8 Hal yang Disunahkan dan Dimakruhkan Bagi Guru Bahasa

8 Hal yang Disunahkan dan Dimakruhkan Bagi Guru Bahasa

guru, guru bahasa, guru bahasa asing, guru bahasa inggris, yang disunahkan bagi guru, yang dimakruhkan bagi guru
Via: teachingenglish.org.uk

Ada yang tertarik belajar atau mengajar bahasa, khususnya bahasa asing?

Sampai sekarang, daku masih saja cemburu terhadap mereka yang menguasai aneka bahasa. Apalagi kalau sudah melanglangbuana di dunia internet atau media sosial, di mana ada akun-akun yang berkomunikasi dengan bahasa yang beragam. Ada yang menguasai bahasa secara otodidak, banyak juga yang serius mempelajarinya.

Atas dasar kebutuhan, banyak orang yang rela menguras dana, waktu, dan otak untuk belajar bahasa asing. Khususnya Bahasa Inggris, Mandarin, Latin, dll. Dan salah-satu pihak yang bertanggung-jawab di balik itu tak lain merupakan gurunya sendiri. Mengajar bahasa asing itu tentu sulit juga, ‘kan? Ia harus berjibaku dengan aneka teknik demi mentransferkan ilmu yang dimiliki.

Nah berikut ini 8 hal yang disunahkan dan 8 hal yang dimakruhkan bagi seorang guru bahasa. Jom!

8 Hal yang Disunahkan Bagi Guru Bahasa

#1. Hal yang Disunahkan; Mengetahui Siswa itu Sendiri

Sebelum lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui para siswa yang akan menjadi partner belajar. Entah itu namanya, pengetahuan dasarnya, sifatnya, kecenderungan gaya belajarnya, dsb. Dengan demikian kita bisa lebih dekat, lebih memahami, dan bisa memberikan apa yang mereka inginkan.

#2. Yang Disunahkan: Menjadi Model Bagi Siswa

Ndak perlu dijelaskan lagi. Menjadi model di sini bukan berarti berjalan di catwalk sambil mengenakan produk sponsor. Maksudnya, guru bahasa seharusnya bisa menjelaskan sekaligus mendemonstrasikan apa yang diajarkan. Hal ini bisa menjadi motivasi, rangsangan, dan petunjuk  bagi siswa agar mereka juga melakukan hal serupa.

#3. Yang Disunahkan: Bicara Secara Jelas dan Pelan-pelan

Poin ini sangat penting bagi pengajar bahasa asing. Bagaimanapun, siswa memerlukan waktu untuk mencerna apa yang dikatakan gurunya. Apalagi kalau mereka diminta untuk merespons. Sabar. Tunggu saja sampai mereka ngeh atau “peka” terhadap apa yang kita katakan.

#4. Yang Disunahkan: Memanfaatkan Aneka Cues

Cues ini semacam isyarat atau tanda-tanda bahasa yang bersifat non-verbal. Bisa saja berupa tayangan video, gambar, intonasi, gesture, dsb. Teknik ini biasanya sangat membantu pemahaman para siswa.

Baca Juga :  Penyebab Bau Mulut Akut dan Busuk Saat Puasa

#5. Yang Disunahkan: Memberi Perintah Secara Jelas

Mengajar bahasa harus bisa melibatkan peranan muridnya sendiri. Karena itu, kita bisa memerintahkan mereka untuk melakukan sesuatu yang memang diperlukan. Tetapi perintahnya itu sendiri harus jelas. Entah itu meminta mereka untuk malakukan error analysis, menyusun paragraf, menceritakan ulang suatu kisah versinya sendiri, dsb. Kalau perlu, kita bisa melengkapi perintah tertulis dengan verbal juga sampai mereka benar-benar menangkap apa yang harus dilakukan. Jangan sampai murid terus bertanya-tanya, ‘Kami harus ngapain?’ atau ‘Soal ini dibagaimanakan?’.

#6. Yang Disunahkan: Mengecek Pemahaman Secara Kontinyu

Ketika belajar dan setelahnya, guru bahasa sebisa mungkin terus mengecek pemahaman para murid. Si A boleh jadi sudah paham, tapi kita tidak tahu dengan Si D, J, M, dsb. Caranya sendiri bisa dengan bertanya langsung, memberi kode (misalnya mengacungkan jempol like kalau paham dan dislike kalau belum paham), memberi latihan, dsb.

Selain memberi gambaran tentang materi, murid juga akan sadar kalau proses belajar mereka memang diperhatikan oleh gurunya. Intinya kita mesti memastikan kalau mereka tak hanya datang dan mendengar. Pastikan kalau mereka memang memproses apa yang disampaikan.

#7. Yang Disunahkan: Memotivasi Agar Mereka Menerapkan Pelajaran

Belajar bahasa, khususnya yang asing, akan sulit dikuasai kalau kita hanya menggunakannya di sekolah atau di tempat les. Baiknya kita mendorong siswa untuk menerapkan atau mempraktikkan pengetahuan tersebut di rumah, lingkungan sekitar, media sosial, dsb. Misalnya ketika berinteraksi dengan teman sekelas, berkomunikasi dengan kenalan di media sosial, mencerna bacaan berbahasa asing di laman online, membaca atau menulis sendiri di rumah, dsb. Mereka akan secara tidak langsung belajar memecahkan masalah sendiri, yang bisa memperkaya ilmu dan pengetahuannya.

