Home » My Files » Diary Tentang Inspirasi dan Motivasi » Ketika Jadi Bahan Gosip, Kita Harus Bagaimana?

Ketika Jadi Bahan Gosip, Kita Harus Bagaimana?

Ketika Jadi Bahan Gosip, Kita Harus Bagaimana?

Ketika jadi bahan gosip kita harus bagaimana

Via: mnrelationalcounseling.com

Pernah digosipin atau tidak, Bro-Sist? Sama teman, tetangga, rekan kerja atau siapa, gitu? Ya… tentang diri sendiri atau keluarga, misalnya? Nyaman atau risih, sih? Kira-kira pengin marah, melakukan ‘serangan balik’ atau mungkin ‘no comment’ saja? Hehehe. *rewel nih daku 😀

Santai saja. If so, orang yang membicarakan Bro-Sist adalah orang yang perhatian. Dan, kehidupan Bro-Sist emang layak dan patut diperbincangkan secara tajam! ^_^

Biasanya ada beberapa alasan mengapa orang lain tertarik membicarakan kita di belakang. Misalnya karena:

Bro-Sist Berprestasi

Banyak sekali kasus orang-orang yang membicarakan orang lain karena prestasinya. Mending kalau positif, kayak “Aduhai hebatnya Si A! Juara melulu kalo tanding badminton!”. Beda sama yang negatif, “Lawan Si A emang jelek-jelek. Terang aja dia menang!”. Parahnya, omongan negatif akan merambat; “Terus… Si A ‘kan biasanya lemah, kok pas tanding jadi kuat gitu, sih? Jangan-jangan, dia…? Oops!”

Belum lagi kalau masyarakat telah men-judge sesuatu sesuai keyakinan mereka. Misalnya ketika Si B menjadi guru di sekolah tempat ayahnya bekerja, akan lumrah orang-orang bilang; “Praktik KKN tuh!”, “Wajar aja bisa masuk, ada bapaknya!”, dst tanpa mereka tahu kalau Si B juga ikut ujian masuk, misalnya.

Mereka “jealous” tuh!

Daku teringat film Korea “Jewel in the Palace”. Waktu itu Janggem yang baru beberapa hari pindah ke pulau Jezu telah diizinkan belajar menjadi perawat oleh Janduk, perawat/tabib yang mumpuni di sana. Otomatis, ketiga pengikut setia Janduk protes. Kira-kira mereka bilang gini, “Kami udah tahunan di sini, tapi sampai sekarang kami belum punya kesempatan untuk belajar jadi perawat. Lha, Janggem, anak baru kemarin sore malah sudah mendapat kesempatan itu?”

Baca Juga :  8 Tips Agar Bisa Tegas Bilang “No” Sama Sindrom FOMO

Perasaan cemburu memang jadi provokator ampuh buat panasnya hati. Sehingga ketika orang cemburu pada apa yang Bro-Sist dapat, ia kemungkinan besar akan terus membicarakannya. Di depan atau di belakang sekalipun.

Mereka tak punya apa yang kita punya

Point ketiga ini semakin menegaskan bahwa para penggosip itu (maaf) hidupnya sengsara. Mereka secara tidak langsung menunjukkan ketidakmampuan untuk menjadi orang yang digosipkan. Atau, mereka tidak mampu mendapatkan apa yang Bro-Sist dapatkan. Entah itu berupa barang, bakat, jabatan, dsb.

Kalau orang yang berpikiran positif, ingin menjadi orang lain yang lebih baik itu bisa berpengaruh baik pula. Misal ketika kita ingin menjadi pengusaha sesukses Si C, maka seyogyanya kita rajin, ulet, taat ibadah dan cerdik seperti Si C, bukan malah membicarakannya terus-menerus tanpa aksi nyata.

Mereka “Nganggur”

Sering kita lihat, ibu-ibu berkumpul di sebuah warung. Sambil ngemil, nangkap kutu atau tertawa mereka tak jarang mengomongkan seseorang. Mungkin karena mereka tak punya kesibukan berarti, jadi mereka memutuskan untuk menggosipkan orang. Hehehe peace, Tante!

Mereka “Kepo”

Entah kenapa, orang yang gemar bergosip itu selalu terasa lebih tahu. Mungkin mereka memang kepo (knowing every particular object), ingin tahu seluk-beluk seseorang, sehingga mencari data atau malah menyimpulkan sendiri tentang seseorang itu; “Jeng, bener gak sih Si D itu udah cerai? Katanya dia sama suaminya udah 54 hari pisah rumah? Aku denger, mereka sering rebutan nonton tivi, suaminya pengin nonton acara kuliner eh dianya pengin film super hero?”. *Hadeuh… -___-‘

Mereka belum tahu kita

Salah-satu hal yang menyebabkan orang berbicara di belakang adalah… mereka tidak tahu kita sebenarnya, sehingga hanya menebak-nebak tentang diri kita saja; “Dia itu kayak galak ya orangnya?!”, “Dari wajahnya, Si G itu jutek banget deh, Cin!”, “Cara berjalannya aja udah angkuh gitu ya, Say?!”, dst. Padahal mereka tidak tahu apapun tentang kita, jadinya “main hakim” sendiri, menyimpulkan sendiri.

