Dilema Ketika Menghadapi Orang-orang Toxic

0
SHARE
orang tua toxic, arti orang toxic, contoh orang toxic, pengertian orang toxic, menghadapi orang toxic, arti kata orang toxic, orang toxic adalah, ciri orang toxic, orang toxic itu apa
Image via: community.sparknotes.com

Pasti kamu familier dengan istilah toxic people, toxic friends,toxic family, toxic relationship, atau yang serba toxic lainnya?

Sesuai namanya, mereka itu toxic alias beracun. Tetapi racunnya tidak ditularkan melalui gigitan atau sengatan. Mereka lebih dari itu.

Ciri-ciri orang toxic

Orang toxic itu biasanya suka merugikan, menyusahkan, menyiksa, dan bikin sakit secara fisik atau pun emosi. Ciri-cirinya tidak jauh dari:

  • Manipulatif/suka ngibul,
  • Mau enaknya saja,
  • Tidak mau gantian menolong,
  • Susah mengakui kesalahan (apalagi minta maaf),
  • Enggak pernah mengapresiasi kamu,
  • Selalu meremehkan kamu,
  • Cepat menghakimi,
  • Suka memaksa/mendikte,
  • Suka play victim alias memposisikan diri sebagai korban,
  • Suka menyalahkan/menuduh/menuding-nuding,
  • Menghormati orang tuamu saja, hartamu saja, jabatanmu saja, dst.
  • Bermuka dua,
  • Plin-plan parah,
  • Pikirannya negatif terus,
  • Dll.

Jelas sekali, efek racun para toxic people itu lebih dahsyat. Mereka menyedot semua waktu, energi, bahkan mood baik kamu. Dijamin kamu enggak akan nyaman jika hidup bersama dengan mereka. Bawaannya sebal, capek, dan malas mempertahankan hidup.

Bisa disimpulkan, jika kamu mempertahankan orang-orang toxic berarti kamu sedang meracuni dirimu sendiri, hidupmu sendiri.

Adakah orang-orang tersebut di sekitar kamu?

Saya pribadi cukup sering menemukan mereka. Baik itu dari kalangan teman, sahabat, dan saudara sendiri. Kalau masih sebatas teman yang dikenal, saya merasa tidak apa-apa untuk tidak mengetahuinya lebih jauh. Tak perlu tahu kontak WA-nya, akun media sosialnya, apalagi hal-hal pribadi lainnya.

Kalau sudah menjadi sahabat, saya terpaksa mundur dan jaga jarak. Bagaimana pun, pengaruh toxic friend itu buruk sekali. Kesehatan mental saya bisa terus terganggu.

Demikian juga dengan saudara yang toxic, saya membatasi interaksi. Kami tidak memutuskan tali silaturahmi, tetapi tidak begitu akrab juga. Masalahnya, mereka pernah memfitnah dan mengadu domba saya. Beruntung, orang hendak ‘diadukan’ dengan saya justru lebih percaya pada saya.

Baca Juga :  1 Pelajaran Menarik dari Artis Kpop: Menjaga Privasi Hubungan di Media Sosial

Entahlah ada apa dengan mereka ini. Seakan-akan mata dan langkahnya hanya fokus pada tujuan pribadi, lalu mengesampingkan perasaan orang lain. Segala macam upaya dilakukan, sekali pun dampaknya negatif.

Para toxic people tentu bukanlah masalah besar kalau statusnya ‘orang asing’ atau ‘orang lain’. Kamu tinggal mengabaikannya. Nahasnya, banyak diantara mereka yang justru menjadi pasangan, sahabat, kerabat, bahkan keluargamu sendiri.

Di titik inilah, kamu mungkin dilematis.

Orang toxic itu hanya membawa aura negatif. Idealnya mereka mesti segera dijauhi. Kalau bisa, kamu tidak perlu berurusan lagi dengan mereka.

Beberapa orang mampu melakukan langkah ekstrem. Mereka memutus hubungan dengan pasangan, sahabat, tetangga, bahkan keluarga yang toxic. Biar mereka dianggap kurang ajar, yang penting kehidupannya terjaga dari drama dan ‘penyakit-penyakit’ yang melilit.

Ada juga orang yang lebih meningkatkan kewaspadaan. Mereka membiarkan orang-orang toxic itu di sekelilingnya. Tetapi mereka membuat batasan tersendiri. Ada benteng di hati.

Kalau sudah parah, orang-orang toxic itu sering enggan mengakui keburukan efeknya. Mereka selalu merasa lurus dan benar, sekali pun sudah kita buktikan dan jelaskan panjang lebar. Tetap hati-hati, ya.Dilema ketika menghadapi orang-orang Toxic. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 − 11 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.