Cerpen; Dekap Sahabat

Cerpen; Dekap Sahabat

cerpen ega noviantika tema persahabatan
ign.com

Lilin-lilin putih berilah terangmu

Lilin-lilin putih temanilah aku

 

Senandung dan pijatan lembut Evi pada kulit kepala Ega membuatnya begitu rileks. Tubuhnya terasa makin ringan, sementara matanya makin berat. Kelopak matanya mulai tertutup, lalu terbuka dan tertutup lagi. Ia kemudian mendengar seseorang cekikikan,

“Kalau ngantuk ya tidur aja, Beb,” suara Evi, yang pijatannya terasa enak di kepala, “Nanti Gue bangunan kalau udah beres.”

Ega membuat lingkaran dari jempol dan telunjuknya, “Oke, Kak. Suara Kakak bagus juga, euy!”

Matanya yang setengah tertutup melihat Evi lewat kaca besar di depannya. Orang yang selama ini menjaga kesehatan dan kebersihan rambut Ega sekaligus memilihkan kerudung untuknya hanya geleng-geleng, apalagi melihat sosok yang dianggap adiknya itu menguap dengan roman wajah lucu. Namun baru saja Ega melihat gerbang mimpi, ponselnya bergetar.

“Uh!” Ega tersentak, “Siapa sih?” Dia mengambil ponsel yang tergeletak di depannya.

Aura lelah bercampur marah terpancar di wajahnya. Dibangunkan ketika ia begitu mengantuk memang hal yang menyebalkan baginya. Apalagi ia belum sampai dua menit memejamkan mata.

“Ck,” Ega berdecak begitu melihat nama yang muncul di layar ponselnya.

“Siapa, Beb?” Evi melongokkan kepalanya, namun sambil tetap memberikan treatment terhadap rambut Ega, “Kok enggak diangkat?”

“Biasa, fans,” kata Ega berbohong, lalu membiarkan ponselnya tetap bergetar.

Setelah layarnya mati, Ega menonaktifkan dan kembali meletakannya di atas meja. Ia menyandar dan memijat dahinya sampai merah.

“Aw… Loe baik banget sih, Beb?” Ega dan Evi bertatapan lewat kaca, “Loe nunggu telepon fans berhenti dulu, baru dimatiin, keren!” lanjutnya lalu mengangkat jempol.

Bukannya bangga, Ega justeru merasa sesuatu sudah mencubit hatinya. Yang memanggilnya lewat telepon bukanlah privat number atau nomor asing, melainkan sebuah nama yang dulu sempat menghiasi hari-harinya. Ega menghela napas, sementara hatinya menggumamkan nama… Ika, sahabatnya.

Awal-awal ketika Ega lolos audisi sebuah kompetisi dangdut, dia masih sering berhubungan dengan Ika dan Intan. Mereka bertiga adalah trio sahabat yang tidak terpisahkan.

Di SMA-nya, mereka kerap menghabiskan waktu bersama. Ke kantin, belajar kelompok, window shopping atau menghadiri pengajian di mesjid Syiarul Islam Kota Kuningan.

Namun semenjak Ega masuk 10 besar, bahkan sampai kini sudah keluar, mereka sudah jarang berkomunikasi. Ega tidak suka mengangkat telepon Ika dan Intan, tak akan menghiraukan mention mereka di twitter bahkan tak bertemu langsung ketika pulang kampung ke Kuningan. Kesibukan ia jadikan alasan untuk membenamkan harapan dua sahabatnya.

Apalagi begitu ia menyetujui tawaran dua seniornya, Titik dan Tria.

“Hey,” suara Evi serta sentuhan lembut di pipinya membuat Ega terbangun dari lamunan, “Loe nakut-nakutin Gue aja, Beb. Dari tadi dipanggil-panggil malah enggak ngerespons. Mending kalau matanya ketutup. Loe malah enggak ngedip-ngedip!”

