8 Hal yang Harus Diingat Ketika Kamu Merasa Tidak Pantas dan Tidak Berguna

0
SHARE
merasa tidak pantas, merasa tidak pantas dicintai, merasa tidak pantas hidup, merasa tidak pantas bahagia, merasa tidak pantas untukmu, merasa tidak pantas untuk seseorang, kata merasa tidak pantas,
Image via: yourtango.com

“Selama bertahun-tahun kamu sudah mengkritik diri sendiri, dan ternyata tidak berhasil juga. Sekarang coba terima dan setujui diri kamu sendiri dan lihatlah apa yang terjadi.“

Demikianlah masukan dari penulis buku motivasi, Louise L. Hay, yang patut direnungkan. Khususnya oleh kamu (apalagi saya) yang merasa tidak cukup baik, tidak begitu layak, miskin rasa percaya diri, insecure, atau singkatnya … minder.

Kamu merasa bukan anak yang baik bagi orang tuamu, bukan kakak teladan bagi adikmu, bukan tetangga yang membantu bagi lingkunganmu, bukan teman yang solider bagi sahabatmu, bukan sosok yang pantas bagi pasanganmu, …

Bukan penulis yang bermanfaat bagi pembacamu, bukan guru yang hebat bagi muridmu, bukan bawahan yang loyal bagi atasanmu, bukan influencer yang berkesan bagi followers-mu, bukan ustaz/ustazah yang berpengaruh bagi jamaahmu, bukan selebriti yang berguna bagi fansmu … pokoknya bukan manusia yang pantas untuk hidup dunia ini.

Perasaan ‘merasa tidak baik’ ini bisa jadi baik. Tetapi kadang-kadang kalau terlalu larut, kamu akan merasa tidak pantas menerima semuanya.

Ada anak yang tiba-tiba melankolis menerima kebaikan tak terhingga dari orang tuanya, sebab merasa belum bisa membuat mereka bangga dan bahagia.

Ada insan yang tiba-tiba melankolis menerima kasih sayang kekasihnya, sebab merasa belum bisa mencurahkan hal serupa pada sang kekasih.

Ada pesohor yang tiba-tiba melankolis menerima puja-puji dari para penggemarnya, sebab merasa belum bisa menjadi panutan yang nyata.

Dll.

Ada beban berat di pundakmu. Ada tanggung-jawab, ada perasaan tidak pantas, ada perasaan tidak enak, ada perasaan sedang berutang, ada perasaan malu tak terkira. Sehingga timbul bisikan ‘mereka terlalu baik, sedangkan saya tidak sebaik yang mereka kira’.

Kamu stres sendiri. Sampai akhirnya rasa percaya diri dan dan penghargaan terhadap diri sendiri jadi runtuh.

Baca Juga :  12 Motivasi Blakblakan Kehidupan, Rasanya Seperti Tamparan!

Hhh … perasaan dan pikiran negatif memang toxic, namun sayangnya mudah nyelip.

Apa yang bisa kamu lakukan?

1Hindari membanding-bandingkan diri

Image via: avogel.co.uk

Membandingkan diri dengan orang lain itu bisa menjadi aksi yang menjebak. Kamu seperti ‘menciptakan peperangan dan sainganmu’ sendiri, tetapi kamu tak akan pernah bisa menjadi pemenangnya. Sebab pada akhirnya, kamu akan merasa minder dan terbakar cemburu.

Kamu akan lebih fokus pada mereka ketimbang pada dirimu sendiri. Jadi, tak perlu tenggelam dalam kebiasaan nyekrol media sosial, ya. Apa yang dipampangkan orang berpotensi menggoyahkan rasa percaya diri.

Kamu akan menjadi penuntut bagi diri sendiri ‘kapan saya jalan-jalan seperti mereka?’, ‘kapan saya memiliki barang branded seperti mereka?’, ‘kapan kehidupan asmara saya sesempurna mereka?’, ‘kapan ekspresi saya sebahagia mereka?’, ‘kapan saya seperti mereka?’, dan terus saja begitu.

2Biasanya orang hanya membagikan yang ‘wah’-nya saja

Image via: zoho.com

Saya dan generasi lawas lain pernah mengalami hidup tanpa media sosial. Dulu orang-orang menyimpulkan ‘kebahagiaan orang lain’ karena melihat langsung. Kalau ingin melihat kehidupan para selebritis juga paling lewat teve.

Beda dengan zaman sekarang, di mana orang-orang merasa perlu untuk update mengenai aktivitas sehari-harinya;

siapa yang masuk lingkaran pergaulannya, di mana saja tempat nongkrongnya, apa saja yang dimakan atau diminumnya, semesra apa dia dan pasangannya, sebesar apa harta kekayaannya, secanggih apa perangkat elektronik yang dimilikinya, sejauh mana traveling-nya, seseru apa pesta-pestanya, sebanyak apa prestasinya, dll.

Susah juga kalau kamu tidak membandingkan diri dengan mereka.

