Cerpen; Air Mata Hati

Cerpen; Air Mata Hati

cerpen sedih, laki laki sendirian di waktu senja, laki laki sunset, air mata laki laki, laki laki sedih
Via: photographyinspired.com

“Dia ngeluarin air mata, Den! Bayangin!” senyum Devan tak pernah pudar ketika bercerita dengan sahabatnya, “Aninditaku pasti nangis karena terharu dan bahagia.”

Sebagai sahabat, Alden juga lega mendengarnya. Devan yang beberapa bulan lagi berusia tiga lima memang sudah ingin buru-buru melaksanakan sunah Rasul. Tiap kali bicara tentang kaum hawa, tak ada lagi kosa-kata pacaran atau pendekatan. Niat dan langkahnya sudah mantap. Bidikannya adalah pelaminan, bukan lagi komitmen manis-pahit yang tak berdasar.

Dan, barusan Devan menyampaikan gong dari obrolan panjang mereka. Rupanya ada sesuatu yang terjadi ketika dia menyampaikan lamaran secara pribadi pada kekasihnya kini, Anindita. Gadis yang memiliki rentang usia 10 tahun itu menutup nganga mulut dengan tangannya yang imut. Sejurus kemudian, dia melingkarkan tangan pada leher Devan.

Alden menyeringai ketika Devan mengaku, kalau momen pelukan itu sangat menyiksa. Ada setruman aneh yang bikin bahagia sekaligus menderita. Dia muslim yang cukup taat, sehingga kontak tersebut pasti termasuk dosa. Apalagi Devan tak bisa ingkar soal nafsunya.

Beruntung, tangannya yang otomatis menempel pada pinggul Anindita hanya bertahan selama 3 detik. Semuanya lepas, tapi kemudian dia terhibur, sebab di depan matanya sudah ada bayangan pernikahan. Mereka bisa melakukan lebih dari itu dengan dukungan penuh.

“Jadi si bidadari itu belum nyadar ya sedang pacaran sama makhluk terkutuk?” Alden memutuskan untuk menggoda karibnya, yang kemudian tertawa lepas.

“Kalau untuk bersamanya musti terkutuk dulu, saya rela deh!”

Keduanya terbahak. Alden melihat tawa Devan mirip dengan tawa ketika tim sepakbola kesayangannya menang di final. Mulutnya melebar. Ujung-ujung matanya basah. Ajaib, memang. Tawa bisa bersatu dengan air mata juga.

“Emang mau cepet-cepet, gitu?” tanya Alden ketika tawa mereka reda, “Ada enggak biaya buat prasmanannya, hm?”

“Prasmanan kamu bilang? Saya bahkan bakal lebih giat kerja keras buat ngebangun rumah sama beli mobil kodok, Den!”

Alden tergelak, menganggap kalau Devan mendadak memiliki cara melawak yang lebih galak.

“Santai, Van,” Alden menyeruput kopi hitamnya yang sudah tak berasap, “Tapi seriusan. Kamu udah ngabisin tabungan buat acara lamaran kemarin, sekarang kamu musti fokus nabung buat mahar dan seserahannya.”

Devan ikut membasahi tenggorokan dengan kopi hitamnya juga. Pandangannya tertuju pada jendela yang sejak pagi sudah terbuka lebar. Namun tak ada pemandangan menarik di dekat ruang staf kelurahan. Hanya ada taman kecil dengan air mancurnya yang mampet.

“Saya berhenti ngerokok aja kali, ya?” jari tengah dan telunjuknya mengapit rokok yang masih utuh berukuran sembilan senti.

“Kenapa? Rebutan sama hobi shopping-nya Si Anindita?” tebak Alden, “Tas yang kemarin kamu beli itu bisa dituker sama…” Alden menggerak-gerakkan jemarinya, berlagak tengah menghitung, “Hah! 3 slop rokok kita, Van!”