Ega tersenyum lemah, “Maaf atuh, Kak. Hmm…”, telunjuknya menepuk-nepuk dagu sambil manyun, “Ega teh capek~”

Evi menarik napas, tersenyum melihat tingkah adiknya. Dia lalu mendaratkan dua tangannya pada bahu kiri-kanan Ega, “Mau cerita enggak sama Gue?”

Ega tidak buru-buru menjawab. Dia menatap dan menelisik kalau-kalau orang di depannya ini memang dapat dipercaya. Ia memang sedikit trauma untuk mencurahkan isi hatinya. Soalnya ia pernah dikhianati. Kecuali sama Ika dan Intan. Mereka begitu terpercaya.

~~~

Ketika di asrama, Ega sekamar dengan Tria dan Titik. Mereka lebih dewasa darinya. Karena itu, Ega berharap keduanya bisa melindungi dan membimbingnya. Meski Tria dan Titik suka menyuruh-nyuruh, namun Ega menghormatinya.

Suatu hari, Evi dan Tria pernah menginterogasinya. Ega ditanya-tanya apakah suka sama Irwan atau tidak. Ega sempat mengelak, sebab ia sendiri tak meyakini perasaannya. Menurutnya, Irwan memang tampan, tapi ia yakin perasaannya hanya sekadar naksir dan kagum. Tidak lebih.

Ega pun curhat dengan jujur pada Tria dan Titik. Namun tanpa ia sangka, dua orang yang sudah ia anggap kakak itu malah menyebarkannya ke seluruh penghuni asrama. Mereka mengatakan kalau Ega mencintai peserta asal Madura itu. Ia jadi begitu malu dan canggung tiap kali mesti bertemu dengan Irwan.

“Ya udah enggak apa-apa kalau Loe enggak percaya sama Gue, Beb,” lagi-lagi suara Evi membawanya ke dunia nyata, “Santai aja, yang penting Loe bisa segera ngatasin apapun yang lagi Loe hadapin,” lanjut Evi lagi dengan senyum palsu yang ia pamerkan.

“Kak…”

Ega bangkit dari duduknya. Kursi berderit dan menggeser ke belakang. Evi yang kaget tak bisa apa-apa ketika adik kesayangannya sudah melingkarkan tangan ke lehernya.

“Beb?”

Evi hanya memanggil satu kali. Ia lalu membisu, apalagi ketika bahunya terasa hangat. Pasti airmata Ega penyebabnya. Ia pun memilih mengusapkan tangan ke balik punggung Ega. Ke atas dan ke bawah senyaman mungkin.

“Duh maaf pisan, Kak,” Ega melepaskan pelukan, lalu mengusap-usap bahu Endah, seolah-olah sedang mengeringkannya, “Jadi basah, Kak?”

“Untung Loe kiyut, jadi Gue maafin,” Evi mengusap airmata Ega sambil mencubit pipinya, “Nah… udah siap cerita, belum?”

Ega menangis

Baru saja Ega membuka mulut, pintu ruangan make up itu terbuka dengan cukup keras. Suara derap langkah kemudian makin mendekat. Baik Ega dan Evi melirik, lalu melihat Tria dan Titik berjalan tergesa ke arah mereka.

“Eh malah di sini! Ayo, pulang!” tangan kanan Titik mencengkeran lengan Ega, sampai membuatnya meringis, “Hapenya pake matot segala, lagi!” tangan kirinya menepis ponsel Ega dengan kasar, untung Tria langsung sigap menangkapnya.

Baca Juga :  Cerpen; Pelupuk Mata Bapak

“Kalau mau kemana-mana tuh ngomong dulu!” kecam Tria dengan nada menahan amarah, namun sambil menyerahkan ponselnya pada Ega, “Kamu lupa sekarang kita mau ngebahas apa?”

Evi berdehem, sampai mencuri perhatian tiga orang di depannya.

“Sorry, nih. Tapi Ega mau ada urusan apa ya sama kalian?”

Titik melepaskan cengkeramannya, lalu menatap ke arah Evi, “Jangan ikut campur!”

Ega, Tria dan Titik kembali ke kamar kosan. Di sepanjang perjalanan, beberapa rekannya yang lain sempat bertanya-tanya, kenapa mata Ega memerah. Tria dan Titik menyerobot menjawab, mengatakan kalau Ega kelilipan atau mengantuk. Sementara gadis itu hanya mampu mengangguk dan tersenyum simpul saja, menyembunyikan luka sebenarnya.

