi kontroversi. Penetapan 21 April sebagai hari Kartini menimbulkan pro dan kontra.

67. Pihak yang tak setuju merasa kalau pemerintah sudah pilih kasih, sebab masih banyak pahlawan perempuan lain yang juga berjuang keras, namun tidak terlalu terekspos. Misalnya Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, dsb.

68. Pihak yang tak setuju juga menilai kalau Kartini lebih fokus pada perempuan di tanah Jawa, khususnya Jepara dan Rembang, bukan nasional.

69. Banyak juga (dari kalangan feminis) yang menyayangkan kepasrahan Kartini ketika dimadu, sebab hal tersebut justeru dinilai bertentangan dengan cita-citanya terkait emansipasi wanita.

70. RA Kartini dipandang sebagai sosok yang rendah hati, terbukti dengan keinginan untuk dipanggil “Kartini” saja, ketimbangan membubuhkan gelar Raden Adjeng yang menunjukkan status ningratnya. Padahal menurut beliau keningratan hanya ada 2 macam; keningratan pikiran dan budi.

~

Demikian kumpulan data atau informasi mengenai Ibu RA Kartini. Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan. Bro-Sist bisa mengoreksinya, ya.

Akhirnya, nama RA Kartini sudah terpahat sendiri di sanubari negeri ini. Beliau memberi bukti kecil tentang powerful-nya kata-kata dan pemikiran seseorang. Bonus popularitas dan pengaruhnya semakin membuat jasa-jasanya tersebar luas. Ide, gagasan, dan mimpi-mimpinya merasuk menjadi kesadaran akan mulianya kaum perempuan. 70 Fakta Menarik Tentang Raden Adjeng atau RA Kartini. #RD

You May Also Like