9 Hal yang Dilakukan untuk Mengurangi Penyesalan Setelah Bapak Berpulang

2
SHARE
penyesalan, cara mengurangi penyesalan, mengurangi rasa penyesalan, cara mengurangi rasa penyesalan
Image via: tinybuddha.com

Beberapa langkah lagi menuju rumah istri Bapak, indera pendengaran saya sudah menangkap jeritan histeris dari dalam. Suara itu milik nenek dan adik-adik Bapak.

Seketika kaki saya seperti berpijak pada gundukan kapas. Rasanya lemas. Lebih lagi ketika saya membuka pintu dan mendapati Bapak sudah terbujur kaku.

Saya sangat menyesal karena tidak berada di sisi Bapak, tepat di detik-detik terakhir hidupnya. Saya sangat menyesal karena datang terlambat, ketika Bapak sudah tidak bernyawa.

Seasing apa pun hubungan saya dengan Bapak, rasa sedih itu tetap ada dan merayap ke dalam jiwa. Saya sempat menyatakan perasaan ini pada seorang sahabat, Nonk, dua hari sebelum Bapak wafat.

Menyaksikan sosok Bapak yang dulunya muda, kuat, dan tangguh … lalu pelan-pelan menua, melemah, sakit-sakitan, dan hidup dalam kerepotan rupanya bisa benar-benar menyiksa. Saya merasa takut, tapi tidak punya daya upaya untuk memulihkan keadaannya.

Pada waktu itu, kalau diingat-ingat, saya melakukan hal-hal sebagai berikut:

1Menangis

Image via: herviewfromhome.com

Saya mencoba menghadapi kenyataan dan semua perasaan yang menyerang. Saya sadari bahwa Bapak sudah tiada di dunia. Bapak sudah menjadi jenazah yang tubuhnya akan dikubur di dalam tanah.

Saya hadapi rasa sesal, rasa sedih, rasa sakit, dan rasa marah pada diri sendiri. Saya tidak menahan air mata. Cairan hangat nan bening itu meluncur bebas di pipi. Biar saja.

2Menyebarkan Informasi Kematian

Image via: uswitch.com

Saya menginformasikan kematian Bapak pada WA Group keluarga, lalu pada tunangan. Saya ingin berbagi beban rasa atau setidaknya mengundang sosok-sosok yang membesarkan hati. Sayang sekali, dia tidak langsung membaca isi chat.

Tetapi saya merasa ‘terbantu’ dengan ada usapan di pundak dari saudara-saudara. Tangisan kakak, adik, bibi, dan orang-orang yang mengenal Bapak juga membuat saya sadar bahwa kesedihan ini luber ke semuanya. Sebagian besar dari mereka juga merasakan penyesalan yang sama dengan saya, lantaran tidak membersamai Bapak ketika menemui ajalnya.

Baca Juga :  Cerita PPL; The Fifteenth Meeting in X.5

Beberapa jam setelah Bapak meninggal, saya juga memosting WA Story. Saya menginformasikan kematian Bapak, sekaligus meminta doa bagi siapa saja orang-orang baik yang melihatnya. Hanya dalam kurun waktu beberapa menit, banyak kontak WA yang memberikan ucapan duka sekaligus doa. Namun semua chat itu tidak buru-buru saya buka, apalagi balas.

Keesokan harinya, saya juga memosting Instagram Story. Saya sangat berterima kasih dan memberi apresiasi besar kepada mereka yang memberi ucapan duka dan doa. Bahkan ada yang membantu “mengirim hadiah” untuk Bapak.

Langkah ini membuat gejolak penyesalan saya sedikit teralihkan.

3Memaafkan Diri Sendiri

Image via: oprah.com

Tentu saja langkah ini sangat sulit. Terlalu banyak hal yang membuat saya menyesal. Jika terus diungkit, saya jadi ingin menampar dan melempar diri sendiri.

Sampai detik ini pun, saya masih belajar untuk menipiskan rasa bersalah yang terus menjalar dan menjadi beban berat. Tetapi saya mesti terus mengingatkan diri, kalau semua yang sudah terjadi tidak bisa diedit lagi. Saya hanya bisa menerima, sambil memberi penghormatan terakhir pada Bapak.

4Tetap Komunikasi dengan Bapak

Image via: islam.nu.or.id

Normalnya, saya tidak akan pernah bisa lagi komunikasi langsung dengan Bapak. Tetapi saya tetap mengoceh dalam hati, untuk Bapak, bahwa saya menyesal dan merasakan kecamuk rasa yang sulit diungkapkan. Ketika mengantarkannya ke makam, saya menyentuh nisannya, dan terus mengatakan apa yang selama ini dipendam. Entahlah Bapak mengetahuinya atau tidak, saya abai saja.

5Sabar dan Tabah

Image via: wikihow.com

Rata-rata para pelayat memberikan nasihat agar saya tabah dan sabar. Mereka mengingatkan saya, bahwa apa yang terjadi adalah takdir Ilahi. Semua sudah jadi ketentuan Tuhan yang tidak bisa dibantahkan.

Apa yang mereka bilang memang benar. Tetapi saya perlu waktu untuk ‘pulih’ dari takdir yang tidak disangka ini.

Baca Juga :  Cerita PPL; The Fourteenth Meeting in X.6

6Berusaha Agar Tidak Berlarut-Larut

Image via: reshot.com

Setelah meninggalkan makam Bapak, saya begitu lelah secara fisik dan mental. Nafsu makan berkurang, waktu tidur terganggu, suasana hati tidak menentu, memori atau kenangan terus berkelebatan, dll. Tetapi saya tidak bisa membiarkan diri untuk terus tenggelam dalam kesedihan berkepanjangan.

Salah-satu cara efektif yang bisa saya lakukan, yaitu dengan menulis. Saya kembali “bekerja” menulis konten untuk blog lain dan untuk blog ini. Saya juga menumpahkan perasaan pada note khusus.

7Memberi Apresiasi

Image via: thenaturalnurturer.com

Ucapan belasungkawa, doa, dan dukungan yang datang dari media sosial cukup efektif membesarkan hati saya. Apalagi mereka yang datang langsung untuk memberikan penghormatan terakhir pada Bapak. Termasuk juga pada mereka yang mengirimkan uang takziah, yang segera saya pergunakan untuk keperluan tahlilan.

Saya sangat berterima kasih dan memberi apresiasi besar kepada mereka. Tentu saja saya tidak bisa menyebutkan satu per satu.

Beberapa diantaranya yaitu Bigbro yang tiba-tiba hadir mengiringi keranda Bapak, bahkan menyertai proses pemakaman sampai selesai. Lalu keluarga tunangan yang datang takziah. Rupanya mereka sudah berniat berkunjung setelah asar, namun kedatangan mereka bukan lagi untuk menengok melainkan melayat.

Kemudian tunangan saya, yang langsung izin pulang kerja dan bela-belain menempuh perjalanan via motor selama 3-4 jam. Setelah meminta maaf pada saya karena telat membuka WA, dia memberikan ungkapan duka serta doa. Rupanya setelah chattingan, diam-diam dia nekad berlomba dengan waktu demi menyolati jenazah Bapak, walau pada akhirnya dia “kalah”. Sebab ketika dia tiba, Bapak sudah dimakamkan.

Setelah menyadari ekspresi sesal dan kecewanya, gantian saya yang menghiburnya. Saya memastikan padanya, bahwa Bapak pasti mengetahui dan mengapresiasi usaha kerasnya. Keesokan harinya, pada pukul setengah 6 pagi, kami melakukan ziarah kubur bersama keluarga.

Baca Juga :  Bawang Goreng 4 Rasa yang Menambah Nafsu Makan Dalam 3 Detik atau Kurang

8Mendukung Keluarga

Image via: bcmhsus.ca

Selain saya, kakak serta adik saya juga bersedih dan menyesal. Demikian juga dengan ibu, yang merupakan mantan istri Bapak. Di luar dari kisah mereka,  beliau juga pasti berduka.

Tanpa berkata-kata, kami semua saling butuh dukungan. Semua memberi, semua menerima. Kami adalah tim.

9Menerima Status Baru

Image via: discoveryseries.org

Seiring dengan kepergian Bapak, kini saya menjadi anak yatim. Perubahan ‘status’ ini tidak mendefinisikan saya lebih buruk atau lebih baik. Hanya saja, saya sudah tidak memiliki Bapak lagi karena ditinggal mati.

Larut dalam penyesalan tidak akan membuat saya bergerak ke depan. Justru saya semakin terperangkap dalam ruang gelap. Maka meski pun sulit, pelan-pelan saya mesti memupus rasa penyesalan itu. Saya ingin mengolahnya menjadi motivasi untuk menjadi lebih baik dan lebih berbahagia lagi.

Saya yakin, Bapak pun tidak akan semringah kalau anak-anaknya berkubang dalam rasa bersalah. 9 Hal yang Dilakukan untuk Mengurangi Penyesalan Setelah Bapak Berpulang. #RD

SHARE

2 COMMENTS

    • Ya Allah, Mbak, aku pengin kayak gitu. Telat beberapa menit sebelum beliau mengembuskan napas terakhirnya. :/

      Semoga husnul khatimah ya, Mbak. Aamiin….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.