Mereka baru saja selesai show di sebuah televisi. Ega, Titik dan Tria yang sudah tereliminasi dipanggil pihak televisi untuk jadi bintang tamu. Diantara ketiganya, Ega yang paling sering menerima job.

Bagi Ega, acara itu jadi semacam reuni. Ia bisa bertemu dengan peserta lain yang sudah sama-sama keluar atau yang masih bertahan. Di satu sisi ia begitu senang, namun di sisi lain dadanya begitu sesak. Wajah Titik dan Tria selalu mengintai dan mengganggu ketenangannya.

“Kamu berhubungan sama teman-teman SMA lagi, ya?” tanya Titik sambil meremas ponsel Ega yang belum ia kembalikan, “Sudah saya bilang, jangan!”

“Mereka teh ‘kan teman, eh sahabat Ega, Kak~” tatap Ega, memohon pengertian.

“Kan sudah kita bilang, mereka bakal mengaruhin kamu,” jelas Tria dengan suara yang tidak setinggi Titik, “Kamu mau membanggakan dan membahagiakan orang tua, ‘kan?”

Ega mengangguk.

“Ya udah, susah-susah amat! Tinggal buka kerudung doang, Bod–“

Perkataan Titik dipotong Tria, “Ini untuk kebaikan kita semua, Ga,” Dia memegang tangan Ega, “Kakak, Kak Titik dan kamu sudah keluar dari kompetensi. Masyarakat akan mudah lupa kalau kita enggak muncul-muncul di televisi. Kalau sudah begitu, kita enggak bakal dapet uang…”

“Kalau gitu, Ega kembali sekolah aja ah, Kak.”

“Bodoh!” hardik Titik, sementara Tria hanya bisa memelototinya agar tidak meneruskan kata-kata lagi.

“Ega ‘kan masih muda. Kita udah sepakat mau bikin grup dangdut, ‘kan? Terus nanti kamu buka kerudung biar jadi sensasional. Kalau udah tenar ‘kan pasti banyak panggilan…” Tria menciptakan jeda, memilih kata-kata yang bisa memengaruhi adik polosnya.

“Banyak panggilan artinya banyak job. Dan banyak job artinya banyak duit. Kalau banyak duit, artinya kamu bisa ngebahagiain orang tua. Itu ‘kan impian kamu?” kali ini Titik yang bersuara. Ia berusaha agar tidak emosional.

Lagi-lagi Ega mengangguk. Ia hendak meraih ponsel yang terbaring di atas kasur, namun Tria langsung mengambilnya. Tanpa minta izin pun ia sudah mengoperasikannya. Ia dan Titik memang menganggap, apa yang Ega miliki adalah milik mereka juga. Mereka begitu memperlihatkan sisi senioritas dan superioritasnya.

“Kakak mau minta sms?” tanya Ega melihat Tria mengetikkan sesuatu memakai ponselnya, “Boleh, kok. Pulsa Ega masih banyak.”

Evi sempat melongo, sementara Titik hanya memutar bola mata. Mereka sudah terbiasa dengan tingkah, nada dan kata-kata Ega yang khas.

“Kakak menghubungi Evi.”

“Buat apa?”

“Buat mesen martabak,” ketus Titik, “Ya buat ngurus gaya rambut kamu lah!”

Ega menelan ludah, tersentak.

“Nanti kamu boleh pilih sendiri gaya rambutnya, ya?” Tria memberikan ponselnya kembali pada Ega, “Kakak sama Kak Titik mau berpikir soal nama buat grup kita.”

Ega terdiam. Dia teringat Ika dan Intan. Ia juga sempat teringat Evi. Hanya dengan mereka, sepertinya Ega bisa bernapas lega. Dia ingin bercerita, namun kesulitan mesti memulai dari mana.

Poto Ega tanpa make up
lovega.blogspot.com

“Gak usah pake pelanga-pelongo!” tangan Titik mendorong jidat Ega, “Kamu dengerin saya ngomong enggak, sih?”

Ega yang memang tak sadar pun bertanya, “Ngomong naon yah Kakak teh?”

Titik hampir mau noyor kepala Ega, namun buru-buru dihadang Tria. Dalam beberapa kesempatan, Tria memang selalu jadi pahlawan bagi Ega. Dulu Ega sempat berpikir kalau Tria berbeda dan bisa jadi sosok kakak baginya.