“Makanya,” Devan mengalihkan pandangan, kembali fokus pada mata Alden, “Saya harus serius, daripada uangnya dibakar terus.”

“Hmm…”

Alden kemudian mengingat ketika pertama kali Devan mengenalkannya pada Anindita. Wajah perempuan itu memang rupawan. Ia tak menampik sempat iri pada sahabatnya. Mungkin karena dirinya memang masih sendiri. Mungkin juga karena luka lama, di mana Devan berhasil merenggut hati orang yang hingga kini masih ia idamkan.

“Ngomong-ngomong kalau di daerah kita ada yang jualan mobil kodok enggak, ya?”

Alis kiri Alden naik. Ini anak sedang bercanda apa serius, sih?

“Saya musti gimana, Den, biar bisa cepet-cepet ngebangun rumah?” Devan berdiri dan menyedot rokoknya kuat-kuat, “Si Babeh sudah ngasih tanah… apa dijual aja, gitu? Terus langsung beli rumah? Tapi uangnya cukup enggak, ya? Lha, tanahnya aja enggak luas-luas amat, paling jatohnya…”

“Hey, hey, tenang dulu, Van,” Alden berdiri juga, menempatkan dirinya di sisi kanan. Ia hampir meluapkan kata-kata yang beberapa bulan kemarin sempat diluapkannya. Namun Devan memotong,

“Enggak perlu nge-judge kalau Anindita itu cewek matre,” pandangannya kembali ke arah air mancur, “Dia cuma nguji totalitas dan keseriusan saya, toh pada akhirnya kita bakal jadi suami-isteri juga. Itu hak dia.”

“Dan, kamu enggak terbebani?” Alden berusaha menenangkan laju napasnya yang semakin cepat, “Aku sekadar mengingatkan kalau kalian belum menikah.”

“Kami sudah terikat pertunangan.”

“Belum akad nikah.”

Devan mengerjap-ngerjap, “Saya pulang duluan.”

“Kebiasaan,” tangan kanan Alden mendarat di bahu sahabatnya, “éling, Van. Kamu sudah kesihir!”

Untuk sementara, Devan mengurungkan langkahnya, “Ayolah, Den. Beginilah cinta. Satu persen terbuat dari logika, dan sisanya memang sihir.

Alden tak menyanggah. Setahunya, sihir membuat seseorang berubah total, bahkan tak menjadi dirinya sendiri. Yang Alden tahu, seorang Devan tak akan melepas ketergantungannya pada rokok. Yang Alden tahu, seorang Devan tak akan mudah mengakui kegilaannya pada perempuan. Yang Alden tahu, seorang Devan akan menyimak segala nasihatnya.

Dan oh, yang Alden tahu, seorang Devan itu menyayangi Riani sepenuh hati. Mustinya ia tak tega menyusun skenario putus, hanya untuk memuluskan pendekatan pada perempuan yang baru beberapa bulan dikenal di media sosial. Devan tahu kalau Riani tak bisa cepat-cepat ditarik menikah lantaran masih memiliki kakak perempuan yang belum bersuami. Spot itulah yang ia serang.

