Bagaimana Kalau Selama Ini Kamu Menjalani Toxic Relationship dengan Diri Sendiri?

2
SHARE
toxic relationship arti, toxic relationship itu apa, toxic relationship dengan diri sendiri, hubungan toxic relationship dengan diri sendiri
Image via: minutes.co

Entah sudah berapa lama kamu menjalin hubungan dengan diri sendiri. Mungkin sudah belasan tahun? Puluhan tahun?

Namun selama itu, ternyata diri sendiri tidak pandai mengapresiasi. Sekeras apa pun kamu berusaha, diri sendiri selalu merasa tidak cukup atau puas. Boro-boro berterima kasih, yang ada kamu disuruh untuk terus belajar dan bekerja lebih keras. Kadang kamu sampai sesak menjalaninya.

Ternyata diri sendiri tidak lihai mengatur waktu. Sudah tahu ada waktu-waktu untuk beristirahat, kamu malah dipaksa untuk produktif. Kalau kamu rebahan saja, diri sendiri langsung menudingmu sebagai pemalas dan manusia tiada guna.

Diri sendiri membuat segala sesuatunya jadi lebih berat dan serius. Selera humormu sudah lama tidak terasah. Bahkan kamu jadi kaku untuk tersenyum.

Diri sendiri sering mendahulukan orang lain. Kamu kadang terpaksa mengatakan ‘iya’ dan ‘iya’ terhadap orang-orang yang meminta bantuanmu. Padahal kamu pun sedang butuh. Padahal kamu pun sedang lelah. Padahal kamu pun sedang butuh diri sendiri untuk menikmati me time.

Padahal kamu … sebenarnya tidak mampu.

Tetapi, ya begitulah diri sendiri, kadang memaksakan energi demi membuat orang lain bahagia. Kalau tidak, takut mengecewakan orang lain, katanya. Terus takut tidak tenang karena dihantui rasa bersalah.

cintai diri sendiri, sayangi diri sendiri, toxic relationship arti, toxic relationship itu apa, toxic relationship dengan diri sendiri, hubungan toxic relationship dengan diri sendiri
Image via: favim.com

Diri sendiri kerap menimbulkan ketidaknyamanan, khususnya ketika berselancar di media sosial. diri sendiri begitu suka membandingkan dengan orang lain. Dengan yang lebih cakep lah, dengan yang pasangannya lebih mesra lah, dengan yang memamerkan kekayaannya lah, dengan yang lebih populer lah, dst.

Kamu jadi stres sendiri dengan nyekrol lama-lama, memikirkan bagaimana agar kamu juga seperti mereka. Sampai kamu berangan-angan punya tubuh, teman-teman, baju, gaya hidup, dan tempat nongkrong seperti orang-orang yang dikagumi diri sendiri.

Baca Juga :  10 Hal ini Tidak Dilakukan oleh "Bibit Unggul" yang Berani dan Mandiri

Diri sendiri sering merasa tidak pernah cukup. Hobinya mengeluh setiap saat. Sesekali sih masih kamu maklumi. Namun kalau sepanjang waktu, tentu saja pikiran kamu jadi buntu. Padahal kerja keras kamu untuk diri sendiri juga. Walau hasilnya belum sesuai impian, setidaknya kamu sudah berusaha.

Bahkan ketika orang lain menyakitimu atau berbuat salah padamu, diri sendiri justru memojokanmu, seakan-akan kamu pihak paling berdosa dan pantas menerima karma.

Atau pun ketika kamu yang memang salah terhadap orang lain, diri sendiri jadi hakim yang menganggapmu tidak pantas menerima ampunan dan lebih pantas menanggung hukuman.

Diri sendiri seakan lupa bahwa kamu hanya manusia biasa. Kamu tidak wajib untuk sempurna!

Banyak keputusan diri sendiri yang justru menempatkanmu pada situasi yang menderita, tidak aman, dan tidak nyaman. Banyak keputusan keliru, karena diri sendiri enggan mempertemukan otak dan hati atau logika dan perasaan. Namun ujung-ujungnya, kamu sendiri yang kena getahnya. Lagi-lagi, kamu mesti merasa bersalah dan mempertanggungjawabkannya.

Diri sendiri suka terjebak untuk menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Padahal kamu ingin, kamu dan diri sendiri bisa menciptakan ketenangan dan kebahagiaan tanpa harus bergantung pada yang lain. Sebab ketika orang lain itu justru mengecewakan, kamu dan diri sendiri sama-sama sakit.

Dalam beberapa kesempatan, diri sendiri begitu cerewet. Kamu dikomentari macam-macam. Kamu jelek lah, enggak berfaedah lah, enggak becus lah, enggak berbakat lah, blangsak lah, dan kata-kata negatif lain yang bikin kamu down. Malah kadang kamu ‘disuruh’ jadi orang lain agar bisa disukai dan dianggap. Padahal kamu enggak nyaman melakukannya.

Ada apa dengan hubungan kamu dan dirimu sendiri? Kenapa tidak begitu bersahabat? Kenapa se-toxic ini?

Baca Juga :  5 Solusi Ketika Keadaan Mentalmu Sedang Lelah Parah

Kamu ingin didengar, diterima, ditemani, dipahami, dan dicintai, setidaknya oleh dirimu sendiri. Sebab, memang itulah tugas diri sendiri. Orang lain sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing.

Kamu rasa, kamu harus memulai hubungan baru dengan diri sendiri. Hubungan yang membuatmu merasa berharga dan terhormat. Hubungan yang membuatmu leluasa untuk mengungkapkan apa yang kamu pikirkan dan apa yang kamu rasakan.

Kamu dan dirimu mesti introspeksi diri. Kamu dan dirimu mesti terkoneksi lagi. Bagaimana Kalau Selama Ini Kamu Menjalani Toxic Relationship dengan Diri Sendiri? #RD

SHARE

2 COMMENTS

  1. Kalau saya biasa nyebut hal semacem ini tuh “Berdamai dengan Diri Sendiri”~
    Kedengarannya emang mudah, buuuuut…~ huuh
    *eh sama ga yah kondisinya~ xD
    Sama deh kayanya begitu juga~ yah gitu lah intine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty + one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.