Begitu pun dengan Titik. Ketika masih di asrama sampai sekarang ngekos bertiga, dia sebenarnya baik. Walau sikap Titik sudah terlihat dari awal, namun dia selalu perhatian, apalagi untuk urusan makan dan istirahatnya.

“Tadi Kak Titik bilang, sesudah kamu buka kerudung, kamu bisa pakai lagi,” Tria mem-pause perkataannya, “Pasti masyarakat bakal takjub karena kamu sempat berubah, lalu tobat lagi. Pasti grup dangdut kita bakal terkenal!”

“Kenapa enggak Kakak aja atuh yang berkerudung?” usul Ega, yang langsung diserang pelolotan oleh Titik.

“Hih, ogah!” Titik lalu mengambil handuk dan melemparnya ke wajah Ega, “Udah, kamu mandi sana! Terus langsung makan dan istirahat,” titahnya.

“Tapi Ega mau sholat isya dulu yah, Kak?”

“Terserah,” Titik mendengus, “Tapi jangan lama-lama, cepet tidur biar besoknya seger.”

Kali ini Ega menjawab dengan anggukan saja. Dia ingin bercerita pada Mamah dan Papanya. Tapi ia takut malah akan membuat mereka pusing. Otak Ega seperti dipenuhi benang kusut.

Ia pun hanya bisa melangkah ke kamar mandi, membuat Tria dan Titik menyeringai.

“Gaya wet look aja deh, lebih cocok buat wajahnya yang bulat imut,” Tria membuka-buka majalah yang ada di meja, sementara Titik menyilangkan tangan memerhatikan Ega dari belakang.

Baca Juga :  Cerpen: Oh, Galang! Oh, Gibran! Oh, Gilang!

“Ah udah rambut lurus biasa aja, pusing-pusing amat!”

“Kalau blonde pasti lucu!” Tria mengabaikan Titik, “Ya, bener! Nanti rambut kita bakal blonde semua!”

Ega yang tengah duduk menghadap kaca besar sedikit nervous. Ia tak menyangka mahkota yang selama ini ditutup hijab akan dibuka dan diotak-atik, lalu dipamerkan ke publik. Ia juga takut dan gelisah manakala ada Tria dan Titik di dekatnya, membahas gaya rambut apa yang cocok baginya.

Ketiganya sudah tiba di salon milik Evi. Penata rambut itu kebetulan sedang tidak ada job di studio. Namun Evi tidak langsung bekerja. Ia malah berdiri dan ikut memerhatikan Ega, seperti yang dilakukan oleh Titik.

“Apa?” tanya Titik sarkastik ketika sang penata rambut menatapnya.

“Apa?” Evi bertanya balik, menantang.

Semua yang ada sedikit kaget. Bagi Evi, dia memang sedang ada ‘di kandang sendiri’, jadi tak perlu risau akan suatu apapun.

“Kamu?” Titik masih menyilangkan tangan dan menunjuk Evi dengan matanya yang besar, “Ngapain lihat-lihat? Cepet atur rambut Ega!”

“Loe sih ngapain di sini?” nada Evi lebih santai, “Mau minta dibotakin, ya?”

Tak ada jawaban. Darah Titik mendidih. Andai saja bisa terlihat, di atas ubun-ubunnya sudah tumbuh tanduk. Ia tak menyangka Evi yang biasanya tidak melawan, kini malah berani mempermainkannya. Apalagi di depan Tria dan Ega.

Ia hampir saja mau merangsek dan mencengkeram tangan Evi, kalau Tria tidak mencegahnya. Tria menggeleng pelan. Tapi Titik memaksa. Evi pun sedikit lebih keras dengan mencengkeramnya.

“Aw!”

“Mau aku gigit, Kamu!” ancam Tria dengan tegas.

Mata Titik sempat membesar. Namun Ia pun lunglai dan bisa dikendalikan. Sementara dadanya masih naik-turun menahan rasa marah.

“Oke, Vi, kita pergi dulu…” Tria berjuang mengendalikan Titik, lalu membawanya keluar dari salon.

“Oiy!” Evi sedikit berteriak karena Tria dan Titik sudah di dekat pintu keluar, “Siapa yang mau bayar?”

“Si Titik!” suara Tria, lalu sempat menerima protes dari rekannya.

“Iya, iya!” kali ini suara Titik dengan nada pasrah.

