Doa dan Harapan: Menghilangkan Keraguan Apakah Ibadah Diterima atau Tidak

0
SHARE
 menghilangkan keraguan apakah ibadah diterima atau tidak, mengatasi ragu ketika beribadah, mengobati was was
Image via: images.assettype.com

Saudara sekaligus tetanggaku tergopoh-gopoh ke musala dan duduk di sisi kanan saya. Maklum, salat isya sebentar lagi didirikan. Ketika saya tanya alasannya terlambat, dia bilang sudah nonton sidang isbat dulu. Takut lebarannya besok, 04 Juni 2019.

Ternyata hasilnya, 1 syawal 1440 Hijriah ditetapkan pada 05 Juni 2019.

Kabar tersebut jadi sesuatu yang bittersweet. Antara manis dan pahit. Manis, karena kita akan menyongsong Idul Fitri. Pahit, karena kita akan berpisah dengan bulan suci.

Ketika salat isya, tepatnya rakaat ketiga, jantung saya memompa cepat. Pasalnya imam sudah duduk tahiyat akhir. Saya bertanya-tanya, apakah saya melamun sehingga tidak sadar sudah rakaat ke-4. Tapi sepertinya saya tidak sendiri. Orang lain pun menunjukkan gesture keraguan dan kebingungan.

Akhirnya saya dan jemaah lain hanya bisa menurut imam. Kami salat isya dengan tiga rakaat. Sempat terdengar jemaah laki-laki berseru ‘subhanallah’. Namun imam tetap melanjutkan salat sampai salam.

Begitu selesai, terdengar bisik-bisik di sana-sini. Termasuk saya dan saudara sekaligus tetangga di sisi kanan saya. Kami berbagi rasa panik sekaligus bingung, ketika tiba-tiba duduk tahiyat akhir, padahal seharusnya berdiri sekali lagi.

Apakah salat isya kami sah? Apakah ibadah kami akan diterima?

Baru pertama kali, dalam sebulan ini, imam yang memimpin salat melakukan kesalahan. Beliau dikenal fokus dan hati-hati, tipikal imam salat. Beliau memang bukan ‘imam utama’, tapi sejauh ini sudah menjalankan tugas berat dengan baik.

Salat tarawih tetap berlangsung. Namun auranya memang agak kikuk. Salat tarawihnya terasa lebih cepat dari biasanya.

Begitu selesai salat witir, imam utama – yang malam ini menjadi makmum, mencuri perhatian. Beliau hendak memberikan kultum di malam terakhir salat tarawih. Otomatis jemaah pun diam dulu di tempat masing-masing. Hanya beberapa anak kecil saja yang sudah ke luar musala.

… jangan pernah terbersit pertanyaan, ‘apakah Allah Swt akan menerima ibadah kita?’, tetapi sebaiknya berdoalah agar Dia berkenan menerimanya.

Demikian potongan kalimat Pak Kyai. Saya pribadi sangat tenteram mendengarnya. Sebab, jujur, saya pernah merasa demikian. Ada keraguan kalau ibadah saya sudah benar, sudah sesuai ‘standard’ Dia, sudah bersih, dst. Ternyata pikiran semacam itu keliru.

Baca Juga :  Para Siswa Tak Akan Pernah Sama

Pak Kyai melanjutkan, kalau sangkaan negatif terhadap Allah Swt itu harus dihapuskan. Hanya karena ilmu tentang salat belum cukup, bukan berarti kita harus mangkir dari ibadah tersebut. Jangan sampai ada pikiran, ‘ah saya mah apa atuh pengetahuan agamanya sedikit, gak tahu deh ibadahnya diterima atau enggak’.

Padahal semestinya kita beribadah saja. Soal diterima atau tidak, itu sudah hak penuh Allah Swt. Namun kita juga perlu berdoa dan berharap agar ibadah kita diterima.

Beliau juga membahas kekhilafan imam. Beliau menegaskan agar tidak ada jemaah yang salat isya ulang. Sebab salat tersebut sudah sah.

Salah dan khilaf itu manusiawi. Imam pun tidak akan luput dari kesalahan dan kekhilafan. Kalau bagi keyakinannya sudah 4 rakaat, kita sebagai makmum yang yakin baru 3 rakaat harus manut saja. Ada pun “peringatan” dari makmum pada imam dilakukan satu kali saja dan tidak perlu teriak, apalagi sampai menepuk-nepuk. Kalau imam sudah berada pada posisi mantap, maka “peringatan” itu sudah tidak berlaku. Mau tidak mau kita harus mengikuti imam saja. Karena sikap itulah, insya Allah ibadahnya tetap sah.

Menurut beliau, kita harus belajar untuk ‘tidak terlalu banyak berpikir’. Mirip seperti orang yang hendak takbiratul ihram ketika salat. Ada yang sampai melakukannya berkali-kali karena khawatir cara dan bacaannya tidak sempurna.

Ada juga yang di tengah jalan lupa bacaan surat pendek setelah Alfatihah. Padahal sebaiknya lanjutkan saja. Tidak perlu larut dalam pikiran, yang justru sebenarnya membuyarkan ibadah.s

Intinya, lakukan saja kebaikan dengan niat karena Dia semata. Sudah. Tidak perlu memikirkan hal lain yang justru mendatangkan kewaswasan dan keraguan terus-menerus.

Termasuk di Bulan Ramadan kali ini. Sebulan penuh kita beribadah wajib dan sunnah. Sudah, diperlu digali apakah ibadah tersebut sah atau tidak; diterima atau tidak. Biar diatur oleh Dia saja. Doa dan Harapan: Menghilangkan Keraguan Apakah Ibadah Diterima atau Tidak. #RD

Baca Juga :  Alasan Kenapa Tidak Benar-Benar Mencintai Keluarga Sendiri
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.