8 Tips Agar Bisa Tegas Bilang “No” Sama Sindrom FOMO

8 Tips Agar Bisa Tegas Bilang “No” Sama Sindrom FOMO

fomo adalah, fomo phobia adalah, agar tidak fomo, agar tidak fomo, sindrom fomo, arti fomo
Via: carolinanaturally.blogspot.com

Merasa terasingkan  karena enggak kayak orang-orang, yang selfie atau groufie ketika hang out? Merasa jadi manusia purba sebab belum bisa sharing Instagram Story di tempat yang lagi ngehist? Atau, merasa jadi makhluk paling enggak update karena tidak tahu makna kata-kata gaul di internet?

Well, selamat datang di dunia FOMO!

Sindrom ini sendiri sudah pernah daku ulas dalam 9 Ciri Pengguna MedSos yang Terkena Gejala Sindrom FOMO.

Intinya, FOMO aka Fear of Missing Out ini membuat penderitanya jadi enggak mau ketinggalan apapun yang sedang ngetrend. Orang ramai hashtag #OmTeloletOm, kita langsung gelisah karena tidak tahu apa itu #OmTeloletOm. Orang ramai membicarakan cemilan ngehits, kita kelimpungan karena belum pernah mencicipinya. Hal ini lama-lama mengganggu juga, yekan?

Kita jadi begitu sedih, tak berdaya, cemburu, sepi, dsb, karena enggak seperti netizen kebanyakan. Nah kamu, daku – kita – alangkah baiknya untuk belajar lebih tegas agar tidak terperangkap dalam jerat FOMO. Caranya bagaimana? Mari sama-sama menyimak tulisan yang sudah daku ulas kembali dari Rachel Sokol, yang menulis di Reader’s Digest. Jom!

#1. Berhenti Membanding-bandingkan (Apalagi Sama Para Seleb Medsos)

selebgram, selebgram adalah, gaya hidup selebgram, sindrom fomo, cara mencegah fomo, cara mengatasi fomo, cara mengobati fomo
Via: princessyahrini

Apa yang diposting para aktris, penyanyi, selebgram, dsb, biasanya memang keren-keren. Sudah orangnya cakep, outfitnya mahal nan kekinian, tempat-tempatnya eksklusif, jumlah likes dan komentarnya pun bejibun. Diam-diam kita merasa iri, dan mengutuk pemberian hidup terhadap diri sendiri. Kenapa daku enggak bisa kayak mereka?

Hal itu akan mengikis rasa syukur kita. Dan sebaliknya, akan menebalkan sifat dengki kita.

Padahal apa yang dipampangkan tak melulu mendefiniskan realita di belakangnya. Hanya karena mereka berpoto sambil menunggangi kendaraan mahal, lalu kita menyimpulkan kalau hidup mereka sudah pasti sempurna dan bahagia selama-lamanya. Boleh jadi mereka justeru ingin berada di posisi kita, figur biasa, yang hidup lebih tenang dan tak tertuntut apapun.

Bisa kita luangkan waktu untuk merenung, tidak membanding-bandingkan, dan mengapresiasi segala hal yang sudah dikaruniakan Tuhan.

~

#2. Bikin Jurnal atau Diary yang Positif-Positif

menulis diary, diary, isi diary, buku diary, diary dan perempuan, sindrom fomo, cara mencegah fomo, cara mengatasi fomo, cara mengobati fomo
Via: quietrev.com

Poin ini merupakan cara yang masih sedang daku pertahankan. Tetap menulis diary, yang tak peduli awal dan tengahnya penuh dengan ungkapan tanpa kontrol, namun pastikan di akhirnya tetap merujuk pada hal-hal yang baik. Kita bisa kembali mengingatkan diri sendiri tentang apa-apa saja yang lebih bermakna dan patut disyukuri.

Peringatkan diri sendiri untuk tidak terlalu fokus pada apa yang tidak bisa kita genggam.

Menulis diary juga secara tidak langsung bisa menyita waktu kita agar tidak selalu dicuri oleh smartphone atau komputer. Apalagi kalau terkoneksi dengan internet. Sebab hal-hal itulah yang bisa membangkitkan virus FOMO.

~

#3. Ramah Terhadap Diri Sendiri

perempuan, ramah terhadap diri sendiri, memeluk diri sendiri, menerima diri sendiri apa adanya, agar tercegah dari sindrom fomo, cara mencegah fomo, cara mengatasi fomo, cara mengobati fomo
Via: thecompassionateself.com

Ramah pada orang lain, ramah juga pada diri sendiri. Salah-satu caranya yaitu dengan tidak memaksakan diri kita untuk sama persis seperti hidup mereka. Di saat mereka tengah memamerkan program workout-nya sampai punya body aduhai, saat mereka tengah tersenyum lepas di puncak gunung, saat mereka tengah berbinar dengan rintisan usahanya yang sudah menghasilkan, atau terbahak-bahak sebab bisa menghadiri konser musisi yang harga tiketnya selangit, dsb, biarkan saja.

Doakan yang terbaik.

Sebisa mungkin kita usir rasa down yang mulai menggerogoti semangat hidup. Jangan sampai kita berubah menjadi sosok antagonis terhadap diri sendiri. Lalu kita berubah menjadi pribadi yang minder, pesimis, dan merasa jadi makhluk gagal yang pernah diciptakan. Tetap fokus. Kita memiliki hidup, mimpi, dan target sendiri.

