Bukan Kamu yang Salah, Tapi Kamulah yang Mesti Bertanggung Jawab

0
SHARE
pemulihan diri, memulihkan diri, kesehatan mental, memulihkan mental
Image via: herway.net

Judul tulisan ini kelihatannya tidak adil, saya tahu. Tapi namanya juga hidup. Ada beberapa situasi atau kejadian buruk yang menimpa, yang sebenarnya bukan salahmu, namun ujung-ujungnya kamu sendiri yang mesti bertanggung jawab.

Tengok saja Si A, yang jadi korban gosip dan bullying di dunia nyata dan maya. Aksi perundungan tersebut bukan sepenuhnya salah dia. Namun dia sendiri yang mesti bertanggung jawab dengan menghadapi bully tersebut.

Tengok Si B, yang tumbuh berkembang di dalam keluarga broken home. Keadaan tersebut bukan kesalahannya. Tetapi dia sendiri yang mesti bertanggung jawab dengan menerima kenyataan yang ada.

Tengok Si C, yang didera trauma karena ungkapan cintanya ditolak mentah-mentah. Trauma itu bukan kesalahannya. Tetapi dia sendiri yang mesti bertanggung jawab dengan memulihkan hati dan move on.

Tengok Si D, yang dibuntuti rasa bersalah karena tidak bisa menjadi sosok yang diinginkan. Rasa tersebut bukan kesalahannya. Tetapi dia sendiri yang mesti bertanggung jawab dengan memaafkan dan melepaskan apa yang sudah terjadi.

Tengok Si E, yang diselimuti kesedihan mendalam karena kehilangan figur tersayang. Duka tersebut bukan kesalahannya. Tetapi dia sendiri yang mesti bertanggung jawab dengan mengikhlaskan apa yang sudah jadi takdir Tuhan.

Tengok Si F, yang disiksa ketidaknyamanan karena sistem di tempat kerjanya tidak sesuai idealisme diri sendiri. Keadaan tersebut bukan kesalahannya. Tetapi dia sendiri yang mesti bertanggung jawab dengan terus menjadi ideal di tengah situasi tidak ideal.

Tengok juga Si G, yang dirayu rasa frustrasi karena tidak kunjung bekerja atau berbisnis, sekali pun sudah melamar kerja atau memulai usaha. Keadaan tersebut bukan kesalahannya. Tetapi dia sendiri yang mesti bertanggung jawab dengan terus bertahan dan berjuang.

Dst.

Baca Juga :  Bimbingan Skripsi; Prinsip Umum Penulisan Skripsi

Hadiah yang Baik dalam Kemasan yang Jelek

sendiri, lelaki sendirian, pria sendirian, pemulihan diri, memulihkan diri, kesehatan mental, memulihkan mental
Image via: dianova.org

Terlalu banyak hal negatif yang terjadi. Bukan salahmu. Bahkan kamu pun tidak mau begitu.

Tetapi apa mau dikata. Inilah kehidupan. Kehendak Tuhan tidak bisa dilawan dengan keinginan.

Kamu dilukai, disakiti, dijatuhkan, dikhianati, diabaikan, disalahartikan, dst.

Apa pun yang terjadi padamu, pada akhirnya kamu sendiri yang mesti memulihkan diri.

Namun memulihkan diri bukanlah beban. Memulihkan diri adalah ujian untuk mencapai level yang lebih tinggi. Bisa dibilang, memulihkan diri adalah hadiah yang baik dalam kemasan yang jelek.

Pemulihan diri menjadi tanggung jawabmu, sebab kalau bukan sama kamu, sama siapa lagi?

Ketika diri tidak pulih, rasa sakit itu mengendap dan “menular” ke orang lain. Kekecewaan, amarah, dan dendam yang “belum selesai” menciprat ke mana-mana. Ke siapa saja. Semua kena.

Pemulihan diri menjadi tanggung jawabmu, sebab kekuatan terbesar memang ada dalam diri. Orang lain hanya bisa memberi dukungan terbatas.

Pemulihan diri menjadi tanggung jawabmu, sebab kamu merasa tidak nyaman sendiri. Namun rasa tidak nyaman itu, jika ditangani dengan baik, bisa menjadi titik untuk bangkit dan berubah menjadi lebih baik.

Pemulihan diri menjadi tanggung jawabmu, sebab kamu duluan yang akan merasakan dampak positifnya. Kamu akan tumbuh menjadi sosok yang lebih tangguh, ramah, dan bijak.

Tidak Ketergantungan dan Semakin Menelan Kekecewaan

Sering terjadi kasus, di mana orang lain menyakiti, mengecewakan, atau berbuat salah padamu. Lalu kamu berharap orang itu datang, menyembuhkan luka, dan memperbaiki segalanya. Dengan demikian, kamu bisa menuntaskan misi pemulihan diri.

Padahal kamu tidak bisa bergantung seperti itu, bukan?

Sebagaimana kita tahu, bergantung atau berharap berlebihan pada manusia hanya akan mendatangkan derita.

Walau sendirian, pemulihan diri mesti tetap dilakukan. Kalau tidak, kamu bisa mengizinkan diri untuk meminta bantuan.

Baca Juga :  9 Tips Memenangkan Lomba Balap Bakiak atau Bakiak Race

Kehidupan akan terus menyakiti atau mencederai hati. Tidak pandang bulu. Semua akan merasakannya.

Namun kamu tidak layak hidup dalam keadaan merasa terus-terusan menjadi korban.

Responsmu menentukan apakah masa kelam itu menjadi trauma abadi. Ketika memutuskan untuk menjalani pemulihan diri sendiri, bisa jadi kamu sedang merajut cerita tentang bagaimana seorang korban berubah jadi pahlawan. Bukan Kamu yang Salah, Tapi Kamulah yang Mesti Bertanggung Jawab. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty − fifteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.