~~~

Seperti de javu, Evi dan Ega beradu tatap lewat kaca. Ega perhatikan, Evi tidak mempersiapkan apapun. Meski demikian, ia berinisiatif hendak membuka kerudung. Baru saja jari-jemarinya menyentuh kain penutup kepala itu, hati Ega bergetar. Ia merasa bersalah.

“Enggak perlu, Beb,” suara Evi menghentikan aksinya.

“Kenapa atuh, Kak?” tanya Ega keheranan, “Kira-kira Ega teh cocoknya pake gaya rambut apa yah, Kak?”

“Menurut Loe apa?”

“Naon cing, Kak?” Ega balik bertanya, membuat Evi cekikikan, “Errmm… tadi Kak Tria sempat bilang blon… blon…” Ega garuk-garuk kepala, mengingat-ingat.

Evi mengernyitkan dahi, “Blon apaan, Beb? Bloon? Ha ha ha…”

Ega ikut tertawa. Ia sadar baru kali itu bisa tertawa lebar dan lepas.

“Bonde!” Ega tiba-tiba memetik jari, “Iya, bonde!”

Evi makin tertawa. Kalau saja Ega tidak ada, mungkin dia sudah salto dan membuat salonnya berantakan. Namun kali ini ia hanya memegang perutnya.

“Blonde kali, Beb!” Evi menyusut airmata yang keluar, “Trio Ega, Titik dan Tria berambut pirang?” Evi memasang wajah sedang membayangkan, ia lalu menggeleng-geleng dan tidak menyetujui ide itu.

Ega hanya tersenyum malu-malu. Ia seperti lupa maksud kedatangannya ke salon Evi. Mereka malah mengobrol. Evi sendiri yang mengalihkan perhatian Ega. Ia mesti mengorek apa masalah sebenarnya yang sedang dihadapi adiknya ini.

Lama-kelamaan, Ega pun tak sungkan lagi untuk mencurahkan segalanya pada Evi. Tentang Tria, tentang Titik dan rencana mereka untuk membuka kerudung Ega dan membentuk grup dangdut.

Sampai kemudian, ponsel Ega bergetar. Baik Evi dan Ega yang sedang tertawa di sela-sela obrolan mereka pun terdiam. Ega melirik ke arah ponsel dan memutuskan untuk kembali fokus pada Evi, apalagi begitu melihat siapa yang meneleponnya.

“Angkat,” kata Evi datar.

“Fans kok, Kak,” lagi-lagi Ega berbohong. Nama sahabatnya, Ika, masih terpampang.

“Orangnya ada di Jakarta, tauk!” kata Evi lagi, masih datar.

“Huh?” Ega kebingungan, “Naon sih Si Kakak teh?!”

“Ika sama Intan,” kata Evi santai, “Pas kemarin kamu diculik sama dua berandalan itu, dua bestfriend SMA kamu itu datang ke ruang make up terus ketemu Gue deh…”

“Tapi…”

“Bentar lagi juga datang ke mari,” lanjut Evi, mengabaikan Ega yang hanya mengedip-ngedip saja, “Gue ngasih tau mereka jalan ke sini, sekalian mempertemukan kalian.”