Baca Juga :  3 Pertanyaan Ketika Merasa Bersalah dan Khawatir Atas Perkataan Perbuatan yang Sudah Dilakukan

Terus, Bro-Sist. Gimana tips atau cara mengatasi gosip itu?

6 Tips Ketika Kita Jadi Bahan Gosip Orang-orang

1. Gak Perlu Melakukan Apa-apa

Ketika Si E mabuk-mabukan, orang akan membicarakan. Ketika kita juga melakukan kebaikan, misalnya sedekah pada orang yang membutuhkan, who knows ada segelintir orang yang tetap membicarakan; ah paling cari muka!, sok kaya!, pasti ada maunya tuh pake sedekah segala!, dst.

Intinya, kadang sebaik apapun kita dalam kehidupan, tetap saja ada yang bakal berpikiran buruk tentang kita. Untuk itu, ada kalanya kita mesti diam saja ketika menghadapi mereka yang gemar membicarakan di belakang. Anggap wajar saja. Toh, penyanyi berprestasi seperti Agnes Monica atau penulis kesohor macam Andrea Hirata saja tak luput dari kritik dan gosip-gosip, toh? Heu

2. Pahamilah, Bro-Sist. Sebenernya, Mereka itu Gak Peduli loh!?

Sebagaimana kita tahu, ciri orang yang peduli itu ‘kan yang selalu mendukung, menasehati atau mengkoreksi jika salah, ikut bahagia atas kebahagiaan kita, dst, bukan malah membicarakan di belakang. Iya, ‘kan? Tapi omongan dan pikiran negatif mereka itu samasekali takkan berpengaruh dalam hidup, selama kita tidak ikut memerdulikannya lho?!

3. Keep Smile!

Seandainya kita sedang ngegosipin Si F, terus Si F itu lewat dan cuma tersenyum, nyesek gak sih? Hehehe. Itu bisa kita terapkan ya, Bro-Sist. Ketika orang-orang terlihat tengah membicarakan kita, selayaknya kita umbar senyum saja. Bukankah pembalasan terbaik dari seseorang itu adalah senyuman? ^_^ Malah, momen itu jadi kesempatan emas buat kita untuk nunjukkin kalau gosip-gosip samasekali gak ngefek dan kita adalah orang yang paling berbahagia. Hohoho.

Baca Juga :  Kumpulan Quotes atau Kutipan Buku “Orang-Orang Biasa” Andrea Hirata

Baca Juga: 20 Tips Agar Bisa Menghindari atau Berhenti Ngegosip

4. Jangan Merasa Jadi Korban, ya

Wajar ya kalau ketika orang menggosipkan sesuatu tentang kita, perasaan kita kerap galau, takut, gelisah, gak tenang, dst. Hal itu terjadi boleh jadi karena kita memposisikan diri sebagai korban. Bagaimana kalau kita balik? Kita posisikan diri sebagai pemeran atau pemenang. Pikirkan saja; ah mereka ngegosipin aku terus, biarinlah wajar, aku artis sih! -_-‘

5. Bangun Hubungan Hangat dengan Lingkungan

Salah-satu penyebab mereka membicarakan kita adalah… ketidaktahuan mereka tentang kita. Jadinya mereka menduga-duga kita ini siapa dan tabiatnya bagaimana. Jika kita mencoba membuka diri, berusaha lebih hangat lagi ketika komunikasi dan interaksi, kemungkinan besar mereka akan menjumpalitkan pikiran lama; “Oh, ternyata Si H itu humoris juga!”, “Gak nyangka, ternyata Si J itu dermawan pake banget!, “Udah salah ngeduga nih! Si K ternyata enak diajak ngobrol lho?!”

6. Rencanakan Tindakan dengan Baik

Ketika aksi diam tak mampu meluluhlantakkan para penggosip, ada baiknya kita merencanakan sesuatu. Bukan dengan melabraknya, melainkan berbicara dari hati ke hati dan komunikasi dua arah. Jika begitu… kesalahpahaman pun akan berangsur-angsur lurus dan rasa simpatik pun akan terjalin. Insya Allah, aamiin.

Akhirnya… ketika “mereka” membicarakan di belakang sambil berusaha meruntuhkan mental kita, sejatinya kita tengah berperang dengan diri sendiri; kita akan masuk perangkap mereka untuk terpuruk? Atau, kita takkan memerdulikan semua itu dan terus lanjut menata kebahagiaan diri dan orang-orang yang kita cintai? [#RD]

*December 5, 2013
*Diolah dari: duniapsikologi.com
error: