Ketika Anak Broken Home Membandingkan Keluarga Sendiri dengan yang Lain

0
SHARE
membandingkan keluarga, membandingkan diri dengan orang lain, membandingkan keluarga sendiri, keluarga anak broken home
Image via: herviewfromhome.com

“… saya suka iri sama keluarga teman saya yang akur, harmonis, sering bercanda dan tertawa …”

Demikian potongan isi salah-satu email yang masuk. Pengirimnya merupakan satu dari sekian anak broken home – sama seperti saya.

Rasa iri dan membanding-bandingkan diri tampaknya tidak begitu asing. Ketika masih SD, saya cuma bisa diam di saat kawan-kawan yang lain heboh membicarakan liburan. Sebagian besar akan membusungkan dada ketika bercerita tentang bapak dan ibunya.

Saya masih ingat salah-satu diantara mereka bilang, ‘saya beli tas dan sepatu ditemenin sama ibu bapak, tapi pas saya pegel – jadi bapak gendong saya, terus ibu yang milih-milih deh!’.

Membayangkannya sungguh indah. Sayangnya, saya tidak pernah merasakan pengalaman demikian. Sebatas angan-angan.

Sampai sekarang, saya dan anak-anak broken home lain tidak perlu mendengar cerita dari anak-anak yang keluarganya harmonis. Cukup scrolling media sosial saja. Kita bisa menyaksikan postingan-postingan keluarga bahagia yang posenya manis, tawanya lebar, dan personilnya lengkap. Aw~

Menyenangkan sekaligus memilukan.

Anak-anak broken home mau tidak mau jadi iri dan membanding-bandingkan diri. Kenapa mereka bisa begitu bahagia? Kenapa kami tidak bisa merasakan sensasi bahagianya?

Lalu jawaban saya ketika seorang anak broken home mulai iri dan membandingkan diri…

Saya tidak tahu apa kamu kenal betul keluarga-keluarga yang membuat kamu “iri”. Entah karena mereka akur, harmonis, penuh canda tawa, kasih sayangnya tulus, dll. Bisa jadi semua itu hanya anggapan kamu saja.

Bukan tidak mungkin kalau mereka juga sama-sama memiliki masalah keluarga tersendiri.

Tetapi tidak salah sih kalau kamu menyimpulkan kalau keluarga yang lain lebih bahagia. Asalkan kamu tidak sampai membandingkannya dengan keluarga kamu dan kamu tidak merasa “tersaingi”. Sehingga kamu merasa harus seperti mereka juga. Sebab nanti jatuhnya iri. Lalu sedih dan kecewa sendiri. Bisa jadi, kamu malah jadi “benci” sama keluarga harmonis itu.

Lalu yang ada, kamu fokus pada “kelebihan” keluarga lain dan fokus pada “kekurangan” dirimu sendiri.

Padahal sebaiknya yang jadi prioritas kamu adalah keluargamu sendiri, bukan? Sayang energimu kalau terlalu memerhatikan yang lain. Bagaimana pun, iri hati bisa “menguras” kamu. Rugi sendiri.

Membandingkan diri dan merasa iri memang normal. Asalkan tidak sampai keterlaluan, tidak sampai membenci, dan tidak sampai merenggut apa yang mereka miliki. Fokus saja pada karunia yang digenggam saat ini. Ketika Anak Broken Home Membandingkan Keluarga Sendiri dengan yang Lain. #RD

Baca Juga :  Surat Terbuka untuk Anak Broken Home yang Membenci Orang Tua dan Keluarganya
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 + 20 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.