Jangan Merasa ‘Enggak Enak’, Masalah dan Beban Orang Lain Bukan Tanggung Jawab Kamu

0
SHARE
nggak enak, nggak enakan, sifat gak enakan, perasaan enggak enakan, beban orang lain bukanlah tanggung jawabmu, masalah orang lain bukanlah tanggung jawabmu
Image via: oprah.com

X: Saya suka merasa bersalah kalau ada siswa yang tidak bisa kuliah, apalagi kalau mereka pintar atau punya kemauan untuk melanjutkan pendidikan.

Y: Gak harus gitu juga. Kalau masalah itu sih sudah ada yang ngatur. Yang penting anaknya sudah berusaha maksimal dan guru/tutor sudah ngasih arahan.

X: Saya juga suka kepikiran kalau beberapa siswa memilih mencari kerja saja, tapi sampai sekarang belum mendapatkannya.

Y: Guru/tutor sih sampai segitunya, ya? Tapi siswanya ke guru/tutor belum tentu perhatian. Bisa suruh mereka datang ke pusat info lowongan kerja di SMK tertentu.

X: Diam-diam saya pengin tahu kabar mereka tanpa harus bertanya langsung. Misalnya mereka update status, kek, atau apa. Kalau sudah tahu keadaannya jadi bisa lebih tenang. Mau bertanya langsung, takut salah atau malah menyinggung.

Y: Itu sih namanya kepo. Guru/tutor cukup memberikan arah semaksimal mungkin dan mendoakan yang terbaik. Selebihnya terserah mereka. Enggak jarang, mereka bahkan ‘hilang’ begitu saja, tidak mau menjaga silaturahmi. Pas berpapasan di luar, pura-pura enggak kenal. Barulah kalau mereka ada keperluan ke sekolah, mereka SKSD-SA lagi.

Demikian sekilas obrolan saya bersama partner. Saya mengeluarkan unek-unek lama, yang rupanya masih mengendap. Apa yang dikatakannya, saya iyakan dan renungkan.

Memang tidak ada istilah ‘harus’. Saya tidak harus menjamin kuliah mereka, tidak harus menjamin kerja mereka, tidak harus menjamin masa depan mereka, dll.

Saya hanya harus berusaha semaksimal mungkin untuk mengarahkan dan memotivasi mereka. Semampu saya saja. Selebihnya serahkan pada Tuhan dan semesta untuk mengatur apa yang terbaik untuk mereka.

Pokoknya, untuk hal-hal yang tidak bisa saya kontrol atau kendalikan, sebaiknya saya lepas tangan.

~

Sebenarnya saya sendiri frustrasi dengan keadaan ini. Sebab saya merasa tidak bisa berbuat banyak untuk mereka (adik-adik didik).

Baca Juga :  12 Aktivitas untuk Mengisi “Me Time” atau Momen untuk Menyendiri

Saya memang bukan guru mereka. Bukan juga kakak kandung mereka. Tetapi kebersamaan beberapa bulan dengan mereka sudah menciptakan bonding/ikatan tersendiri.

Keadaan ini bisa berlaku pada keluarga atau orang-orang terdekat saya.

Tidak jarang ada perasaan; kalau masalah dan beban mereka adalah masalah dan beban saya juga.

Padahal saya sendiri sama-sama menanggung beban dan masalah juga. Jadinya, pundak dan dada saya merasa berat dan sesak. Namun keadaan ini memang salah saya sendiri.

Menyerap emosi orang lain

 empati, simpati, nggak enak, nggak enakan, sifat gak enakan, perasaan enggak enakan, menanggung beban dan masalah orang lain
Image via: highlysensitiverefuge.com

Ibarat menonton film. Jika aktornya ditinggal orang tersayang, saya akan ikut kehilangan. Jika aktornya dilecehkan, saya akan ikut marah. Jika aktornya jatuh cinta, saya akan ikut bahagia. Seakan-akan apa yang dirasakan orang lain itu mantul ke diri sendiri.

