8 Manfaat dan Kebaikan Menulis Diary Bagi Anak Broken Home

0
SHARE
diary anak broken home, diary depresiku anak broken home, dear diary anak broken home, diary seorang anak broken home, anak broken home kuat
Image via: rochestercitynewspaper.com

Diary anak broken home pasti menjadi salah-satu buku harian yang menarik … sekaligus mencabik.

Ceritanya saya sedang membereskan buku-buku lama, lalu terselip sebuah buku yang saya kenal betul. Buku tersebut merupakan ‘jurnal harian’ saya di masa lalu. Saya juga menemukan diary milik kakak laki-laki ketiga saya. Sayangnya, saya kehilangan diary milik mendiang kakak laki-laki kedua saya.

Kami rupanya memiliki hobi yang sama, yakni menulis diary. Saya akui, kebiasaan ini juga tidak lepas dari pengaruh kakak laki-laki saya. Seperti kebanyakan laki-laki, mereka jarang mengekspresikan pikiran dan perasaan secara langsung. Mereka lebih memilih untuk menitipkan kisahnya pada kertas dan pena.

Beberapa “bab” diary kami juga sama, yakni tentang keluarga. Lalu bercabang menjadi perceraian, kegagalan, perpisahan, kehilangan, dll.

Ah, saya jadi ingin menambah alasan kenapa harus berterima kasih pada diri sendiri, karena saya sudah rutin menulis diary dan merasakan dampak positifnya hingga kini.

1Menulis Diary Merangsang Diri untuk Hadir dan Berpikir

Image via: vacationhomesofhiltonhead.com

Dulu ketika masih kecil, saya sering membanding-bandingkan keluarga sendiri dengan keluarga orang lain. Saya berandai-andai bisa memiliki keluarga yang harmonis, orang tua yang akur, ayah yang bertanggung jawab, dll.

Namun diary membuat saya “bangun” ke realita.

Diary mendorong saya untuk introspeksi diri. Bahwa, keluarga saya memang “berbeda”. Maka saya memuntahkan isi pikiran tentang keluarga ke dalam buku harian.

Saya seperti bertanya dan menjawabnya sendiri. Misalnya bertanya-tanya, ‘kenapa perpisahan orang tua bisa terjadi?’, ‘bagaimana saya mesti bersikap?’, ‘apa yang bisa dibereskan agar kehidupan jadi lebih baik?’, dll.

2Menulis Diary Bisa Menjadi Terapi Pribadi

Image via: firstsun.com

Namanya manusia, saya juga dibanjiri aneka emosi. Saya pernah merasa sangat marah, kecewa, cemburu, frustrasi, sedih, dll. Mau tidak mau, saya mesti merangkul dan menelan emosi. Saya enggan menganggap semua emosi itu tidak ada dan pura-pura bahagia. Maka, isi diary saya dan kakak pun penuh dengan “emosi negatif” seperti yang sudah saya sebutkan.

Tidak jarang lembar demi lembarnya menjadi kolaborasi antara tinta dan air mata. Maklum, isinya bukan cuma tentang keceriaan masa anak-anak, liburan, atau petualangan. Isinya banyak tentang luka dan nyeri yang terpendam.

Ibarat sampah, saya enggan “menabungnya di dalam” dan memendamnya sampai membusuk serta mengundang penyakit. Maka saya mencurahkan apa yang saya rasakan tanpa sensor. Seakan-akan diary adalah seorang sahabat yang terpercaya atau psikolog yang membantu memulihkan luka di jiwa.

Baca Juga :  14 Efek Negatif yang Kemungkinan Besar Dirasakan Anak Broken Home

Saya pikir hal ini juga baik untuk kesehatan fisik dan mental. Dengan kata lain, kalau buku harian bisa menjadi teman sekaligus saksi proses self-healing yang sangat penting. Tetapi kalau langkah ini tidak membantu sama-sekali, sudah saatnya untuk konsultasi langsung pada ahlinya.

3Menulis Diary Menjadi Latihan Menulis

Image via: fluentu.com

Ketika saya membaca ulang diary diri sendiri dan diary kakak, sesekali saya tertawa. Sebab di dalamnya banyak hal-hal lucu. Misalnya ada kalimat campuran Bahasa Indonesia dan Basa Sunda (kami dari suku Sunda), atau karena ada hal-hal yang menggelikan.

Memang demikianlah menulis diary. Kamu tidak perlu menulis sesuai PUEBI, tidak perlu takut dikritik/dihujat, tidak perlu menulis untuk memuaskan pembaca, dll. Kamu yang menulis, kamu yang puas.

Kebiasaan mengisi diary juga mengalir begitu saja karena datangnya dari hati. Tidak ada yang menugaskannya. Tidak ada yang mengancam. Tidak ada juga yang hendak memberi hadiah.