Namun kamu mungkin sedang lupa, kalau orang-orang – khususnya di media sosial – hanya sharing momen paling manis, paling berharga, paling fun, dan paling berkesan. Kamu tak pernah benar-benar tahu kehidupan riil mereka.

3Kritis, tapi jangan terlalu percaya

Image via: s3.amazonaws.com

Tanpa sadar, kadang kamu suka mengkritik dirimu sendiri. Misalnya ketika membuat resolusi tahun baru dengan semangat menggebu, di saat yang sama kamu berkata pada diri sendiri, ‘halah kamu malas, kamu gak konsisten, kamu gak akan sanggup’, dsb.

Baca Juga :  Tips Tampil Pede di Hadapan Umum

Kalau pun benar kamu gak konsisten, setidaknya jangan sampai yakin kamu akan seperti itu terus. Kalau kamu yakin akan tetap gak konsisten, lingkaran yang sama akan terulang. Kamu akan merancang mimpi, lalu mimpi itu hancur oleh kamu sendiri.

4Pencapaian dan kebaikan yang sudah pernah dilakukan

Image via: freepik.com

Sebagian dari kamu mengalami masa, di mana kamu bertanya-tanya soal kontribusimu dalam hidup. Kadang kamu frustrasi sebab tidak banyak membantu di rumah, tidak mendapat ranking di sekolah, atau tidak lihai menjalin asmara. Di saat seperti itu, kamu fokus pada keburukanmu sendiri.

Kamu lupa kalau kamu pernah menolong teman yang kesusahan, kamu pernah memberi makan kucing jalanan, kamu pernah menjadi alasan tersenyum seseorang, kamu pernah menulis postingan positif yang menjadi inspirasi orang-orang, kamu pernah juara tarik tambang, kamu pernah membuat perkedel kentang yang enak untuk keluarga, dll.

Ingat-ingat semua ‘prestasi kecil’ itu. Masih ada waktu untuk mengulanginya, mungkin dengan cara yang lainnya.

5Kebaikan dan sikap positif yang dianggap ‘remeh’ tapi powerful

Jangan takut melakukan kebaikan atau hal-hal positif. Se-klise, se-basi, atau se-receh apa pun itu.

Kamu bisa memulai dengan melakukan pep talk seperti ‘tidak apa-apa hari ini gagal, toh saya sudah mengerahkan ikhtiar terbaik. Sekarang istirahat saja dulu, nanti bisa dicoba lagi,’.

Selanjutnya kamu bisa membiasakan diri untuk memuji seseorang dengan tulus, mengucapkan terima kasih atas kebaikan orang lain, menyimak curahan hati orang lain, meninggalkan komentar yang baik pada postingan orang lain, mengkampanyekan kebaikan, dll.

6Membuka diri bisa menolongmu

Kamu tentu disarankan untuk mengeluh dan mencurahkan segalanya pada Tuhan YME. Namun bukan hal salah jika kamu juga menumpahkan apa yang kamu rasa dan pikirkan pada orang lain – dengan catatan, orang tersebut amanah. Bagaimana pun, memendam semuanya sendiri tidak selamanya membantu.

Tidak apa-apa. Kadang kamu membutuhkan seseorang yang ada untuk sekadar mendengar dan menyimak  unek-unekmu. Kadang kamu perlu teman diskusi dan berbagi.

Kalau memang tidak sanggup melibatkan manusia, kamu bisa memuntahkannya lewat media. Entah itu tulisan, lagu, karya seni, dll.

Hal ini saya rasakan ketika saya membuka diri pada ibu. Awalnya sangat berat. Tapi sesudahnya berdampak dahsyat.

Baca Juga :  3 Alasan Utama untuk Tidak Menggunakan Istilah “Orang Gila”

7Melakukan selebrasi ala diri sendiri

Perayaan bisa berlaku pada pencapaian besar atau pun kecil. Kamu bisa menerapkannya pada dirimu sendiri.

Misalnya ketika berhasil menyelesaikan tulisan tanpa menengok media sosial,  kamu bisa menghadiahi diri sendiri dengan camilan enak. Atau ketika berhasil merutinkan olahraga sebulan, kamu bisa menghadiahi diri sendiri dengan pergi ke tempat salon dan spa.

8Ketika terlalu keras pada dirimu sendiri

Dunia sudah menampar, meninju, dan menendangmu dengan bertubi-tubi. Rasanya bukan pilihan bijak kalau diri kamu sendiri ikut-ikutan memukul dengan keji.

Pelan-pelan maafkan dirimu sendiri. Maklumi segala kekurangan dan kelemahanmu. Tak perlu menyalahkan diri atas sesuatu yang tidak bisa kamu kendalikan.

Bertahanlah … keberadaanmu sangat penting. Tuhan YME tentu tidak menciptakan kamu karena iseng belaka. Pasti ada maksud dan tujuannya.  8 Hal yang Harus Diingat Ketika Kamu Merasa Tidak Pantas dan Tidak Berguna. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

17 + fourteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.