Benarkah Gerakan Di Rumah Saja Menjadi Surga Bagi Orang Introvert?

0
SHARE
kesehatan mental introvert
Image via: Vice.com

Jauh sebelum gerakan ‘Di Rumah Aja’ berkembang, para introvert sudah betah melakukannya sejak lama. Tidak perlu ada hashtag pun, introvert akan tetap semangat menjalankannya. Sesuatu yang dianggap ‘normal’ dan ‘menyenangkan’ bagi introvert itu, kini justru berlaku bagi semua kepribadian. Tidak pandang introvert, ekstrovert, mau pun ambivert.

Idealnya, gerakan ‘Di Rumah Aja’ membuat hidup orang introvert damai dan kesehatan mentalnya tenteram. Tidak ada kerumunan, tidak ada undangan-undangan, tidak ada ingar-bingar, dll.

Namun benarkah demikian? Hmmm … tidak selalu.

Lagipula, introvert bukanlah sosok manusia yang anti di luar rumah. Introvert bukan makhluk anti sosial, pemalu, pendiam, tidak bisa bicara di depan orang banyak, dll, Tidak demikian.

Introvert memang cenderung memerlukan perjuangan atau usaha berlebih untuk bersosialisasi, khususnya dengan orang-orang yang tidak dikenal atau kurang akrab. Tetapi ketika introvert berada diantara ‘orang-orangnya’, mereka bisa lebih terbuka dan seru juga. Hanya saja, setelah bersibuk ria, mayoritas introvert memerlukan me time khusus untuk mengisi ulang energinya.

Dan, segala sesuatu yang berlebihan itu kurang baik. Termasuk waktu me time atau menyendiri bagi seorang introvert. Gerakan ‘Di Rumah Aja’ memang memberi ruang dan waktu yang leluasa, namun jika keterlaluan justru mengundang berbagai sumber kecemasan.

Gerakan Di Rumah Aja meningkatkan frekuensi telepon, video call, dan Zoom call. Semua itu juga jadi momok yang ‘menakutkan’ bagi introvert. Jika harus memilih, lebih baik berhubungan via texting ketimbang dengan telepon atau video. Entah kenapa ada perasaan gugup.

Di sisi lain, di masa-masa social distancing akibat pandemic covid-19 ini, ketika saudara atau sahabat jarang/tidak menghubungi, muncul prasangka negatif. Mungkin saja mereka memang abai, tidak peduli, sedang asyik dengan dunia mereka sendiri, tidak membutuhkan kita, atau memang hidup lebih baik tanpa kita. Asumsi-asumsi itu membuat kita gelisah, merasa tertinggal, terlantar, kesepian, dan tidak dibutuhkan. Mau memulai menghubungi pun ada keraguan, takut orang-orang memang sedang ingin berada dalam lingkaran nyamannya sendiri dan tidak mau diraih atau diganggu.

Baca Juga :  Cara Aman Belanja Online Melalui Forum

Intinya serba salah. Orang introvert memang merindukan adanya komunikasi dan koneksi. Namun introvert juga kerap letih interaksi yang sekarang serba tidak wajar. Orang-orang enggan berjabat tangan, sungkan bersilaturahmi, takut menengok orang sakit, parno kumpul-kumpul, dll. Semua berada di dalam lingkaran ketakutan dan kepanikan karena pandemi yang sedang terjadi.

Cara Menghadapi Kecemasan Di Tengah Gerakan “Di Rumah Aja”

Orang-orang yang berdiam di dalam rumah dan sepinya jalanan menjadi ‘the new normal’. Tentu saja gaya hidup ini sangat asing dan aneh bagi siapa pun, tidak terkecuali bagi orang introvert. Namun mau bagaimana lagi. Beginilah fakta dan kenyataannya. Ada beberapa hal yang mesti kita lakukan:

#1 Bernapas Dalam-Dalam

Ambil napas dari hidung, tahan dulu lima detik atau lebih, lalu embuskan dengan lega. Lakukan aktivitas bernapas panjang ini setidaknya tiga kali. Rasakan tensi tubuh mengendur, bahu tidak lagi tegang, dan perasaan jadi lebih tenang. Hal ini sangat membantu agar kita jadi berpikir lebih jernih dan konsentrasi jadi terjaga.

#2 Mengendalikan Pikiran

Pikiran bukanlah kenyataan. Jangan sampai terjebak dengan asumsi bahwa kita ini dilupakan oleh sahabat atau kerabat, atau orang-orang enggan mendengar kabar dari kita. Lagi-lagi kembali ke realita yang ada. Bahwa semua orang pun sedang kebingungan dan “menderita” karena wabah yang ada.

#3 Menghubungi Duluan

Barangkali orang-orang pun sedang sama-sama menunggu kabar dari kita. Tidak ada salahnya untuk mencoba mengirim pesan duluan, setidaknya dengan menanyakan keadaan. Mungkin saja upaya tersebut bisa mendatangkan dialog yang berarti, sehingga kita akan saling tahu situasi masing-masing. Selain itu, kepastian kabar akan membuat suasana hati kita jauh lebih baikt.

Baca Juga :  Puisi Spesial HUT-Kuningan ke-519 Dirgahayu: Kuningan Asri

Seringkali teori memang lebih empuk dari praktiknya. Untuk mengatasi kecemasan atau gangguan kesehatan mental lain, seringkali kita memerlukan pertolongan. Kita bisa meraih professional seperti psikolog atau psikiater.

Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan aplikasi kesehatan atau perusahaan teknologi di bidang telekonsultasi kesehatan seperti Halodoc. Perusahaan yang sudah beroperasi sejak tahun 2016 ini memang sangat eksis memberikan layanan kesehatan, obat, serta menjadi media “chat” antara dokter dan masyarakat. Bahkan di masa pandemic covid-19 ini, mereka juga aktif memberikan konten edukasi.

Kita semua sedang berjuang. Semoga bisa bertahan. #RD #J

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

8 + seven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.