“Tapi mereka…” Ega mendadak panik.

“Kalau penasaran mereka mau ngapain, tunggu aja, Beb,” Evi memegang bahu Ega, “Loe mesti ingat. Orang lebih suka sama sosok yang apa-adanya. Jangan jadi orang lain dan tersiksa demi mendapat perhatian masyarakat.”

Ega butuh sedikit waktu untuk mencerna kata-katanya.

“Tapi Ega teh udah milih…”

“Iya, emang. Milih itu bebas, Beb,” potong Evi, “Tapi Loe gak bakal terbebas dari konsekuensinya.”

“Ega…”

“Mumpung semuanya belum kejadian, Loe pikirin dari awal,” mengusap ubun-ubun Ega, “Bandingin. Pas loe buka kerudung, lebih ngefek ke positif apa negatif?”

“Ega bakal dapet banyak hater yah, Kak?”

Evi tersenyum, “Mending kalau hatersnya itu orang-orang asing yang Loe gak kenal,” Evi berhenti sejenak, “Lha kalau hatersnya itu keluarga Loe sendiri? Atau orang-orang Kuningan? Atau malah, sahabat-sahabat Loe termasuk Gue, Ika dan Intan? Mau gimana? Apa Loe cukup bahagia sama Tria dan Titik doang?”

Baca Juga :  Cerpen; Si Perjaka Beranak Dua

“…”

Ega masih speechless, sampai-sampai dia tidak sadar kalau Evi sudah melangkah ke pintu depan. Evi memilih meninggalkan Ega sejenak untuk menemui tamunya, yang tak lain adalah Ika dan Intan. Di belakang mereka, masih ada dua sosok lagi.

Poto Ega

“Hey!”

Ega yang merasakan tekanan tangan pada bahunya langsung terlonjak. Matanya hampir keluar begitu ia melihat dua sosok yang dihindarinya, namun amat dirindukannya. Sontak saja Ega langsung berhambur memeluk Ika dan Intan sekaligus.

“Maafin Ega, hiks…” bahu Ega naik-turun menahan tangisnya, “Maaaaf pisan! Ega udah banyak salah, tapi jangan tinggalin Ega, ya?!”

“Sshhh… kita di sini, Ga, ssh…” Ika yang menenangkan, sementara Intan malah ikut berkaca-kaca dan hanya mampu mengelus-elus punggung sahabatnya.

Evi dan dua sosok yang melihat pemandangan itu hanya bisa tersenyum.

~~~

Beberapa kali Ika dan Intan mesti menyiku Ega. Penyanyi muda itu sering kedapatan melongo menatap dua laki-laki yang ia kenal namanya saja; Rizki dan Ridho. Dua produser muda itu memutuskan untuk membawa Ega, Ika dan Intan ke kantor mereka daripada mesti berlama-lama di salon Evi. Kini kelimanya sudah ada di ruang meeting.

“Jadi gimana, Neng Ega?” tanya salah-satu dari mereka, yang Ega kenal sebagai Ridho, “Kamu bersedia, ‘kan?”

“Errmm…” Ega celingukan, mendadak begitu grogi ketika semua mata tertuju padanya, apalagi mereka seperti mengharap-harap jawabannya, “Bersedia naon, cing?”

Gubraaak…

Intan menjatuhkan kepalanya ke meja, sampai terdengar bunyinya. Sementara Ika hanya tertunduk lemah, menyayangkan Ega yang ternyata tidak memerhatikan dua produser muda itu berbicara.

Rizki sendiri menahan tawa dan bersandar ke kursi putarnya. Beda lagi dengan Ridho, yang tak segan-segan mengeluarkan senyum lebarnya. Ia begitu terkesan dengan kepolosan Ega yang disaksikannya secara langsung.

“Kami menawarkan kontrak sebagai penyanyi solo sama Neng Ega,” Ridho menjelaskan dengan sabar, “Tadi kami menerangkan ketentuannya, klausanya, honornya dan…”

“Hah?” kekagetan Ega membuat Ridho berhenti menjelaskan dan kembali tertawa, “Jadi Ega teh mau solo, enggak grup sama Kak Tria dan Kak Titik?”

“Enggak, Neng,” Ridho menggeleng sambil menyatukan alisnya, “Anak-anak LOVEGA pasti pengin kamu nyanyi sendiri.”

“Tapi…” Ega lirik kiri-kanan, seolah meminta bantuan pada Ika dan Intan untuk meneruskan apa yang ingin ia katakan. Ega terlalu deg-degan untuk berbicara dengan Ridho, apalagi begitu Ika-Intan-Rizki hanya jadi penonton saja.

“Tapi apa?” Ridho mencondongkan wajahnya, membuatnya begitu dekat di mata Ega.

“Kasep…” ucap Ega tanpa sadar, dan seisi ruangan langsung terpingkal-pingkal.