Maka mengolah diary menjadi semacam pembelajaran menulis yang asyik. Tidak terasa, lembaran kosong bisa terisi penuh oleh curahan hati sendiri. Semuanya bisa dimulai dengan mengemukakan apa yang dirasakan detik ini, apa yang terjadi, ada yang dipikirkan, ada yang sudah dilakukan, dll.

4Menulis Diary Menjadi Jalan Hikmah

Image via: worldnomads.com

Sesekali saya suka membaca ulang buku diary, termasuk yang diposting di blog Rosediana.net. Rasanya saya seperti sedang membuka buku pelajaran dan memahaminya.

Banyak pertanyaan yang menodong diri sendiri. Misalnya, ‘apa pelajaran yang bisa diambil dari perceraian orang tua?’, ‘bagaimana caranya agar tidak bernasib seperti orang tua?’, ‘apa perbedaan keadaan antara dulu dan sekarang?’, ‘jadi, apa hikmah dari semua ini?’, dll.

5Menulis Diary Membimbingmu untuk Bersabar dan Bersyukur

Image via: cafe.ambient-mixer.com

Kejadian-kejadian pahit masa lalu akan menjelma menjadi cerita bermakna untuk didokumentasikan atau didongengkan.

Diary bisa mencatat bagaimana konflik terjadi, bagaimana kita bereaksi, dan bagaimana segala sesuatunya terurai sendiri. Diary menjadi pengingat, bahwa kita pernah ada di posisi yang sangat sulit, namun tetap bertahan dan berjuang. Diary menjadi pengingat, bahwa kita pernah sabar menghadapi semua ujian.

Baca Juga :  9 Quote Broken Home Indonesia

Diary juga sering membongkar segala sesuatu yang sebenarnya patut disyukuri. Diary mengungkapkan kalau kita patut berterima kasih pada kopi pekat yang tetap terasa enak, pada saudara kandung yang saling mendukung, pada sahabat yang tetap mendekap, pada single parent yang tidak menelantarkan dan tetap memperjuangkan sampai darah penghabisan, dll.

Diary juga getol mengingatkan tentang peran Sang Maha Kuasa, yang menjadi sumber kekuatan terbesar di balik kerapuhan semua makhluk ciptaan-Nya.

6Menulis Diary Bisa Menyumbangkan Ide

Image via: freepik.com

Entah sudah berapa kali, isi diary sendiri diolah menjadi postingan blog, puisi, atau cerpen. Hobi menulis diary memang sering memutar otak dan mengasah hati. Hobi menulis diary menjaga kebiasaan jari untuk terus menari.

7Menulis Diary Bisa Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

Image via: positiveroutines.com

Minder dan tidak pede menjadi perasaan yang wajar dirasakan anak-anak broken home. Jujur saja saya sempat tidak percaya diri membahas segala sesuatu tentang keluarga, orang tua, rumah, dsb. Bahkan saya sulit terbuka ketika menceritakannya kepada beberapa sahabat. Beruntungnya saya yang mengandalkan satu sahabat saja, yang kebetulan memiliki nasib tidak jauh berbeda.

Namun tulisan di dalam diary membuat saya terbuka terhadap semua rasa negatif. Perlahan tapi pasti, semua efek positifnya juga tergali sendiri. Selain itu, menulis diary secara tidak langsung bisa melepaskan dopamin dan endorfin. Sehingga ada sensasi tenang, bahagia, rileks, dan percaya diri setelah puas mencurahkan isian hati.

Sejauh ini, saya bahkan lebih berani mendokumentasikan segala sesuatu tentang broken home di blog pribadi ini.

8Menulis Diary Bisa Mendekatkan Diri Pada Ilahi

Image via: neurosciencenews.com

Seringkali, diary penuh dengan keluh kesah sekaligus doa dan harapan pada-Nya. secara tidak langsung, diary menjadi “media komunikasi” kita dengan-Nya. secara tidak langsung, diary menjadi “jembatan” yang mendekatkan.

Saya jadi semakin tahu diri bahwa manusia biasa memang tidak punya daya upaya. Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha, toh Tuhan YME juga yang menetapkan kehendak-Nya.

Baca Juga :  10 Pelajaran Positif Dari Perceraian Orang Tua Bagi Anak Broken Home

Saya juga jadi semakin sadar diri bahwa berharap kepada selain Dia hanya akan mendatangkan keresahan dan rasa sakit berkepanjangan. Maka, hanya kepada Tuhan – kita bersanda. Hanya kepada Tuhan, semua doa dan harapan disampaikan.

Mau anak broken home atau bukan, manfaat dan kebaikan dari menulis diary bisa dirasakan sendiri. Apa pun masalahnya, semoga tetap tenang dan lekas baikan. Demikian, 8 Manfaat dan Kebaikan Menulis Diary Bagi Anak Broken Home. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.