Hai Diriku di Masa Lalu, Berikut 22 Hal yang Ingin Kusampaikan Padamu

2
SHARE
hai diriku, hari diriku yang dulu, hai diriku di masa lalu, aku di masa lalu, yang ingin kusampaikan pada masa laluku
Image via: theboxedllama.com

Apa yang ingin kamu sampaikan untuk dirimu yang dulu?

Sebelum lebih jauh menuding orang lain dan akun-akun media sosial, dirimu sendiri adalah sahabat terbaikmu sekaligus musuh terbesarmu.

Dirimu sendiri bisa menjadi sosok yang selalu ada, suportif, dan memberikan nasihat terbaik. Dirimu sendiri juga bisa menjadi sosok yang kabur ketika dibutuhkan, gemar merendahkan, dan membentak jiwa sampai merasa trauma.

Menariknya, topik tentang hal ini sempat jadi trending di Twitter. Orang-orang memosting twit bertajuk “Hai Diriku di Masa Lalu”. Banyak pengakuan dan penyampaian.

Psikiater dr. Jiemi Ardian juga membahas topik tersebut di akun Instagramnya. Alhasil, banyak orang yang melakukan ‘perbincangan hangat’ dengan dirinya sendiri.

Berikut ini beberapa hal yang bisa kamu sampaikan juga pada dirimu di masa lalu:

hai diriku, hari diriku yang dulu, hai diriku di masa lalu, aku di masa lalu, yang ingin kusampaikan pada masa laluku, sendiri, kesendirian
Fotografer: Mikko Lagerstedt

#1

Hai, diriku yang dulu. Terima kasih sudah melakukan yang terbaik untuk beberapa hal, walau pada akhirnya tidak jadi yang terbaik untuk hal-hal tersebut. Saya bangga karena kamu sudah berikhtiar keras dan melepaskan hasilnya dengan ikhlas.

#2

Hai, diriku. Tugasmu bukan untuk menjadi yang sempurna, tidak tertandingi, dan selalu berhasil. Tidak apa-apa kamu pernah gagal. Tidak perlu terlalu keras menghukum dirimu sendiri. Dunia ini sudah sangat keras dan kejam, kamu tidak perlu melakukan kekerasan dan kekejaman juga pada dirimu sendiri.

#3

Selamat pagi, diriku. Saya mohon maaf, rasa sakit yang kamu rasakan memang menyiksa. Tetapi terima kasih, ya, karena kamu masih bersedia untuk berobat, berdoa, dan tulus menerima cobaan yang ada. Tidak ada yang abadi, termasuk rasa sakit itu. Semoga kesabaran dan rasa syukurmu pada-Nya berakhir indah.

#4

Hai, diriku di masa lalu. Terima kasih sudah nyaman menjadi manusia yang biasa-biasa saja, yang sedang-sedang saja. Terima kasih banyak karena tidak menuntut kesempurnaan, yang memang mustahil untuk dicapai.

Baca Juga :  Terlalu Banyak Hal yang Menyakitkan, Tapi Rasa Sakit Ini Tidak Akan Abadi

#5

Selamat senja, diriku. Mohon maaf karena merasa sakit, kecewa, dan marah akibat perceraian orang tua. Tetapi terima kasih karena sudah menempa diri jadi pribadi yang tegar dan tangguh.

#6

Halo, diriku yang dulu. Terima kasih sudah bertahan sampai saat ini, dengan kondisi yang serba terbatas ini.

#7

Pengin mengingatkanmu untuk meluangkan waktu dengan orang-orang terkasihmu, sebab kamu tidak pernah tahu kapan perpisahan akan menyudahi kebersamaan.

#8

Terima kasih sudah memutuskan untuk melanjutkan perjuangan, dan menghentikan usaha untuk menyakiti diri sendiri. Terima kasih juga, karena pikiran untuk mengakhiri hidup perlahan menipis dan hilang. Kamu hebat!

#9

Coba belajar untuk menarik napas dalam-dalam. Terapkan jeda dalam kesibukan dunia. Terapkan hening dalam kebisikan suara. Tetap tenang, ya.

#10

Mohon maaf karena dulu saya sering menyudutkan dan menyalahkanmu. Sehingga kamu jadi sedih dan sesak sendiri. Padahal bisa jadi semua ini bukan salah siapa-siapa.

hai diriku, sendiri, tafakur sendiri, diriku sendiri, hari diriku yang dulu, hai diriku di masa lalu, aku di masa lalu, yang ingin kusampaikan pada masa laluku
Image via: theconversation.com

#11

Halo, diriku. Tidak perlu menyibukkan diri dengan perkataan orang lain. Tidak apa-apa kalau kamu tidak seperti apa yang mereka harapkan. Kamu tidak bisa membuat semua orang puas dan senang. Tidak perlu terganggu dengan suara-suara luar, fokus saja mendengarkan suara-suara dari dalam.

#12

Selamat senja, diriku. Terima kasih karena sudah berani terbuka, menyampaikan perasaan dan pikiran. Terima kasih sudah ada inisiatif untuk mencari pertolongan. Kalau sudah terlalu berat, kamu bisa konsultasi pada psikolog dan psikiater, ya. Kita berjuang sama-sama.

#13

Selamat pagi jelang siang, diriku. Terima kasih sudah mau melepas orang-orang yang toxic yang membuatmu terus-terusan sakit. Tentu saja keputusan tersebut tidak ringan. Tetapi apa yang kamu lakukan sudah baik.

Baca Juga :  Hati yang Kuat pun Punya Hak untuk Melemah dan Merasa Lelah

Kamu sudah berusaha dan berjuang dengan sengit, kalau mereka tidak berubah dan tetap memperlakukanmu dengan buruk, maka mengakhiri hubungan bisa menjadi alternatif terbaik.

#14

Hai, diriku. Saya tahu kamu memiliki serangkaian penyesalan dan rasa bersalah. Kamu juga merasa kecewa atas beberapa keputusan yang ternyata kurang tepat.

Tidak apa-apa, kamu tidak pernah tahu mana yang terbaik; apakah ketika semua cita-citamu tercapai, maka kebahagiaan jadi jaminan. Kamu tidak pernah tahu. Maka mari belajar untuk melepaskan apa yang sudah terjadi, dan menjalani hari ini untuk esok yang lebih bersinar lagi.

#15

Halo, diriku. Kesulitan demi kesulitan sudah berhasil kamu lewati. Terima kasih untuk perjuangannya. Tetapi rintangan bukan berarti akan berhenti. Ujian hidup akan tetap ada, mungkin lebih banyak dan berat. Tetapi kamu sudah semakin kuat untuk menghadapinya. Kita tetap bersama, ya.

#16

Hai, diriku di masa lalu. Baik dulu mau pun detik ini, kamu masih terganggu oleh ketidakpastian masa depan. Kekhawatiran itu wajar terjadi, asal jangan sampai over-thinking. Tetap jalani masa kini dan tetap di sini. Sebab masa depan belum benar-benar datang. sambil berikhtiar, sambil memercayakan semua pada-Nya.

#17

Halo, diriku. Rupanya nilai mata pelajaran yang kecil ketika sekolah tidak menjamin hidupmu suram. Rupanya ranking teratas yang kamu banggakan tidak menjamin hidupmu cemerlang.

#18

Hai, diriku. Saya mohon hilangkan kebiasaan untuk beralibi. Tidak perlu lagi pura-pura ‘terlalu sibuk’, padahal malas silaturahmi dan menengok orang. Tidak perlu lagi pura-pura ‘produktif’, padahal kamu sedang menonton video hiburan. Tidak perlu lagi pura-pura ‘lupa’, padahal kamu sedang menghindar dari tanggung-jawab.

#19

Hai, diriku. Saya tahu persis kamu kurang nyaman berada dalam keramaian, berbasa-basi, atau bersosialisasi. Tetapi terima kasih karena tetap berusaha untuk menjalin hubungan langsung dengan orang-orang terdekat. Saya mengapresiasi usahamu untuk menyeimbangkan aktivitas di dunia maya dan dunia nyata.

Baca Juga :  9 Langkah Menghalau Rasa Galau

#20

Hai, diriku. Kamu sudah belajar dari yang sudah-sudah. Beberapa orang memanfaatkan kebaikan dan sifat enggak enakan kamu. Kamu sudah memaafkan mereka, tapi tidak perlu membenarkan – apalagi memberikan kesempatan dan kepercayaan lagi.

Sesekali tidak apa-apa untuk memprioritaskan dirimu, bukan orang-orang yang tidak mengapresiasi kebaikanmu.

#21

Hai diriku dari masa lalu, maaf aku sering merepotkanmu. Mestinya aku belajar untuk menerima dan mengikhlaskan apa yang tidak bisa aku ubah dan kendalikan.

PS: Terima kasih, ya, karena tetap ada dan membela dalam keadaan apa saja.

#22

Hai diriku dari masa lalu. Tentu saja kita masih memiliki banyak urusan yang belum selesai. Benang-benang itu masih kusut. Tetapi saya sadar, saya tidak mengubah kamu dan segala cerita masa lalumu. Saya hanya bisa menerima kamu apa adanya.

Sampai sini dulu, ya. Pasti masih banyak hal yang ingin saya sampaikan padamu. Mungkin lain kali kita berbincang lagi.

Intinya, saya ingin mengucapkan mohon maaf sebesar-besarnya dan terima kasih sebanyak-banyaknya. Pelukan, yuk? Hai Diriku di Masa Lalu, Berikut 22 Hal yang Ingin Kusampaikan Padamu. #RD

SHARE

2 COMMENTS

  1. Aku kok pengen nangis ya bacanya, rasanya tertampar banget gitu. Kayaknya aku juga harus bikin kaya gini, biar aku ga terus2an menyalahkan diri sendiri, lebih mengenal diri sendiri dan tentunya mencintai diri sendiri.

    Bagus banget tulisannya mbak, sangat menginspirasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

thirteen − eleven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.