~~~

Poto Ega tanpa make up 2

Ega, Ika dan Intan sudah ada dalam mobil yang disewakan Rizki-Ridho untuk mereka. Ketiganya memutuskan untuk kembali ke Kuningan. Mereka akan berdiskusi dengan keluarga, sekaligus menentukan siapa yang pantas jadi manajer Ega.

Namun sebelum itu, sempat terjadi drama ketika mereka hendak mengemas barang-barang di kosan Tria dan Titik. Dua senior itu tak memudahkan jalan Ega untuk pulang.

Beruntung datang Evi dan kawan-kawan make up artisnya. Karena kalah jumlah, Tria dan Titik pun kalah. Ega, Ika dan Intan begitu berterima kasih pada mereka.

“Ega teh seneng pisan!” seru Ega sambil memeluk bantal yang ada di mobil, “Nuhun kalian teh selalu ada buat Ega.”

Sudah tanpa kata-kata lagi, ketiganya berpelukan. Ega benar-benar ikhlas mengekspresikan rasa terima kasihnya. Baru ia sadari, kalau berada dalam dekapan seorang sahabat adalah hal nyaman yang ia rasakan. Apalagi ia tak menyangka, meski sudah cuek terhadap Ika dan Intan, namun keduanya malah membalas dengan sebaliknya.

Ika dan Intan justeru aktif mengkoordinir fans Ega, yang mereka beri nama “LOVEGA”. Meski Ega sudah keluar dari kompetisi dangdut yang melambungkan namanya, namun kedua sahabat itu makin gencar menggalang dukungan. Beberapa kali hastag tentang Ega jadi trending topic, sampai-sampai produser Rizki-Ridho pun tertarik dan menghubungi Ika dan Intan.

“Jangan lupa berterima kasih juga sama LOVEGA ya, Ga?” usul Intan begitu mereka melepas pelukan.

Ega mengangguk, “Pasti!”

“Terus buka kerudungnya enggak jadi, ‘kan?” tanya Ika.

“Hehehe…” Ega tersipu malu, membuat Intan tak kuasa untuk tidak mencubit hidungnya.

“Aw!”

Ega membalas mencubit.

“Duh!”

Ika ikut-ikutan dengan menggelitik keduanya.

“Huahahaha…”

Mobil jadi bergoyang karena mereka saling melakukan ‘kekerasan dalam persahabatan’. Bedanya, kekerasan yang satu ini malah menyebabkan tawa berkepanjangan.

Tawa ketiganya bercampur dengan tawa sang sopir di depan. Berkali-kali lelaki berkumis itu geleng-geleng kepala, tapi sambil fokus melihat ke jalan. Dalam perjalanan Ega dan dua sahabatnya pulang.

~SELESAI~

*Cerita ini hanya fiktif belaka. Nama-nama tokohnya daku ambil dari peserta D’Academy 2, dengan peran utamanya Ega Noviantika asal Kuningan – Jawa Barat. Mohon maaf kalau ada sesuatu yang tidak berkenan.

Ngomong-ngomong… ada yang pengin menulis cerpen dan ditampilkan di blog ini? Silakan hubungi @Dee_Ann_Rose.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 + twelve =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.