Ketika Anak dan Remaja Ingin Bunuh Diri, Bagaimana?

0
SHARE
bunuh diri, anak bunuh diri, remaja bunuh diri, gejala bunuh diri, bunuh diri bantuan
Image via: robbiehay.com

“Aku sudah selesai. Aku ingin bunuh diri saja.”

Demikian salah-satu isi WA Story di kontak. Aslinya sih berbahasa Inggris, namun saya terjemahkan saja.

Yang menulisnya masih remaja. Tentu saja saya kaget. Sambil menahan diri untuk tidak panik dan memikirkan rangkaian balasan yang tepat, saya pun mengklik ‘reply’.

Hal pertama yang saya sampaikan, yaitu berupa pujian akan kemampuan Bahasa Inggrisnya. Saya juga mengingatkan kalau dia memiliki keunggulan yang tidak saya miliki (lagi), yaitu usia muda. saya hindari kata-kata hiburan semacam ‘semua akan baik-baik saja’. Rasanya klise.

Nah, apa ada yang punya pengalaman serupa?

Ada remaja atau mungkin anak-anak yang kepikiran menyudahi dirinya sendiri, alias bunuh diri.

Nah, fenomena ini pernah dibahas di thread alias utasnya Mbak Amalia Paravoti (@lovoti).

utas adalah, utas twitter, utas thread, utas itu apa, utas twitter tentang bunuh diri
Sumber: akun twitter @lovoti

Ketika ada anak yang nyeletuk, ‘Ma, aku mau mati aja!’ atau ‘Ma, aku mau bunuh diri aja!’, maka hal pertama yang harus kita lakukan yaitu … jangan panik.

Celetukan itu tentu bikin kaget, tapi kalau kita panik, maka masalahnya bisa membesar. Sebab, siapa tahu si anak atau remaja itu hanya asal ngomong. Mungkin saja mereka mendengar lagu, melihat sinetron, membaca cerita, dll. Mungkin juga, mereka memang terganggu dengan hal-hal seperti bullying, mengalami kekerasan, pernah dibentak, dll.

Gali informasi mengenai bunuh diri di mata anak/remaja

Setelah berhasil menenangkan diri, Mbak Amalia menyarankan kita untuk menggali informasi mengenai bunuh diri menurut persepsi anak atau remaja. Kita bisa bertanya, ’emangnya bunuh diri itu apaan? Kok tahu, sih?’.

Dalam tahapan ini, kita dituntut untuk mendengarkan, tetap ada, dan menggali informasi sedalam mungkin. Usahakan jangan sampai melontarkan kata-kata penghakiman atau kata-kata yang nge-judge.

Meski benar, namun jangan dulu mengucapkan, ‘hush! bunuh diri itu dosa loh!’, ‘hey! hati-hati kalau ngomong mikir dulu, jangan asal jeplak bunuh diri bunuh diri segala!’, atau ‘tempatnya orang yang bunuh diri itu di neraka’.

Hal ini akan membuat anak/remaja jadi takut dan sungkan. Sehingga kita rugi sendiri, sebab tidak akan menggali informasi mengenai bunuh diri atau kematian menurut pendapat mereka.

Baca Juga :  Kata-kata, Akronim dan Singkatan Gaul Populer di Dunia Maya (Bagian 8)

Memberikan penghargaan

Tetap saja dengarkan cerita dan keluh kesahnya. Sesimpel apa pun keluhan itu. Jangan menghakimi kalau masalahnya itu sepele atau tidak sebanding dengan masalah orang lain.

Setelah itu, kita bisa mengapresiasinya dengan pelukan, pujian, atau penghargaan. Misalnya ‘ya ampun kamu udah dewasa, sampai mengerti hal itu’. Atau, ‘makasih ya sudah cerita, aku mau kok jadi tempat curhat kamu’.

Sebisa mungkin kita terus menerapkan cara membantu mencegah seseorang yang ingin bunuh diri. Tak peduli anak-anak, remaja, atau pun orang dewasa.

Pemahaman yang mudah dicerna

Jika pikiran mengenai bunuh diri itu tetap berlanjut, barulah urai secara pelan-pelan. Bahwa bunuh diri itu bukanlah solusi. Namun berikan pemahaman yang riil dan mudah dicerna. Jangan yang abstrak.

Anak/remaja kemungkinan kurang merasa nyaman jika kita bilang, ‘bunuh diri itu perbuatan bodoh’.

Beda lagi kalau kita mengatakan ‘bunuh diri itu bikin bapak sama ibu jadi sedih, nanti kamu gak bisa sekolah dan ketemu sama teman-teman. Malah kucing kamu bakal kangen, enggak ada yang ngelus-ngelus sama ngasih makan’.

Intinya, ingatkan anak/remaja pada hobi, aktivitas, atau hal-hal yang disukainya.

Jika kasusnya masih biasa, di tahap ini pun, anak/remaja akan sadar sendiri. Bahwa apa yang dipikirkannya memang keliru, dan tidak patut untuk direalisasikan.

Namun jika pikiran untuk bunuh masih tetap ada, mungkin kita perlu pendampingan psikiater atau tenaga ahli psikologi.

Meski sebatas celetukan, sebaiknya kita peka dan tetap waspada. Jangan sampai abai, apalagi kalau membuat anak/remaja merasa tidak didengar dan tidak dipedulikan. Demikian, Ketika Anak dan Remaja Ingin Bunuh Diri, Bagaimana? #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 + 10 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.