Di suatu senja, Alden menyaksikan betapa kejamnya Devan mencabik hati Riani. Gadis itu dipaksa memilih diantara dua hal, menikah atau menyudahi hubungan. Dan sesuai harapan, jalinan asmara mereka pudar. Sejak saat itu, diam-diam Alden memupuk asa agar bisa membuat Riani lebih bahagia. Sangat bahagia, sampai ia bisa lupa, kalau ia pernah disakiti secara pedih oleh mantan kekasihnya.

~~~cerpen cinta, cerpen cinta sedih

“Ditha sayang…” Devan tak melepaskan pandangan pada punggung kekasihnya. Ia bisa membayangkan kalau gadis pujaannya itu tengah melipat tangan sambil manyun. Oh, manis dan menggemaskan!

“Saya cuma ngelike dan nanya kabar di fesbuknya,” lanjut Devan, “Enggak ada komunikasi lagi di inbox atau bahkan BBM.”

“Tapi Riani itu mantan kamu, masa lalu kamu.”

“Dan, Anindita itu masa depan saya, isteri saya…” ucapan itu berhasil membuatnya balik badan.

Lagi-lagi Devan serasa menuai prestasi besar ketika Anindita kembali mengulum senyum. Sama seperti di awal-awal pertemuannya, senyum itu masih mampu membuat jantungnya bertabuh kencang. Kekencangan. Salahkan saja senyum Anindita yang menyengat kuat.

“Bagus deh kalau kamu sadar,” Anindita menyodorkan kopi hitam yang sudah ia sajikan, “Pokoknya sekarang, kamu milikku seorang, Sayang.”

“Sekarang dan seterusnya, Sayang,” Devan mengerutkan hidung, tapi kemudian tertawa karena Anindita melahap cokelat yang ia bawa dengan lahapnya.

Awalnya ia sendiri ingin muntah dengan sapaan barunya. Belum pernah ia menggunakan sebutan semesra atau semanis itu dengan orang lain. Tidak juga dengan Riani. Namun dengan Anindita, semuanya serasa gula. Bahkan kopi hangat yang ia teguk juga tak mengalahkan rasa manisnya.

Beberapa waktu lalu ketika mengobrol dengan Alden, ia sebenarnya sudah sadar akan kecintaan kekasihnya pada materi. Namun Anindita hanyalah manusia. Dia, Alden, dan bahkan Riani juga tentu memiliki nafsu pada uang dan barang. Lagipula Anindita itu perempuan. Dia terlalu mustahil untuk berwajah cantik sekaligus bersih dari keinginan duniawi. Dirinya hidup di dunia nyata, di mana Syahrini berada, bukan di dunia dongeng yang menampilkan Cinderella.

Hari demi hari, Devan terus belajar mengenai calon isterinya. Sifat kuat lain yang musti ia hadapi adalah cemburuan dan sedikit posesif. Namun dua hal itu justeru jadi favoritnya. Paling tidak, Anindita akan berubah lucu, clingy, dan menggelikan jika ada momen yang berhasil merangsang rasa cemburunya. Ia juga akan terus nempel di sepanjang kebersamaan mereka. Soal yang satu ini, Devan rasa lebih dari siap untuk menjinakkannya.

“Hhh… sebenarnya aku benci kalau kita mainin hp pas lagi berdua, tapi dari tadi kamu diam aja,” suara Anindita membuat Devan sedikit terlonjak, “Ya udah aku mau buka-buka instagram, ah.”

Devan menautkan alis. Kedatangannya di apel hari Minggu bertujuan untuk menghibur dan melepas rasa kangen. Tak seharusnya ia membuat Anindita merasa bosan.

Tapi tadi ia tak bisa menghentikan lamunan. Pikirannya begitu penuh. Segala hal berlalu-lalang. Lagipula isinya pasti tak akan jauh dari Anindita sendiri. Oh, wajah gadis itu sudah terpahat di sudut-sudut memori otaknya.

