Barusan Bahagia, Tak Lama Kemudian Malah Bersedih

0
SHARE
bahagia dan sedih, bahagia dan derita, bahagia dan kecewa, bahagia dan sedih itu satu paket, bahagia dan sedih itu beda tipis
Image via: mangobaaz.com

Jangan dulu bertanya, ‘apakah kamu bahagia seumur hidupmu?’ atau ‘apakah kamu bersedih seumur hidupmu?’.

Dalam kurun waktu 24 jam saja, apa kamu selalu bahagia? Apa kamu selalu bersedih? Atau justru bahagia dan sedih itu datang silih berganti dalam sehari?

Well … saya masih berusaha untuk mempertahankan cinta pada diri sendiri, bahkan saya pun sering mengkampanyekannya di blog atau instagram @rosedianadiary. Tetapi saya juga tidak menampik momen, di mana saya membenci diri sendiri.

Misalnya ketika mood sedang cerah dan jernih, tapi tak lama kemudian malah berubah jadi keruh dan pedih.

Pernahkah merasakan momen demikian?

Contohnya ketika nyekrol media sosial. Saya bisa mesem-mesem bahkan tertawa ngakak karena beberapa postingan, tetapi semakin jempol ini bergerak, saya bisa menemukan postingan lain (foto/gif/video) yang bikin suasana hati jadi pahit. Seketika itu roman mesem-mesem dan jejak tawa saya jadi sirna.

Semudah itu suasana hati terombang-ambing.

Orang selalu bilang, ‘jangan lupa bahagia’, ‘tetaplah berbahagia’, atau ‘bahagia selalu!’.

Saya jadi penasaran, apakah ada manusia yang berhasil menerapkannya. Jangan dulu seumur hidup, selama 24 jam saja, apakah ada sosok yang mood-nya tidak terpengaruh sama-sekali. Bahagiaaa terus, gitu. Ada?

bahagia dan sedih itu satu paket, bahagia dan sedih itu datangnya satu paket, bahagia dan sedih, bahagia dan derita, bahagia dan kecewa,
Image via: unsplash.com

Sebagai manusia biasa, saya pun selalu berusaha menjaga kebahagiaan agar tetap dalam genggaman. Saya coba menerapkan apa yang disarankan orang-orang. Tentang mencintai diri sendirilah, tentang sikap masa bodoh terhadap komentar orang lainlah, tentang menerimalah, tentang melepaskanlah, dan sebagainya.

Tetapi tidak selamanya ‘teori’ tersebut sejalan dengan praktik. Ada saja yang lepas dari genggaman.

Saya tidak pernah tahu kapan kebahagiaan sejati – yang bukan pencitraan itu – bisa bertahan.

Bahkan ketika momen bahagia itu datang, saya sendiri yang selalu mengacaukannya. Apalagi kalau saya sampai overthinking. Duh!

Baca Juga :  Persembahan Dari Fans Indonesia; #JKTWantsTheCorrs Mash Up

Misalnya ketika mendapat rezeki berupa materi yang banyak, kadang muncul skenario buruk; jangan-jangan saya akan jatuh sakit.

Ketika bersahabat dengan orang-orang baik, kadang muncul skenario buruk; nanti ada momen yang memisahkan jarak dan ikatan batin dengan sahabat tersebut.

Atau ketika mendapat pasangan yang baik, menarik, penyayang, dan setia  – kadang muncul skenario buruk; jangan-jangan usianya hanya sebentar atau jangan-jangan dia akan berkhianat dan menyakiti sesakit-sakitnya.

Bahkan ketika meresapi musik sambil menyeruput kopi favorit, muncul skenario buruk seperti kedatangan musibah dadakan sehingga musik dan kopi itu tidak bisa dinikmati lagi.

Dan masih banyak lagi perumpamaan lain. Hanya umpama, ya.

Entahlah … kadang kebahagiaan yang sedang dirasakan itu seperti ‘too good to be true’. Terlalu bagus untuk jadi kenyataan.

Kebahagiaan itu sering bikin saya ‘curiga’.

Kebahagiaan juga sering bikin hati saya lemah.

Sehingga saya kerap berburuk sangka, kalau selepas tawa itu akan ada air mata. Sama seperti hukum alam; setelah terang akan ada gelap dan vice versa (berlaku sebaliknya).

Pasalnya, kadang prediksi saya tepat. Tidak meleset. Barusan bahagia, sejurus kemudian malah berduka.

kesedihan, kesedihanku, kesedihan hati, kesedihan yang mendalam, momen sedih, momen bahagia
Image via: byrslf.co

Mungkin saya sudah ‘merasa aman dan nyaman’ dengan kesedihan. Maksudnya ketika berada di titik bawah, saya masih bernapas lega karena masih percaya kalau momen bahagia sedang dipersiapkan di depan. Tetapi kalau kebahagiaan yang didahulukan, kadang saya justru was-was kesedihan akan menyambut di depan.

Ya, kebahagiaan ternyata serapuh itu. Momennya bisa rusak dalam sekejap. Penyebabnya juga tidak jauh-jauh, kadang justru diri sendiri.

Maka … tangisan dalam diam, dialog menyedihkan dalam hati, status atau postingan muram, dan ekspresi murung lain justru terasa lebih familier. Dekat dan akrab.

Baca Juga :  Cerita PPL; The Last Meeting in X.5

Sementara tawa sampai mulut lebar dan mata berair menjadi momen yang cukup langka. Sekalinya terjadi … di satu sisi ada sensasi senang, di sisi lain ada kekhawatiran – takut tawa maksimal itu justru menjelma jadi air mata.

Kondisi ini tentu bikin frustrasi, ya?

Saya pun berharap tidak pernah berpikir demikian – tidak pernah overthinking begitu.

Saya paham, orang lain yang tidak memiliki pemikiran sama, pasti tidak akan pernah memahami.

Bahkan mungkin saya dianggap aneh, lebay, tidak tahu bersyukur, dan terlalu mendramatisir. Saya memakluminya. Tetapi saya tidak bisa mengelak dan berpura-pura kalau saya tidak pernah merasakannya. Sebab, saya memang merasakannya.

Usaha terbaik yang bisa saya lakukan, yaitu tidak larut terhadap pikiran negatif dan menolak untuk tenggelam dalam kesedihan serta penderitaan.

Ya, setidaknya sampai sekarang saya masih berusaha dan terus belajar.

Kebahagiaan sejati memang tidak wajib tampak pada senyuman lebar dan postingan media sosial. Pada akhirnya, kebahagiaan sejati akan selalu dirasakan oleh hati. Barusan Bahagia, Tak Lama Kemudian Malah Bersedih. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.