Kadang-kadang Ingin Mengeluh dengan Keadaan, Apa Selalu Terlarang?

4
SHARE
mengeluh, berhenti mengeluh dan belajar bersyukur, mengeluh menurut islam, jangan mengeluh dengan keadaan, mengeluh dengan keadaan, mengeluh adalah
Image via: hasirudalainnovations.com

Siapa yang enggak risih sama orang-orang yang suka mengeluh?

Keluhan itu cukup sukses bikin mood jadi anjlok. Sikap bersyukur jadi tersungkur. Keadaan pun jadi enggak asyik.

Para pengeluhnya juga kerap menebarkan aura negatif. Tak heran kalau ada beberapa pihak yang anti dan benci keluh-kesah, bahkan menghapusnya dalam kamus kehidupan mereka.

Bagi mereka, mengeluh itu tidak akan mengubah keadaan. Bagi mereka, mengeluh itu tanda lemahnya iman. Bagi mereka, mengeluh itu menipiskan kemampuan sabar. Bagi mereka, mengeluh itu menghina Tuhan. Bagi mereka, mengeluh itu hanya mencari perhatian.

Lalu para pengeluh pun langsung divonis sebagai drama queen, drama king, complain queen, atau complain king.

Maka, pantang bagi mereka untuk mengeluh. Pantang juga bagi mereka untuk respek terhadap orang-orang yang suka mengeluh, termasuk di media sosial. Walau kenyataannya, media sosial juga sering dimanfaatkan sebagai sarana mengeluh.

Bisa diperhatikan … orang-orang masih suka mengeluh tentang kehidupan pribadinya, tentang cuaca, tentang pekerjaannya, tentang postingan orang lain, tentang pemilihan umum, tentang perlindungan hewan, tentang orang hilang, tentang bencana, tentang agama, tentang keadaan persatuan dan kesatuan negara, dsb.

Apakah semua keluhan itu harus dihapuskan dan dilarang-larang? Ataukah ada kategori khusus, keluhan mana yang layak ‘dibenci’ dan bisa ‘dihargai’? Atau mungkin, ada adab khusus untuk menyampaikan keluhan?

Bagaimana pun itu, saya hanya ikut prihatin ketika ada seseorang yang merasa takut untuk curhat dan mengeluh di media sosial. Alasannya karena dia tidak mau dianggap sebagai pencari perhatian, pribadi yang cengeng, frustrasi, dan butuh pertolongan.

Padahal, apa yang hendak dilakukannya adalah haknya sendiri.

Mestinya tidak ada jempol-jempol yang membekapnya untuk bersuara.

Baca Juga :  70+ Kata Kata Cinta Dalam Bahasa Inggris dan Artinya

Kalau dia merasa tidak didengar dan tidak dianggap ada, gimana? Kalau dia memendam luka serta perasaan lain sampai stres dan depresi, siapa yang mau bertanggung-jawab?

Bukannya dirangkul, kita malah mendorongnya menuju jurang gelap – membuatnya semakin terjerembab sesat.

Keluhan mengenai kematian hewan peliharaan, misalnya, bagi sebagian orang mungkin jadi perkara ringan. Namun bagi sebagian lagi justru jadi momen emosional yang bikin sedih dan remuk hati.

Kok kita tega menghakimi derita yang tidak sedang atau belum dirasa?

Asalkan keluhan tersebut tidak mengandung fitnah, tidak sambil menggebrak meja, tidak sambil mengancam, tidak sambil melecehkan apa pun dan siapa pun … kenapa, tidak?

Mengeluh memang memiliki stigma sebagai aksi yang rendah dan negatif. Namun menekan isi hati dan pikiran agar tidak ke luar pun bisa menyiksa. Maka sebaiknya tidak buru-buru dulu menghakimi orang-orang yang komplain, di mana pun itu atau via medium apa pun.

Soal dia sudah curhat sama Tuhan yang diyakininya atau belum, itu urusannya dengan Sang Pencipta. Bukan ranah kita. Sebagai manusia dan makhluk sosial, sudah seyogyanya kita ada dan minimal mendengar. Syukur-syukur kalau bisa memeluk dan mengulurkan tangan.

Justru seseorang yang mulai ke luar dari lingkaran “pura-pura baik-baik saja” itu mesti disambut hangat.

Mereka adalah jiwa-jiwa kuat yang sudah berhasil mengakui kelemahan dan meminta pertolongan.

Kalau kita belum mampu memaklumi kelemahannya, belum mampu menolongnya, belum mampu menjadi tempat berbagi bebannya, atau belum mampu menjadi jiwa yang ada untuknya … setidaknya, diamlah saja. Jangan sampai membisukan suaranya.

Bukankah sabar ketika menampung curhat dan keluhan itu bagian dari sikap bijak?

Biarkan mereka melepaskan bebannya. Upaya itu bisa menjadi ikhtiar agar fisik dan psikis mereka tetap sehat. Kadang-kadang Mengeluh dengan Keadaan, Apa Dilarang? #RD

Baca Juga :  Cerita Lucu & Inspiratif; Otak Guru VS Otak Murid
SHARE

4 COMMENTS

  1. Nggak semua orang mau & sempat mbak. Mungkin hidupnya sendiri lagi susah jadi keluarnya nggak ngenakin hati gitu. Semoga kita diberi kemudahan melalui segala kesulitan ya mbak. Aamiin.

  2. manusiawi jika orang sesekali mengeluh kak, kita bukan malaikat. tapi memang kalau disadari semakin mengeluh hidup terasa lebih berat :(. legoowo, ikhlas akan takdir tuhan biasanya bisa mengurangi keluhan dalam diri kita sendiri

    • Bijak betul, Mbak Rini. Itu sudah beda level. Keren!

      Tapi beberapa orang, ada yang masih butuh media untuk mengungkapkan unek-uneknya. Mungkin dia merasa ‘tidak didengar’ dan memang butuh perhatian, atau butuh sesuatu untuk mengalihkan kesedihannya.

Comments are closed.