8 Tips Agar Bisa Tegas Bilang “No” Sama Sindrom FOMO

2
SHARE

fomo, fomo adalah, agar tercegah dari sindrom fomo, cara mencegah fomo, cara mengatasi fomo, cara mengobati fomo, menikmati hidup tanpa media sosial, menikmati hidup tanpa internet
Via: feer-mcqueen.com

#5. Tak Perlu Grasa-Grusu

Tiap kali membuka media sosial dan melakukan scrolling kelamaan, ada saja hal-hal baru yang naik daun. Emosi kita juga biasanya campur aduk. Kita akan ngakak pas nemuin postingan lucu, berubah pedih saat menyaksikan orang menginjak sepatu bagus nan mahal, melamun saat selebgram makan romantis dengan pasangan, terbakar saat kawan-kawan mengeksplor kedai kopi yang sedang populer, dsb.

Ingin rasanya kita juga segera melakukan semua itu, dan memamerkannya di media sosial.

Semua rasa yang terburu-buru itu membuat kita capek sendiri. Padahal kita tidak berlari marathon, tapi energi ini serasa terkuras. Untuk itu, semestinya kita fokus pada momen yang sedang dijalani detik ini. Santai, tapi konsisten berada di jalan yang baik dan benar.

#6. Pentingkan Hubungan yang Lebih Penting

Manusia menjalani berbagai hubungan. Entah dengan pasangan, keluarga, tetangga, sahabat, rekan kerja, followers, orang asing, dsb. Hubungan yang lebih intim dan penting memerlukan perawatan tersendiri. Salah-satunya dengan menikmati quality time.

Quality time, ya. Bukan sekadar ngumpul bareng, lalu mijit gadget bareng-bareng.

Sesekali keluar dulu dari gegap-gempita internet dan media sosial. Hampiri orang tua yang selalu kesepian menonton tv sendirian, lalu bercakap tentang apapun, bercanda, atau sekadar tertidur di atas paha mereka. Ah, damainya…

#7. Bergerak

Hati galau karena tak ada ide untuk ganti display picture alias DP BBM, atau ikut menambah feeds Instagram, memang menjadi momen yang cukup bikin sesak. Mayoritas di antara kita pun hanya duduk atau terlentang malas di kasur, lalu olahraga jari. Scrolling terus sampai singgah ke banyak profil, ngeklik aneka link, terhipnotis iklan, dsb.

Masih syukur kalau kita sampai mendapat ilmu atau postingan bermanfaat yang bisa diserap. Tetapi kalau tidak, ‘kan bisa rugi. Apalagi kalau sampai mengubah mood jadi buruk, depresi, dan merasa cemas. Kita juga akan larut pada kebiasaan bermalas-malasan yang oh sangat nikmat.

Untuk langkah awal, kita mungkin perlu memaksakan diri untuk bergerak. Entah beneran olahraga, bersih-bersih rumah, mendaki gunung, atau apapun itu yang sekiranya tak membuat diri kita mematung. Bisa kita rasakan betapa segarnya jika sampai keluar keringat. Badan, hati, dan pikiran biasanya akan jadi lebih baikan.

Baca Juga :  6 Langkah untuk Mendapatkan Kemerdekaan Sejati Bagi Diri Sendiri

#8. Waspada Kalau-kalau Sindrom FOMO Kita Sudah Parah

Ada beberapa tanda yang mengindikasikan kalau FOMO yang dideritanya sudah cukup kritis. Misalnya tak bisa hidup tanpa membuka media sosial, lupa waktu ketika ngenet, rela tak makan demi membeli kuota, penasaran akut, merasa was-was kalau sampai tak kekinian, dsb. Boleh jadi saat itu kita perlu pertolongan orang. Entah itu sosok yang dipercaya bisa mengubah pola hidup kita atau seorang pakar seperti psikolog.

Pada dasarnya, hidup di zaman sekarang memang sulit untuk tidak terhubung dengan dunia maya. Dunia tersebut memiliki dua sisi yang sangat kontras. Dan, kita perlu  melakukan perlawanan juga jika terlalu terobsesi, sampai-sampai lupa diri.

Ada baiknya untuk hidup seimbang dan kembali fokus pada passion dan makna hidup yang sesungguhnya. Hmm… catatan buat daku pribadi nih, Bro-Sist. Demikian,  8 Tips Agar Bisa Tegas Bilang “No” Sama Sindrom FOMO. #RD

1
2
SHARE

2 COMMENTS

Comments are closed.