Bapak Berpulang, Janjinya Jadi Terbengkalai

0
SHARE
bapak berpulang, bapak meninggal, meninggalnya bapak, bapak berpulang janjinya terbengkalai
Image via: fulfillmentdaily.com

“Uh, saya jadi pengin merokok, nih!”

Rasa yang membuncah, yang membuat saya berseru demikian. Tepat ketika ada saudara perempuan yang bertandang ke rumah. Kebetulan dia memang sedang nyebat dan ekspresinya itu santuy sekali.

Tetapi seruan saya hanya dibalas dengan tawa. Saya tidak benar-benar menyalakan rokok dan menghisapnya.

Akhir-akhir ini, isi pikiran didominasi oleh kondisi kesehatan Bapak dan rencana pernikahan saya. Khusus tentang Bapak, saya memang ‘sudah curiga’ pada Tuhan. Bila dilihat dari keadaan, saya mestinya tidak kaget kalau beliau tidak bisa mempertahankan napasnya terlalu lama.

Tetapi saya memendam rasa takut dan khawatir itu di dada.

Walau Bagaimana pun, Bapak adalah Bapak

cerita tentang bapak, anak broken home cerita tentang ayah, bapak berpulang, bapak meninggal, meninggalnya bapak, bapak berpulang janjinya terbengkalai
Image via: positivepsychology.com

Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya sudah terbiasa tinggal di rumah tanpa sosok Bapak. Ya, orang tua memang memutuskan untuk berpisah saja. Saya sendiri tumbuh sebagai tipikal anak broken home. 

Hubungan kami semakin renggang karena Bapak menikah lagi dan saya mulai sibuk menghadapi quarter life crisis.

Saya juga mulai fokus membarengi ibu untuk membiayai kebutuhan sehari-hari, yang lagi-lagi sudah terbiasa tanpa kontribusi Bapak. Saya hanya bisa menyumbang ongkos kuliah kedua adik dan setoran listrik. Kebutuhan lain, yang lebih banyak, duh … masih menjadi beban ibu.

Sementara itu, kakak-kakak saya konsentrasi dengan kehidupan rumah tangga mereka. Saya memaklumi kalau mereka tidak ikut membiayai kuliah saya. Saya memaklumi kalau ibu menjadi pembayar tunggal, sampai menjual emas dan berutang ke sana-sini.

Tetapi ketika kedua adik saya memutuskan menjadi mahasiswa, saya mengerahkan segala upaya untuk membiayai mereka. Terima kasih banyak, Bigbro, yang sudah menjadi sahabat – kakak – sekaligus rekan bisnis yang sifat baiknya sudah kelewatan!

Meski dalam posisi ‘punya orang tua lengkap rasa orang tua single parent’, ibu saya selalu menegaskan kalau Bapak tetaplah Bapak. Saya harus menghormatinya. Kalau ada rezeki berlebih, saya disarankan untuk memberi juga padanya.

Ya, di tengah kerasnya dunia pada ibu, selembut itulah hati beliau.

Bapak Meninggal, Janjinya Terbengkalai

Baca Juga :  1 Rencana Jika Memiliki Kesempatan Menjadi Penguasa
penyesalan, cerita tentang bapak, anak broken home cerita tentang ayah, bapak berpulang, bapak meninggal, meninggalnya bapak, bapak berpulang janjinya terbengkalai
Image via: goodmenproject.com

Sejak Idul Fitri 2019, Bapak sudah mengeluh sakit dan tidak bisa leluasa menjalankan usahanya. Sejak itu, kakak dan adik bungsu saya yang mengelolanya. Adik saya sampai resign kerja.

Sejak itu pula, kami – anaknya, mulai dekat. Sesekali saya menengok beliau, membawakan makanan, mendengarkan cerita masa lalunya, meresapi pengakuannya, memaklumi penyesalannya, mengusap air matanya, meminta maaf darinya, memberi maaf juga padanya, dan mewakili ibu untuk meminta sekaligus memberi maaf padanya juga.

Kakak dan adik saya pun melakukan hal sama secara bergiliran. Tidak lupa, kami memberikan uang atau makanan pada istri Bapak yang sudah mengurus dengan sabar.

Bapak pasti menangis jika saya sudah bercerita tentang rencana masa depan bersama seorang lelaki pilihan. Beliau menangis ketika saya mengenalkannya. Beliau menangis ketika saya dilamar. Beliau menangis ketika mengetahui rencana pernikahan kami berdua. Beliau menangis ketika saya memintanya untuk pulih agar bisa menjadi wali nikah kelak.

Di sela-sela isak air matanya, beliau berjanji akan mengerahkan kemampuan agar bisa sembuh, agar bisa menjadi wali nikah saya. Janji itu ditunjukkan dengan bukti-bukti nyata. Beliau jadi mau makan agak banyak, mau dirawat di RS, mau menjalani terapi, mau menyumbang uang, dll. Termasuk mau mempersiapkan ‘kostum’ untuk Hari H.

Saya sendiri hanya meminta hak sebagai anak perempuan bungsunya. Apalagi beliau juga menjadi wali nikah untuk kakak dan bibi-bibi saya.

Tetapi setelah menghabiskan hidup cukup lama di pembaringan, beliau malah membuat saya jadi resmi berstatus sebagai anak yatim. Beliau mengembuskan napas terakhir pada Kamis, 05 September 2019, pukul setengah 12-an siang.

Beliau malah berpulang, sehingga janjinya jadi terbengkalai.

Hanya Tuhan yang tahu berapa lembar tisu yang sudah menyeka air mata saya. Mungkin saya egois, karena menginginkan beliau untuk berjuang lebih keras melawan penyakitnya. Sehingga kami bisa bersama-sama mengulum senyum di sebuah hari bahagia.

Baca Juga :  Kata-kata Bijak Plagiat

Tetapi saya tidak pernah benar-benar tahu, betapa beliau sudah berjuang mati-matian. Sampai akhirnya beliau menyerah dan menyudahi perang menyiksa yang dihadapinya.

Mungkin diam-diam beliau sudah begitu rindu untuk “pulang” dan menemui Penciptanya dalam damai. Saya mesti lepas dan ikhlas.

Akhirnya, saya hanya bisa berterima kasih atas semua kebaikan Bapak. Saya hanya bisa meminta maaf atas semua salah dan khilaf pada Bapak. Saya hanya bisa mendoakan agar Tuhan mengampuni dan menyayangi Bapak.

Saya hanya bisa melakukan itu semua di hadapan nisan Bapak.

Sampai jumpa lagi “di sana”, Bapak. Bapak Berpulang, Janjinya Jadi Terbengkalai. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

9 − eight =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.