#8. Yang Disunahkan: Membiarkan Mereka Menulis dan Bicara Semampunya

Kalau bisa, jangan pernah memotong murid yang berbicara dalam bahasa asing dengan penuh perjuangan. Apalagi kalau sampai bergabung dengan teman-temannya untuk menertawakannya. Jangan juga merobek atau mencoret-coret penuh murka pada bukunya. Sikap tersebut bisa membuatnya jengkel, dan enggan berpartisipasi lagi dalam kelas bahasa. Kita biarkan saja mereka berekspresi. Setelah di akhir, kita tetap berikan koreksi yang santun. Dengan demikian, motivasi belajarnya bisa terjaga.

Baca Juga :  5 Pertanyaan Seputar Tunjangan Hari Raya, Termasuk Perhitungan THR-nya!
guru, guru bahasa, guru bahasa inggris, guru bahasa killer, guru bahasa galak, guru bahasa inggris killer
Via: inquisitr.com

#1. Yang Dimakruhkan: Cuek

Karena cuek, kita tidak tahu kalau Si A yang duduk di belakang memiliki batas penglihatan terhadap tulisan di white board yang kecil. Karena cuek, kita tidak tahu kalau tidak semua siswa sudah memahami ilmu dasarnya. Karena cuek, kita tidak peka terhadap siswa yang mulai enggak nyaman dengan metode belajar yang diterapkan. Sifat cuek itu tak akan menghubungkan siapa-siapa. Kita ke mana, siswa ke mana.

#2. Yang Dimakruhkan: Hanya Memerintah Tok

Salah-satu yang paling enak ketika menjadi guru adalah bisa memerintah muridnya. Dengan alasan ingin istirahat, kita bisa membuat murid sibuk mengerjakan soal. Tetapi tak disarankan juga kalau kita hanya menyuruh ini-itu, sementara murid sendiri kebingungan dan tak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh sang guru. Untuk itu, kita perlu menjadi model atau mendemonstrasikan suatu contoh.

#3. Yang Dimakruhkan: Bicara Super Cepat

Kalau bicara cepat merupakan gaya bawaan, maka ketika mengajar bahasa, sebisa mungkin kita kendalikan. Kecuali kalau para siswanya memang bisa menangkap semua itu. Kalau mereka protes dan meminta kita untuk lebih lamban, mau tak mau turuti saja.

#4. Yang Dimakruhkan: Ceramah atau Belajar Monoton

Guru bahasa tampaknya akan kesulitan kalau hanya berdiri di depan kelas, lalu memberi ceramah pada anak-anaknya. Sepanjang apapun, bahasa tak hanya tentang teori yang harus dihapal. Kita juga sebaiknya tak mengandalkan LKS atau buku latihan saja. Kalau anak-anak sudah stress karena banyak soal dan bahkan tak mengerti harus diapain, bisa-bisa motivasi belajarnya luluh lantak seketika.

#5. Yang Dimakruhkan: Memberi Perintah Tak Jelas

Ada kalanya siswa sudah bingung duluan, bahkan sebelum mereka mengeksekusi suatu soal. Pasalnya mereka sendiri tak memahami maksud dari soal tersebut. Hal itu dirasa wajar terjadi apabila gurunya memang hanya memberi titah, dan tidak menjelaskan step by step yang harus ditempuh.

Baca Juga :  15 Tanda Kalau Siswa Menaruh Minat dan Antusias Pada Pelajaran Kita

#6. Yang Dimakruhkan: Bertanya “Ada Pertanyaan?” Tok

Jangan dulu yakin 100% kalau murid sudah menguasai pelajaran ketika menggelengkan kepala pas kita tanya, ‘Ada yang ingin ditanyakan?’. Cara tersebut tidaklah terlalu efektif untuk mengukur pemahaman murid. Demikian juga kalau mereka mengangguk-angguk dan senyum-senyum. Gesture itu bisa jadi hanya bentuk apresiasi atau “upaya menghormati” saja, padahal materinya sendiri tak terlalu dikuasai.

#7. Yang Dimakruhkan: Melenyapkan Bahasa Ibu atau Bahasa Nasional

Meski belajar di kelas bahasa asing, kita tak seharusnya melarang siswa untuk melafalkan bahasa sehari-hari atau Bahasa Indonesia. Hal ini bisa membuat hubungan siswa dan murid jadi kaku. Sebab, mereka akan kebingungan dengan sikap kita yang terkesan tidak nasionalis dan tidak menjunjung bahasa ibu sendiri. Biarkan saja. Malah kita bisa memanfaatkannya ketika siswa tak memahami penjelasan yang full berbahasa asing.

#8. Yang Dimakruhkan: Menghukum Kesalahannya

Idealnya, sesuatu yang salah memang harus dihukum. Namun kelas bahasa harus sedikit berbaik hati. Kita tak perlu mengancam siswa dengan hukuman ketika mereka tak mampu bicara atau menulis bahasa asing. Tekanan itu bisa menjadi beban belajar tersendiri baginya. Kalau sudah terbebani, mereka bisa depresi. Apapun yang kita berikan bisa jadi malah enggan masuk sama-sekali.

Tentu saja apa yang disampaikan ini tidak lengkap. Masih banyak hal yang sunah dan makruh lain yang harus dipertimbangkan para guru bahasa. Namun demikianlah, 8 Hal yang Disunahkan dan Dimakruhkan Bagi Guru Bahasa. #RD

You May Also Like

1 Comment

  1. Pingback: 8 Hal yang Disunahkan dan Dimakruhkan Bagi Guru Bahasa | Gentong (dot) ml

Comments are closed.