Devan tersenyum, menyadari betapa calon isterinya memiliki kendali kuat dalam dirinya. Tapi ia tak ambil pusing. Dan lagi-lagi, Devan tersadar kalau mereka tengah berdua saja di ruang tamu,

“Hei, masih belum pede majang poto kita di sosmed?” Devan ikut memandang ke arah layar smartphone, “Sudah seminggu dari lamaran, lho?!”

Anindita terlihat menggigit dinding pipinya, “Apa kata orang? Kita belum lama putus dari mantan masing-masing, ujug-ujug udah masang poto tunangan sama orang lain?!”

“Lha, faktanya memang begitu, ‘kan?” Devan menjauhkan wajah dari layar, “Jadi, saya ini orang lain nih bagi kamu?”

“Apa? Bukan gitu, Cintaku,” Anindita sendiri tersentak atas perkataannya yang meluap tanpa sadar, “Kita harus menghargai perasaan orang. Mereka punya hati juga. Apalagi mantan-mantan kita belum punya pasangan baru.”

Devan menelan ludah, membuat jakunnya naik, lalu turun,

“Keluargaku pengin nentuin tanggal.”

“Cie… ada yang enggak sabar, nih!” cara Anindita mengedipkan matanya terlampau manis dalam pandangan Devan, “Emang rumahnya sudah jadi? Sekalian bikin garasi buat mobil kodok kita nanti ya, Sayang?”

“Ck, kita masih berdua, Ditha. Apa motor matic saya enggak cukup?” Devan kadang tak percaya kalau dia sudah mengeluarkan keluhan di depan seseorang. Tepatnya, perempuan.

“Tapi kita akan berkeluarga, hidup terpisah dari orang tua, terus punya anak sendiri, Sayang,” Anindita tetaplah seorang juwita yang jelita sekalipun ia memonyongkan bibirnya.

Lidah Devan keluar dan membasahi tepian bibir yang ternyata mengering.

“Kamu tahu, bikin rumah itu enggak seminggu-dua minggu, enggak sejuta-dua juta,” Devan masih haus perhatian, “Mungkin saya sudah terlanjur tua pas nanti kita gunting pita!”

“Aw… jagoanku marah, tapi kiyut juga, sih! Hihi…” Dia mencubit dua pipi Devan sekaligus, membuat wajah lelaki itu merona.

Entah untuk ke berapa kalinya, Devan harus mengakui kalau ia luluh dengan mudah di tangan Anindita. Beberapa detik yang lalu hatinya memanas. Namun dalam sekejap, Anindita berhasil menuangkan penawarnya.

“Lihat deh, Sayang!” tangan hangat Anindita merayap di area lengan Devan, “Tunik yang warna blue mint ini cocok enggak buat aku?”

Devan tersenyum, “Udah, udah, berapa harganya, hm?”

Yeay!” Anindita meninju-ninju ke udara, “Kamu pengertian banget, Sayang! Selalu jadi jagoanku.”

“Ya, ya, ya, tenang aja. Saya ini penerjemah kode yang ulung.”

Ada momen di mana dada Devan mengembung dan hampir meletus saat mereka tengah bersama. Apalagi kalau Anindita terang-terangan melayangkan pujian padanya. Ia akan senang hati menjadi seseorang yang menurut gadis itu adalah jagoan. Ia bangga bisa menjadi sosok di balik kegirangan kekasihnya. Persetan rokok dan semua hasil objekannya. Semua akan ia pertaruhkan untuk Anindita. Gadis itu lebih berhak.

“Tahu, enggak? Kamu itu pacar favorit sepanjang masa buatku,” lagi-lagi Anindita membuat dadanya sesak, menghadirkan rasa pengap yang indah.

“Oh, ya?” binar mata Devan tak pernah padam, “Emang kamu udah macarin seluruh pacar sepanjang masa?”

“Ah enggak perlu macarin seluruh pacar sepanjang masa, karena kamu dan aku itu abadi selamanya.”

Usai sudah kewarasan Devan. Ia jatuh semakin dalam. Tapi untuk bangun, ia sendiri merasa enggan.

