8 Pelajaran Ketika Jeda Dari Media Sosial dan Menarik Diri Dari Pergaulan

0
SHARE
menyendiri, menarik diri dari pergaulan, mengisolasi diri, berhenti media sosial, hidup tanpa sosial media, memutuskan untuk tidak menggunakan sosial media, hidup tanpa instagram
Image via: joshsteimle.com

Ada yang pernah melakukannya? Atau, ada yang sedang melakukannya?

Setiap orang punya alasan tertentu untuk melakukan sesuatu, sekali pun di mata kita, sesuatu yang dilakukan itu salah. Termasuk menyendiri.

Ada orang yang tadinya supel, tiba-tiba tidak kelihatan batang hidungnya. Ada juga yang tadinya eksis di medsos, tiba-tiba hilang tanpa kabar. Postingan dan story-nya senyap. Bahkan dia juga tampak meninggalkan grup-grup Whatsapp-nya.

Ada apa, ya?

Kalau untuk orang introvert sih, aktivitas menyendiri itu bukan alien. Sudah akrab. Tetapi orang introvert yang sedang baik-baik saja tidak akan memutus kontak, menghapus semua akun medsos, dan sirna begitu saja.

Orang introvert akan tetap bersosialisasi dan eksis sesekali, tapi introvert itu memang sangat selektif. Kalau tidak penting-penting amat, ya enggak datang atau enggak mosting. Begitu…

Lalu kamu yang sudah mencoba jeda dari media sosial dan menarik diri dari pergaulan, apa kabar? Apa hikmah yang bisa diambil?

1Ada rasa ‘ingin dihubungi atau dicari duluan’

Meski kamu sengaja menepi dari keramaian dunia ini, ada sedikit rasa, di mana kamu ingin seseorang menghubungi atau meraihmu. Diam-diam kamu berharap ada yang menelponmu atau datang ke rumahmu. Mending kalau iya ada, kalau tidak ada, kamu bisa misuh-misuh sendiri.

Kamu mengira yang tidak-tidak. Menurutmu mereka itu tidak pedulilah atau membencimulah. Padahal orang lain pun bisa mengira yang tidak-tidak tentangmu. Kamu sudah berubahlah atau kamu tidak butuh merekalah. Maka, menjauhkan diri dari orang-orang tersayangmu seharus tidak semain-main itu.

2Zona nyaman tapi bikin gak tenang

Nyaman sih ketika kamu sendirian tanpa gangguan. Kamu tidak perlu menghiraukan bunyi hape, pemberitahuan medsos, trending topic, undangan teman, curhatan sahabat, dsb. Tetapi di satu waktu, kenyamanan itu bisa berkurang – berganti dengan rasa tidak tenang karena penasaran.

Baca Juga :  7 Cara Agar Kita Tidak Melampiaskan Kekecewaan Pada Orang yang Disayang

3Rutinitas itu berpeluang membosankan

Seiring waktu, rutinitas yang monoton itu bisa membuatmu jemu. Padahal kalau tidak sedang ‘puasa medsos’  kamu menghubungi teman, menyerap informasi, memosting karya, memeroleh hiburan, dll. Padahal kalau tidak sedang menarik diri dari pergaulan kamu bisa pergi ke luar, nongkrong, ngopi bareng, dll.

4Hidup bukan sekadar hidup

Rupanya hidup kurang afdal jika kamu sekadar ada, bernapas, dan mencari makan. Padahal kamu bisa berperan penting di dunia ini. Tapi bukan berarti kamu harus memberantas korupsi seorang diri. Kamu bisa melakukannya dengan versi sederhana, tapi tetap penting. Misalnya dengan berkarya, menggeluti passion, menanam tanaman, memberi lengkuas pada tetangga yang memintanya, jadi panitia-peserta-penonton acara Agustusan, dll.

5Pengalihan pikiran itu hanya sementara

Ketika memutuskan untuk ‘mengisolasi diri’, kamu bisa mengalihkan pikiran dan menghibur diri dulu dengan teve atau buku. Tetapi ada momen, di mana kamu pegal melakukan semua itu. sehingga kamu kangen berinteraksi dengan orang-orang.

6Kesepian itu tidak nyaman

Salah-satu perasaan paling buruk yaitu kesepian. Sudah sendirian, kesepian pula. Walau dirimu tidak mengakuinya, tapi jauh dalam hati kamu tetap membutuhkan adanya hubungan dengan orang lain.

7Semua manusia itu saling menyakiti

Sahabat atau keluargamu yang paling ramah pun bisa menyakitimu, sengaja atau tidak. Maka, rasa sakit dari satu atau dua orang tidak bisa menjadi alasan kuat kamu melarikan diri dari media sosial dan pergaulan nyata.

8Perang sengit versus dirimu sendiri

Selama ini ada suara-suara dalam hati dan pikiranmu yang terus mengembuskan hal-hal negatif. Bahwa semua orang itu toksiklah, semua orang itu jahatlah, kamu itu payahlah, kamu itu tidak bergunalah, dll.

Seringkali merekalah, suara-suara negatif itu, yang sebenarnya menjadi musuhmu. Kalau kamu sudah mampu menghadapi dan mengendalikannya, gangguan-gangguan dari lebih mudah diatasi.

Baca Juga :  Alasan Kenapa Kita Masih Peduli Apa Kata Orang dan Apa yang Mereka Pikirkan

Tidak apa-apa untuk menepi sejenak dari lalu-lalang dunia yang ramai. Tidak apa-apa untuk menyendiri. Tidak apa-apa untuk menjernihkan pikiran dan perasaan sendirian.

Tetapi sebaiknya jangan lama-lama. Jangan sampai rasa percaya dirimu rontok, stresmu jadi depresi, empatimu jadi menipis, kelenturanmu jadi kaku, dan kesehatan fisik-mentalmu jadi terganggu.

Orang-orang di sekitarmu; orang tua, kakak, adik, pasangan, sahabat, dan teman-temannya boleh jadi khawatir dan bertanya-tanya. Tapi kadang mereka bingung dan serba salah hendak melakukan apa. Padahal kamu jelas-jelas butuh mereka, tetapi selalu saja menyangkalnya.

Jika sudah ‘utuh’, segera kembali dan nikmati koneksi. 8 Pelajaran Ketika Jeda Dari Media Sosial dan Menarik Diri Dari Pergaulan. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 + 10 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.