~

#4. Jangan Sampai Terlalu Terpaku Pada Materi

mobil seleb, sport car seleb, mobil pink nicky minaj, uang bukan segalanya, uang tidak bisa membeli kebahagiaan, materi bukan segalanya, agar tercegah dari sindrom fomo, cara mencegah fomo, cara mengatasi fomo, cara mengobati fomo
Via: reveal.co.uk

Ada momen di mana kita melongo sendiri ketika orang-orang memosting sesuatu, yang kita rasa, kita enggak bisa menjangkaunya. Misalnya tas branded, mobil sport, makan kobe beef, dsb. Semua itu adalah materi atau benda atau hal-hal yang berhubungan dengan uang, tapi kita sulit menampik, kalau kita sudah jealous berat.

Padahal kita tahu ada ungkapan ‘uang enggak bisa membeli kebahagiaan’. Resapi kata-kata itu. Uang tidak bisa menjadi tolok ukur kebahagiaan dan kesuksesan seseorang. Orang yang tak punya uang, yang tak piknik ke tempat-tempat mahal, atau yang tak memiliki benda-benda lux pun berhak dan berpeluang untuk bahagia.

#5. Tak Perlu Grasa-Grusu

Tiap kali membuka media sosial dan melakukan scrolling kelamaan, ada saja hal-hal baru yang naik daun. Emosi kita juga biasanya campur aduk. Kita akan ngakak pas nemuin postingan lucu, berubah pedih saat menyaksikan orang menginjak sepatu bagus nan mahal, melamun saat selebgram makan romantis dengan pasangan, terbakar saat kawan-kawan mengeksplor kedai kopi yang sedang populer, dsb.

Ingin rasanya kita juga segera melakukan semua itu, dan memamerkannya di media sosial.

Semua rasa yang terburu-buru itu membuat kita capek sendiri. Padahal kita tidak berlari marathon, tapi energi ini serasa terkuras. Untuk itu, semestinya kita fokus pada momen yang sedang dijalani detik ini. Santai, tapi konsisten berada di jalan yang baik dan benar.

#6. Pentingkan Hubungan yang Lebih Penting

Manusia menjalani berbagai hubungan. Entah dengan pasangan, keluarga, tetangga, sahabat, rekan kerja, followers, orang asing, dsb. Hubungan yang lebih intim dan penting memerlukan perawatan tersendiri. Salah-satunya dengan menikmati quality time.

Quality time, ya. Bukan sekadar ngumpul bareng, lalu mijit gadget bareng-bareng.

Sesekali keluar dulu dari gegap-gempita internet dan media sosial. Hampiri orang tua yang selalu kesepian menonton tv sendirian, lalu bercakap tentang apapun, bercanda, atau sekadar tertidur di atas paha mereka. Ah, damainya…

#7. Bergerak

Hati galau karena tak ada ide untuk ganti display picture alias DP BBM, atau ikut menambah feeds Instagram, memang menjadi momen yang cukup bikin sesak. Mayoritas di antara kita pun hanya duduk atau terlentang malas di kasur, lalu olahraga jari. Scrolling terus sampai singgah ke banyak profil, ngeklik aneka link, terhipnotis iklan, dsb.

Masih syukur kalau kita sampai mendapat ilmu atau postingan bermanfaat yang bisa diserap. Tetapi kalau tidak, ‘kan bisa rugi. Apalagi kalau sampai mengubah mood jadi buruk, depresi, dan merasa cemas. Kita juga akan larut pada kebiasaan bermalas-malasan yang oh sangat nikmat.

Untuk langkah awal, kita mungkin perlu memaksakan diri untuk bergerak. Entah beneran olahraga, bersih-bersih rumah, mendaki gunung, atau apapun itu yang sekiranya tak membuat diri kita mematung. Bisa kita rasakan betapa segarnya jika sampai keluar keringat. Badan, hati, dan pikiran biasanya akan jadi lebih baikan.

#8. Waspada Kalau-kalau Sindrom FOMO Kita Sudah Parah

Ada beberapa tanda yang mengindikasikan kalau FOMO yang dideritanya sudah cukup kritis. Misalnya tak bisa hidup tanpa membuka media sosial, lupa waktu ketika ngenet, rela tak makan demi membeli kuota, penasaran akut, merasa was-was kalau sampai tak kekinian, dsb. Boleh jadi saat itu kita perlu pertolongan orang. Entah itu sosok yang dipercaya bisa mengubah pola hidup kita atau seorang pakar seperti psikolog.

Pada dasarnya, hidup di zaman sekarang memang sulit untuk tidak terhubung dengan dunia maya. Dunia tersebut memiliki dua sisi yang sangat kontras. Dan, kita perlu  melakukan perlawanan juga jika terlalu terobsesi, sampai-sampai lupa diri.

Ada baiknya untuk hidup seimbang dan kembali fokus pada passion dan makna hidup yang sesungguhnya. Hmm… catatan buat daku pribadi nih, Bro-Sist. Demikian,  8 Tips Agar Bisa Tegas Bilang “No” Sama Sindrom FOMO. #RD

You May Also Like

2 Comments

Comments are closed.

error: