Apakah Kita Tidak Boleh Memberi Label Introvert dan Ekstrovert Pada Diri Sendiri?

2
SHARE
label sebagai introvert, melabeli diri sebagai introvert, kelebihan orang introvert, sifat introvert, faktor penyebab introvert, tipe kepribadian introvert
Image via: theemotionmachine.com

Label introvert dan ekstrovert itu omong kosong!”

“Tipe kepribadian itu enggak sesempit introvert dan ekstrovert doang!”

“Gak usah melabeli diri, nanti hidupmu serba terbatas.”

Berbagai komentar di atas, saya lihat, sebagai bentuk perhatian dan kepedulian.

Di satu sisi, saya memiliki kecenderungan tipe kepribadian sendiri, yakni introvert. Di sisi lain, saya mengakui kalau tipe kepribadian itu memang kompleks. Tidak sebatas hitam dan putih. Tidak sebatas introvert dan ekstrovert.

Pernahkah membaca atau mendengar ada seseorang berujar, misalnya:

“Saya A. Saya pendiam, berarti saya introvert.’

“Saya B. Saya gak akan sanggup nerima challenge untuk nonton ke bioskop sendirian, fixed saya ini ekstovert”.

Memang tidak sesederhana itu. Bisa saja A, di mata sahabat terdekatnya, adalah orang paling seru yang hobinya ngegibah sambil rebahan bersama kawan-kawan.

Bisa juga B, di mata rekan kerjanya, adalah sosok yang profesional dan berbicara seadanya.

Sehingga ada situasi tertentu, di mana introvert menikmati pesta atau nongkrong bersama teman. Ada juga momen, di mana ekstrovert sedang ingin diam dan sendirian.

Label Introvert dan Ekstrovert sering Dijadikan Alibi atau Pembatas Diri

hidup introvert dan ekstrovert, hidup sebagai introvert dan ekstrovert, motto hidup introvert dan ekstrovert, jangan jadikan kepribadian introvert dan ekstrovert sebagai alibi, jangan jadikan kepribadian introvert dan ekstrovert sebagai alasan
Image via: cdn.lifehack.org

Kemudian, kadang jadi masalah juga kalau seseorang melabeli diri – terus menjadikan label tersebut sebagai alibi. Misalnya ketika A mengaku introvert, dia sering bilang;

‘Jangan bikin saya bekerja bersama tim, ya, soalnya saya introvert’.

‘Halah persetan dengan basa-basi dan senyum ramah, saya ini ‘kan introvert, langsung saja deh ke poinnya’.

‘Sebagai introvert, saya enggak akan pernah bisa berbicara di depan umum. Titik.’

‘Mana ada introvert yang suka keramaian? Sudah, gak apa-apa, saya hidup sendirian saja. Sudah nyaman, kok.’

Ya, semacam kesalahan atau “dosa” seorang introvert, ya.

Baca Juga :  7 Alasan Kenapa Kebanyakan Orang Introvert Lebih Suka Menulis

Konteks ini berlaku juga pada ekstrovert. Misalnya dia mendominasi pembicaraan dan marah ketika diingatkan untuk diam, lalu ngeles, ‘saya ini ekstrovert, jadi mulut saya memang didesain untuk berbicara banyak dan keras’ atau ketika ditawari pekerjaan terkait menulis, dia menolak dan beralasan, ‘itu ‘kan kerjaannya introvert, saya gak mungkin bisa!’.

Mengundang ‘judgement’ orang

wanita introvert dan ekstrovert, introvert dan ekstrovert, introvert dan ekstrovert artinya, tipe kribadian introvert dan ekstrovert, label sebagai introvert, melabeli diri sebagai introvert,
Ilustrator: Gemma Correll

Hal yang mungkin “ditakutkan” juga, yaitu penilaian final atau penghakiman dari orang lain. Misalnya ketika kamu mengaku sebagai introvert, orang lain bisa berpikiran macam-macam. Sebab, masih banyak orang yang ketika mendengar istilah ‘introvert’, langsung ingat sifat-sifat seperti pendiam, pemalu, cupu, temannya sedikit, dll. Padahal tidak selamanya demikian.

Dalam kondisi lain, sahabat karib kamu mengernyitkan dahi ketika kamu mengakui diri sebagai introvert. Bukan tidak mungkin mereka akan bertanya-tanya, ‘kamu seriusan introvert? Kok bawel, sih? Kok suka main, sih? Kok berani ngisi sambutan dalam acara, sih? Dll’. Nah, kalau sudah demikian, apa kamu termasuk “introvert yang punya gangguan orientasi”? Hehehe. Bercanda.

Pro-Kontra Melabeli Tipe Kepribadian Diri Sendiri

“Label can hurt or help, depending on how you use them.”

Demikianlah yang ditulis oleh Sophia Dembling via Psychology Today. Arti dari kalimat tersebut adalah, ‘label bisa menyakiti atau menolong, tergantung bagaimana kamu menggunakannya’.

Jadi, selama ini “pelabelan” diri sebagai introvert atau ekstrovert lebih banyak menyakiti atau justru menolong?

Sisi Positif

introvert dan ekstrovert, introvert dan ekstrovert artinya, tipe kribadian introvert dan ekstrovert, label sebagai introvert, melabeli diri sebagai introvert,
Image via: goonj.pk

Ketika ada sayup-sayup suara tidak setuju pada pelabelan introvert-ekstrovert, tidak dipungkiri, banyak suara lantang yang mengkampenyekan gerakan introvert.

Seperti yang ditulis Sophia Dembling, bahwa label itu bisa menyakiti atau menolong – tergantung penggunaannya.

Saya pribadi menulis blog ini, lalu membuat halaman khusus untuk tema introvert, tentu karena alasan tertentu.

Baca Juga :  5 Hal yang Harus Dipertimbangkan Introvert Ketika Ingin Menjadi Freelancer atau Tenaga Lepas

Dulu saya dan mungkin orang introvert lain, merasa tidak percaya diri. Rasanya ada yang salah dan aneh dalam sikap, karakter, atau kepribadian. Kadang suka bertanya-tanya, ‘kok orang lain begitu, kok saya malah begini?’.

Usut punya usut, ada istilah bernama ‘introvert’ yang menjelaskan berbagai karakter. Lalu mayoritas dari karakter tersebut terasa cocok. Maka ada semacam sensasi ‘klik’.

Saya pun menulisnya dalam “9 Langkah Bagi Orang Berkepribadian Introvert untuk Menerima Jati Dirinya Sendiri”.

Rasanya lega dan ternyata seru kalau menelusuri kepribadian diri sendiri. Apalagi ketika menyadari banyak orang yang memiliki tipe sama. Lalu sebagai ‘goal’-nya, kamu jadi menerima dan merangkul dirimu sendiri.

Kamu tidak aneh, hanya saja memang berbeda. Energi orang lain tampak tidak habis-habis ketika bersosialisasi. Namun energi kamu justru terbatas kalau sudah bersosialisasi. Bukan berarti kamu tidak perlu bersosialisasi sama-sekali, tetapi kamu memerlukan metode dan waktu tersendiri untuk “mengisi ulang energi” tersebut.

Saya rasa, penerimaan bisa menjadi kunci. Bukankah menerima bisa menjadi awal untuk mencintai diri sendiri?

Kamu tidak perlu terus-terusan khawatir dan bahkan terjebak pada kepura-puraan demi menjadi sama dengan kebanyakan orang. Padahal kamu tidak nyaman.

Apa pun tipe kepribadianmu, semoga sama-sama bisa bersinar, ya. Apakah Kita Tidak Boleh Memberi Label Introvert dan Ekstrovert Pada Diri Sendiri? #RD

SHARE

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 + six =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.