~~~

cerpen cinta sedih, laki laki menangis, perempuan menyesal

“Hey,” Devan sudah membaui ada yang tidak beres dengan Anindita, “Kita beli cokelat, ya?” Dia berusaha bernegosiasi, apalagi mereka sudah berada di luar rumah Devan.

Auranya tetap sama. Anindita bergeming. Wajahnya begitu dingin. Devan benar-benar lebih memilih pacarnya yang manyun atau mencak-mencak ketimbang yang seribu bahasa.

“Aku mau pulang.”

Devan tahu kalimat itu merupakan titah yang tak bisa dibujuk dengan apapun. Anindita sudah ngeloyor dan mengenakan helm, siap dibonceng. Devan rasa keringat dinginnya enggan berhenti keluar. Apalagi tak ada dua tangan Anindita yang memeluk pinggangnya. Ia mendadak kedinginan.

“Kamu sudah bikin malu aku, Devan,” Anindita menaruh tas baguettes-nya dengan sedikit kasar ke atas meja tamu,”Dari tadi aku pengin ngubur diri.”

“Bikin malu gimana?” kalau saja perempuan yang ia sayang tak memanggilnya dengan nama asli, mungkin Devan akan menganggapnya tengah melontarkan lelucon.

Anindita duduk. Devan ikut duduk.

“Kamu cerita soal keinginanku buat beli mobil kodok.”

“Jadi sekarang kamu bilang, kamu enggak mau beli mobil kodok, gitu?”

“Kamu ungkit-ungkit terus soal pembangunan rumah di tanah warisan bapakmu.”

“Itu ‘kan usahaku buat nge-lobby keluarga,” Devan menegapkan posisi duduknya, “Aku cuma pengin kita cepat-cepat nikah.”

“Pasti mereka nganggap aku sebagai tukang peras!” nadanya meninggi.

“Itu anggapan kamu aja, Sayang.”

“Enggak kebayang mukaku pas ketemu sama mereka lagi…”

Devan menggigit bibir. Ia mencoba memposisikan diri sebagai Anindita. Separuh dari dirinya paham. Namun separuhnya lagi tak bisa menampik fakta, Anindita memang menjadikan rumah sebagai syarat pernikahannya.

“Begini saja,” Devan hampir pingsan menerima tatapan menohok dari pacarnya, “Kamu sedang enggak stabil…”

“Oh iya!” Anindita tersenyum sinis, “Aku ini emang labil dan enggak dewasa, belum pantas jadi seorang isteri staf kelurahan.”

“Enggak, tunggu dulu, Sayang,” Devan refleks menyentuh pundak kekasihnya yang segera ditangkis, “Maksudku, besok aku ke sini lagi. Kita…”

“Enggak perlu!” penggal Anindita, “Dan, enggak ada istilah kita lagi.”

“Hey, jangan ngomong sembarangan,” Devan tiba-tiba merasa seperti seorang suami yang ciut mendengar sindiran perceraian dari isterinya, “Kita sudah tunangan, enggak baik…”

“Ya mumpung masih tunangan!” Anindita kembali memenggal, “Aku enggak nerima digituin sama kamu. Jadi aku berhak memutuskan semuanya, sebelum kita melangkah lebih jauh.”

“Sayang…” Devan baru tahu, menahan air mata agar tak terjatuh ternyata sangat menyakitkan. Ia jadi lupa akan cara bernapas dengan baik dan benar.

“Ini sudah keputusan final,” Anindita menghela napas, “Aku akan kasih tahu ayah sama mamah, kalau kita sudah kembali jadi teman.”

“Mereka mana?” Devan berdiri, hendak melangkah masuk lebih dalam ke rumah, namun pergelangan tangannya dipegang erat oleh Anindita, “Aku perlu bicara, Sayang.”

“Kita putus,” walau tak disertai kata-kata, namun Devan merasa dihardik untuk pergi ketika Anindita berdiri dan mendorongnya ke luar secara perlahan, “Maafkan aku, dan terima kasih untuk semuanya.”

Devan tak berkutik. Dia terus memandangi orang terkasihnya, mencari barangkali ada pertanda kalau dirinya tengah dikerjai. Ingin sekali tangannya mengusap kepala yang tengah tertunduk di depannya itu. Namun sebelum niat itu dieksekusi, Anindita sudah angkat kepala.

“Relakan aku, Devan.”

“Enggak, Sayang,” Devan menggeleng-geleng, “Ampuni saya. Saya mohon. Kita lanjutkan itikad baik dari hubungan ini, ya?” tangannya berusaha menggenggam jari-jemari gadis di depannya. Walaupun sebentar, namun ia masih merasakan betapa cincin pertunangan mereka masih melingkar dengan nyaman.

