Fanfiction; Hadiah Terbaik untuk Adik

4
SHARE

“Ada masalah, Hyung?” suara Jong hyun membuyarkan lamunan Chanyeol.

Sebenarnya jadwal siaran Chanyeol digelar nanti sore. Kalau wiken, ia bisa sampai malam. Namun karena di rumah tak ada siapa-siapa, Chanyeol lebih memilih tempat kerjanya. Paling tidak, ia bisa mengobrol atau menjahili koleganya. Kehadirannya juga bisa “dimanfaatkan” untuk mengelola media sosial radio. Ia malah sudah mendapat julukan sendiri. Baik itu Admin CY, Mimin CY, atau Happy Virus CY.

“Enggak,” Chanyeol memegang area belakang lehernya, “Pegel aja kelamaan mantengin komputer.”

“Juniel, ya?” Jong hyun menerka, “Gimana kabarnya sekarang?”

Walau tak mengungkapkan langsung, Chanyeol sudah membaca ketertarikan rekan kerjanya terhadap sang adik. Ia sangat lega, sebab Jong hyun merupakan sosok lelaki yang baik. Namun di satu sisi, dirinya tak bisa memaksa Juniel.

Pernah suatu kali ketika ketiganya bertemu, Chanyeol terus menggoda Jong hyun dan adiknya itu. Begitu di rumah, sang adik langsung memborbardirnya. Ia sudah senang karena bisa menerima Jong hyun sebagai teman, namun di saat yang sama malah menjadi canggung karena candaan Chanyeol.

“Hyung?” Jong hyun sudah duduk di kursi samping kiri Chanyeol, “Apa Juniel mimpi buruk? Sakit? Atau, pengin ketemu Kim Tae yeon?”

Chanyeol takjub akan nada khawatir dari Jong hyun.

ff fanfic fanfiction chanyeol jong hyun dan juniel

“Kita harus serius mengumpulkan uang, biar bisa membeli tiket nonton konsernya,” kata Jong hyun, “Tapi kapan, ya? Oh iya! Taeyeon bakal menggelar konser untuk kesuksesan album terbarunya? Pasti Juniel pengin tiket itu. Kabar itu sudah nyebar di media sosial. Iya, ‘kan?”

Mendengar istilah “media sosial”, Chanyeol langsung mengerutkan alis. Begitu masuk dan log ini ke media sosial radio saja, ia sudah ingat Juniel. Sepulang kuliah, sang adik biasanya akan membuat fanart, menguploadnya ke instagram, lalu bercengkrama dengan akun-akun lain. Chanyeol memfavoritkan senyum dan interaksi Juniel dengan teman-teman dunia mayanya.

Baca Juga :  Puisi; Yang Kupegang, Yang Menghilang

Namun pasca insiden kemarin, Juniel praktis tak pernah log in instagram lagi. Ia masih membuat ilustrasi Taeyeon, namun hasilnya hanya disimpan di dalam file khusus saja. Setelah itu, Juniel akan terlihat bosan. Kalau tidak menyaksikan tayangan televisi yang menjengahkan, ia hanya membaca sampai tertidur di sofa.

“Yah, Hyung!” Chanyeol refleks mengangkat lutut yang dipukul oleh Jong hyun, “Kamu kesurupan atau gimana, sih?”

“Jong hyun~ akan kumakan kamu…” Chanyeol menirukan mimik muka menakutkan, “Ambilkan aku chopstick, akan kumakan kamu…” lanjutnya, yang malah membuat Jong hyun tertawa, bukan ketakutan.

~

Matahari sudah membungkukkan badannya. Bumi seperti menelannya hidup-hidup. Namun ia masih memiliki sisa sinar untuk menemani Chanyeol berjalan.

Sambil jalan kaki dan sesekali menendang kerikil, Chanyeol terus mengingat percakannya dengan Jong hyun. Ia memang memutuskan untuk curhat. Jika masalahnya berkaitan dengan Juniel, Chanyeol yakin kalau Jong hyun akan memberi solusi terbaik.

“Oppa pulang..!” seru Chanyeol ketika memasuki rumah, “Hmm… wah rumah ini kebakaran, ya? Aroma apa ini?” Dia yang sudah tahu jawabannya, kemudian melenggang ke area dapur.

“Oppa curang,” Juniel mengelap keringat di dahi dengan tissue-nya, “Oppa datang pas makanannya sudah matang.”

“Bukannya itu bagus? Jadi kita bisa langsung makan?” Chanyeol langsung mengambil posisi duduk tegap, “Yeay! Galby!” responsnya ketika Juniel meletakan menu makan mereka kali ini.

“Akhir-akhir ini Oppa sering loading lama terus teledor, ” kata Juniel sambil duduk berhadapan dengan Chanyeol, “Aku berharap masakan ini bikin Oppa sembuh,” ia menyeringai ketika kakaknya manyun.

“Yah! Emangnya Oppa sakit apaan?” Chanyeol langsung melahap iga yang bumbunya masih mengkilat, “Tapi.. hhh… go.. ma.. woh, Juniel-ah,” ucapnya di sela-sela upayanya untuk mengunyah makanan panas.

Baca Juga :  Puisi; Kata Mereka, Kamu…

Juniel tertawa, “Dae, Oppa.”

“Ayo kamu juga makan. Ini enak banget, loh!”

“Dae, Oppa.”

“Nah, gitu. Jadi adik yang nurut, ya?”

“Dae, Oppa.”

“Oppa juga akan jadi kakak yang baik.”

“Dae, Oppa.”

“Oppa akan loading lama dan teledor lagi biar dapet galbi.”

“Dae, Op-” Juniel menyorotkan tatapan tajam pada kakaknya yang tengah terbahak, “Yah! Andwae, Oppa!”

“Hahaha… arasso, arasso,” Chanyeol mengendalikan tawanya, “Terusin lagi makannya.”

Juniel mendengus, tapi ia menuruti perintah kakaknya.

~next-page-RD-300x100-1

1
2
3
4
5
SHARE

4 COMMENTS

Comments are closed.