Tetapi saya rasa, saya tidak sendiri mengalami hal ini. Contohnya sahabat saya. Ketika saya sakit, dia sampai bilang, ‘saya enggak ngerti sakit seperti yang kamu rasakan, Dian, tapi saya bersedia untuk bertukar tempat denganmu’.

Dia mengucapkan hal serupa ketika ibunya sakit. Menurutnya, biarlah dia saja yang sakit. Ibunya atau orang-orang yang dipedulikannya jangan sampai sakit.

Untuk kasus-kasus yang lebih akut, bukan tidak mungkin kalau kebiasaan untuk ‘menyerap energi dan beban orang lain’ itu mengarah pada stres, depresi, merasa bersalah, cemas, enggak enak, dll.

“Sok Menjadi Pahlawan”

Sok jadi pahlawan, jangan sok jadi pahlawan, kata sok jadi pahlawan, empati, simpati, nggak enak, nggak enakan, sifat gak enakan
Image via: personalitytutor.com

Fenomena ini juga bisa jadi toksik. Misalnya ketika seseorang yang saya pedulikan sedang membutuhkan uang. Saya sampai menunda agenda untuk hal penting terkait diri saya sendiri, sebab uangnya saya kasihkan pada seseorang tersebut.

Keadaan ini terjadi sampai berulang-ulang. Sampai adik saya sendiri ikut memperingatkan.

Ada juga yang sistemnya utang. Jadi dia butuh uang dengan jumlah cukup besar, lalu menjanjikan periode waktu tertentu untuk membayarnya. Saya kasih saja, walau pun uang tersebut – rencananya akan dipakai untuk suatu kebutuhan.

Baca Juga :  6 Alasan Kenapa “Sadar Mood” itu Bisa Mendatangkan Kebaikan

Namun sudah beberapa bulan dari ‘waktu jatuh tempo’, utang tersebut belum dibayar. Awal-awalnya dia memberi kabar dan mengutarakan alasan kenapa utangnya belum bisa dibayar. sayangnya, kini dia hilang begitu saja.

Beruntung, beberapa aktivitas sedikit mengalihkan pikiran dan harapan saya. Tetapi yang bikin pening, saya terpaksa berutang ke orang lain untuk menambal kebutuhan yang mestinya ditutupi uang yang saya utangkan itu.

Di titik seperti inilah, saya menyadari kalau rasa simpati/empati bisa jadi ‘senjata makan tuan’.

Ke depannya, saya tetap menyediakan stok maaf untuk dia. Walau bagaimana pun, kami memiliki hubungan yang terlalu sayang untuk diputuskan akibat utang. Tetapi tingkat kepercayaan dan bahkan respek saya sudah tidak sama.

~

Sampai sekarang masih ada lingkaran emosi orang lain yang blur atau samar-samar; apakah saya bisa melangkah ke dalam dan melibatkan diri dengan emosi orang lain itu – ataukah saya tetap di luar saja dan tidak melibatkan diri dengan emosi orang lain itu.

Tidak, apa yang saya posting ini sama-sekali tidak memotivasi orang lain untuk berhenti berbuat baik. Hanya saja, sebelum meringankan beban orang lain – pastikan diri kamu sendiri tidak terbebani. Sebelum membahagiakan orang lain – pastikan diri kamu sendiri tidak tersakiti.

Selain itu, saya jadi sering berpesan pada diri sendiri … untuk tidak memanfaatkan orang-orang baik yang enggak enakan. Jangan sampai mereka ‘kapok’ berbuat baik. Jangan sampai mereka malah terlibat pertengkaran sengit dengan dirinya sendiri.

Untuk semua hal ini, saya masih sedang belajar. Jangan Merasa ‘Enggak Enak’, Masalah dan Beban Orang Lain Bukan Tanggung Jawab Kamu. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.