Anindita menggeleng, “Jangan mempersulit, Devan.”

“Saya mohon?”

“Maafkan aku.”

~~~

Baru saja Devan hendak menghubungi Alden, namun smartphone-nya sudah bergetar duluan. Ajaibnya, nama sahabatnya yang terlihat memanggil. Ia pun segera mengangkatnya.Telepati.

“Oh, Van! Kamu ada waktu, enggak? Sedang ada di rumah enggak, Van?” bombardir Alden, “Aku nyamper, ya! Ya ampun, sudah enggak sabar nyampein kabar ini!”

“Kabar apa?” dari antusiasmenya, Devan yakin sang sahabat tak akan membawa berita buruk lain, namun ia tetap penasaran, “Ngomong sekarang aja.”

“Riani, Van! Riani!” pekikan Alden membuat Devan menjauhkan ponsel dari telinga kirinya, “Dia ngasih aku kesempatan. Haha… aku bakal nabung buat ngelamarnya, Van! kita bisa nikah di waktu yang bersamaan. Keren, ‘kan! Haha…”

Devan tak yakin ia terbatuk-batuk karena mendadak ada debu, asap, atau lendir di dadanya. Dirinya sudah tahu isian hati Alden, tepat ketika ia dan Riani putus. Namun kini, di tengah suasana seperti ini, ia masih kabur. Entah harus tetap bersedih atau ikut bahagia.

“Van?”

“Selamat ya, Den,” niatnya untuk seantusias Alden gagal total. Suaranya bergetar.

“…”

“…”

“Aku ke rumah kamu sekarang, Van. Tunggu!”

Sambungan telepon langsung mati.

~~~

sahabat, dua lelaki bersahabat
Via: keithcraft.org

Devan ingin meralat pernyataannya dulu, kalau Anindita adalah manusia terfavoritnya. Ia rasa Alden yang berhak menempati posisi itu. Di depan sahabatnya, Devan bisa menjadi seorang Devan.

Sebelum mereka sampai ke pekarangan rumah Anindita, Devan butuh beberapa waktu untuk membuat mata merahnya kembali normal. Yang ia banggakan, Alden tak sekalipun melarangnya untuk menangis. Padahal ia menerima tisuue demi tissue dengan perasaan malu.

“Setidaknya… nangis asli itu melegakan, kalau senyum palsu itu menyesakkan,” hibur Alden.

“Ya, sorry,” Devan menyeka ingusnya, “Semuanya serba mendadak. Saya sedang dalam posisi enggak siap.

Alden hanya menggumamkan hmm, lalu Devan merasa laju motornya berubah pelan,”Rumahnya yang mana, Van?”

Devan mengerjap-ngerjap, memastikan penglihatannya sudah benar-benar jernih. Ia memicingkan mata, namun pandangannya tak lagi tertuju pada rumah yang saban Minggu selalu dikunjunginya. Alden mengikuti arah tatapan sang sahabat.

“Oh yang di depannya ada mobil kodok itu?”

Devan mengangguk. Dadanya tiba-tiba meletup-letup. Kalau tadi ia sangsi, kali ini ia pengin cepat-cepat masuk. Apalagi ketika di beranda ada sepatu seukuran dirinya, lalu di dalam rumah terdengar suara gaduh. Tapi kemudian, suara ketukan pintu dan sahutan salam dari Alden terdengar.

Pintu depan terbuka. Devan bisa melihat dengan jelas-jemelas, di atas meja sudah tersedia secangkir teh panas. Di sampingnya ada sebungkus rokok, yang biasa ia hisap kalau tengah bersama Pak Lurah. HaLupa diamankan, ya!?

Mamah Anindita yang menyambut. Dia yang mempersilakan mereka untuk duduk. Alden sudah menempelkan pantatnya di kursi tamu, tapi tidak dengan Devan.

“Siapa lelaki baru Ditha, Tante?” tanyanya pahit, sebab bibirnya musti kembali membiasakan diri untuk tak memanggil Mamah.

“Lho, kamu ke sini mau cari Ditha, ‘kan?” tanyanya yang tak terjawab.

“Duduk, Van.”

Devan nurut.

“Dithanya mana?”

“Kamu jangan salah paham dulu, Van,” Mamah Anindita tersenyum, “Dia cuma teman.”

“Mana orangnya?” Devan memanjang-manjangkan leher, mencoba melihat ke arah belakang, “Saya pengin kenalan sama temannya,” Ia sengaja mempertajam kata temannya.

Mamahnya menghalangi pemandangan, “Kita ngobrol-ngobrol aja di sini.”

Kalau saja Alden hanya teman biasa, mungkin sudah dari tadi Devan meninjunya. Alden terus menghalanginya untuk berdiri, padahal Devan ingin mengitari area rumah dan menemukan siapapun yang disebut teman oleh Mamah Anindita. Asap di hatinya tambah mengepul ketika perempuan yang amat ia kagumi kemudian muncul di hadapan.

“Eh, ada tamu!” serunya sambil membawa dua cangkir kopi, “Silakan diminum.”

Devan merasa urat-urat di kepalanya berangkulan, tapi kemudian polanya semrawut. Ia seperti terbangun dari mimpi panjang, yang saking membentangnya sampai semua terasa begitu nyata. Di hadapannya, realitas jadi begitu keruh.

Perempuan di hadapannya juga terlihat asing. Ia masih ingat kalau perkenalan mereka belum genap dua tahun. Namun dulu ia merasa sudah memiliki chemistry super kuat dengannya. Tapi kini, ketika mata mereka sekilas beradu, semuanya jadi begitu ambigu. Di tangan perempuan itu, sesuatu yang dulu ia anggap manis dan indah bisa berubah jadi musibah.

“Ditha, kita balikan, ya?” Devan memelas, dan ia mengutuk dirinya sendiri, sebab ternyata ia begitu rapuh dan pipinya malah sudah basah tanpa kendali, “Kemarin kamu sedang emosi, ‘kan?”

“Keputusanku masih tetap sama, Devan.”

Tatapan Devan sudah nanar, “Apa hatimu sekering itu, Ditha? Apa air mataku saja sudah tak mampu membasahinya?”

“Mendadak puitis, ya?!”

“Oh, oke!” tanpa Alden sadari, dua pasang tangan sahabatnya sudah mengcengkeram bahu Anindita, “Pasti karena laki-laki itu, ‘kan? Mana dia? Mana, hah?” matanya memancarkan bara api.

“Aw!” Anindita meringis, “Kamu nyakitin aku, Devan.”

“Kamu!” telunjuk Devan hampir mencolok pipi gadis itu, “Kamu yang nyakitin saya!”

“Kamu,” pandangan Anindita begitu innocent, “Katanya kamu cinta sama aku?”

Dada Devan naik-turun dengan cepat, namun pegangannya perlahan longgar.

“Iya saya cinta, saya terlalu cinta sama kamu, sampai perasaan ini bikin saya sakit!” suaranya meninggi, “Hey, pengecut! Keluar kamu! Jangan mentang-mentang kaya, kamu…”

“Ssshh…” tangan lain menggamit siku Devan, “Kalau cuma mau bikin onar, sebaiknya kamu keluar,” suara Mamah.

Meski Alden menganggap kalau Devan berhak melampiaskan amarah, namun ia tetap merasa bertanggung-jawab. Paling tidak, dirinya termasuk pihak yang masih berhati dan berakal jernih. Dia juga takut sohibnya akan nekad, sehingga membuat kerumitan yang ada jadi semakin merepotkan saja.

Dia pun mengambil kendali. Tangan kanannya melingkar ke leher Devan. Sementara yang kiri terus mengusap lengan sahabatnya, berharap gesture itu mengalirkan ketenangan tersendiri.

“Sudah, Van,” Alden memang berniat untuk membuat perkataannya didengar seluruh pihak, “Aku tahu kamu pengin Anindita bahagia, sayang sekali, lelaki barunya bahkan tak muncul ke permukaan ketika dia meringis kesakitan sewaktu pundaknya kamu cengkeram. Pengecut.”

Alden mendengus, lalu menyeret sahabatnya, menjauh dari suara-suara di belakang. Dari mamahnya, atau Anindita. Persetan itu semua.

~~~

laki laki move on dari perempuan, cerpen laki laki move on
Via: uguruludag.com

Senja, ruang staf kelurahan, dan Alden. Semuanya jadi seperti deja vu bagi Devan. Seperti cahaya yang tembus lewat jendela, hatinya juga begitu temaram.

“Heh! Kenapa kamu masih ngeluarin air mata?” Alden menggeletakkan kopi hitam dan sebungkus rokok favoritnya, “Orang yang pantas kamu tangisin adalah orang yang enggak bakal bikin kamu nangis, Van.”

Devan tersenyum, menggeleng-geleng. Dia memilih menyalakan korek api. Ada sesuatu yang pengin ia katakan, namun ada ketakutan kalau dirinya bakal lebih ambruk. Meski lega, dia benci juga kalau musti terus mengeluarkan terlalu banyak air mata.

“Sorry,” Alden duduk di depan sahabatnya, melihat sekilas ke layar smarphone. Nampak poto Anindita dan seorang lelaki asing di media sosialnya. Pipi mereka beradu menghadap ke mata kamera.

“Sakit sekali, Den,” Devan masih tersenyum, tapi getir, “Tapi saya bersyukur sudah diberi tunjuk dengan jelas.”

“Ditampar fakta itu lebih baik daripada dielus ilusi ya, Van?” Alden tertunduk, “Tapi memang pasti sakit.”

“Saking sakitnya, bibir aja udah enggak bisa berkata apa-apa. Makanya dia ngutus air mata.”

Alden mengangguk-angguk, memilih untuk tidak menertawakan ungkapan baru dari sahabatnya. Ia hanya mencoba membayangkan kalau dirinya ada di posisi Devan, dan Riani menjadi Anindita. Alden sampai bergidik dibuatnya. Dalam hati ia pun memanjatkan istighfar berulang kali.

“Kalau misalkan dia datang,” Alden berkata pelan-pelan, “Kemudian minta maaf, kamu gimana?”

Asap putih keluar dari hidung Devan, “Saya masih punya hati untuk memberi maaf. Tapi saya juga masih punya otak kalau harus kembali.”

“Jadi kamu enggak akan ngasih kesempatan kedua?” tanya Alden harap-harap cemas.

“Dan, menderita untuk kedua kalinya?” Devan menepuk-nepuk abu rokok pada asbak, “Enggak, terima kasih.”

“Siapa tahu setelah air matamu kering, kamu kembali mempertimbangkan untuk kembali?” uji Alden.

“Iya, tissue atau sapu tangan manapun bisa mengeringkan air mata, Den,” ibu jari Devan mengelus-elus pinggiran cangkir kopi hitamnya, “Tapi belum ada yang bisa mengeringkan luka.”

“Waktu?”

“Termasuk juga waktu.”

Alden menghirup udara senja sepuas mungkin. Hatinya merasa lapang. Bibirnya melengkungkan senyuman. Setidaknya, ia sudah mendapat konfirmasi pasti yang melegakan hati. Sahabatnya sudah tak sinting. Malah, ia sedang belajar banyak dari luka dan air mata demi menjemput kebahagiaan sejati untuk hatinya nanti. Cerpen; Air Mata Hati. #RD

Kuningan, 02 Juni 2016

You May Also Like