Ketika Kita Tidak Butuh Motivasi, Tapi Cukup Seseorang yang Memahami

0
SHARE
ingin dipahami, kata ingin dipahami, aku hanya ingin dipahami, hanya ingin dipahami, pria ingin dipahami, wanita ingin dipahami, tidak butuh motivasi,
Image via: ellevatenetwork.com

Di saat-saat tertentu, saya tidak mau curhat karena sedang malas dinasihati, dimotivasi, disemangati, diceramahi, atau diingatkan tentang positivity.

Kalau saya orang barat dan sedang benar-benar dongkol dengan keadaan, mungkin saya sudah teriak ‘bullsh*t’, ‘piece of sh*t’, ‘f*ck off’, atau mengacungkan jari tengah. Ya ampun … semuanya kasar. Maafkan.

Kamu pernah gitu juga, enggak?

Maka dari dulu saya selalu memberi kredit pada blog ini, karena menulis menjadi terapi yang sangat menolong. Di saat malas cerita pada siapa-siapa, saya bisa menuangkannya dalam bentuk tulisan. Bahkan mungkin beberapa postingan saya bernada menggurui. Saya mohon maaf.

Mungkin kamu pun mendapat khasiat yang sama dari media lain. Entah itu melukis, olahraga, masak, dsb. Apa pun itu, yang terpenting, unek-unek dalam dada bisa ke luar.

Tapi apakah saya selalu memendam dan melampiaskannya pada tulisan?

tempat curhat, teman curhat, langganan curhat, curhat
Image via: freepik.com

Percayalah, saya selalu belajar untuk lebih terbuka pada seseorang. Hal ini sulit, karena saya terbiasa mengendapkannya. Tapi sampai saat ini, saya masih sedang berusaha.

Kalau ada pacar, maka saya berusaha cerita padanya. Tapi saya belum memberi kepercayaan 100% padanya, kecuali kalau kami menikah. Maka, curahan hati saya tetap tidak bisa gamblang.

Namun saya memiliki sahabat yang jumlahnya sedikit tapi kualitasnya tinggi (?). Mereka tidak hanya terpercaya, tapi juga mampu menjadi pendengar dan ‘pembaca chat’ yang baik. Mereka juga seakan tahu kapan saya butuh masukan dan kapan saya hanya butuh didengarkan.

Kemudian yang tak kalah penting, saya nyaman bercerita pada mereka. Bahkan saya bisa mengultimatum dulu. Misalnya sebelum curhat, saya bilang dulu, ‘mau cerita nih, tapi cukup dengerin aja, ya. Nanti boleh kasih komen, tapi jangan marahin saya … jangan hakimi saya … jangan kasih khotbah … jangan kasih quotes bijak … jangan ingatkan tentang positive vibes’.

Baca Juga :  ~MISS~

Mereka paham dan nurut. Ya, saya sungguh beruntung.

Kalau menurut Dr. Jiemi Ardian, ada istilah yang dinamakan ’empathy’ dan ‘toxic positivity’.

empati adalah dan contohnya, sikap empati adalah, empati dan positivity toxic
Image via: Twitter @jiemiardian

Empati itu kurang lebih kondisi di mana kita ikut memahami dan merasakan keadaan seseorang. Contohnya seperti sahabat-sahabatku yang baik, yang tidak dulu menghujaniku dengan nasihat-nasihat bertanda seru. Orang yang empati biasanya merespons:

  • Wajar sih kalau kamu sangat kecewa karena hal ini.
  • Kadang-kadang menyerah itu lebih baik daripada memaksakan diri untuk bertahan.
  • Tidak semua rencana terwujud, ya, tapi kira-kira apa hikmah yang bisa diambil?
  • Saya coba memahami posisimu. Sepertinya memang sulit untuk melihat hal-hal baik dalam keadaan ini.
  • Dst

Beda lagi dengan ‘toxic positivity’ alias sikap atau pemikiran positif yang ternyata seperti toksik aka racun. Bukannya makin semangat dan termotivasi, kita yang mendengar atau membacanya justru semakin jatuh terpuruk. Contoh sikap positif yang diam-diam beracun yaitu:

  • Kamu laki-laki, masak gitu aja nangis?
  • Jangan pernah menyerah, dong! ayo terus saja!
  • Udah jangan bersedih, tetap tersenyum!
  • Sabar aja, ya, kamu enggak sendirian yang ngalamin hal itu
  • Kamu kurang bersyukur, coba perhatikan hal-hal kecil yang patut kamu syukuri!
  • Masalah kamu masih belum seberapa, masih banyak orang yang lebih tidak beruntung!
  • Kamu lihat saya, saya pernah berada di posisi yang lebih buruk tapi saya bisa melewatinya.
  • (dibercandain)
  • (dianya curhat balik)
  • (mengalihkan pembicaraan)
  • Dst.

Perbedaannya bisa kita lihat, ya.

Kadang ketika teman curhat, kita tidak perlu banyak bicara. Cukup ada bagi dia dan setia mendengar apa pun beban hatinya.

Sambil mendengarkan, sambil mengasah perasaan agar peka dan empati padanya. Jangan sampai sambil mendengarkan, sambil memotong atau menyisipkan nasihat juga. Hal ini annoying alias sangat mengganggu.

Kalau tidak, kita bisa beri pelukan, tepukan di pundak, atau mungkin makanan-minuman kesukaannya.

Kecuali kalau dia bertanya, meminta saran, meminta disemangati, meminta kata-kata inspiratif, dll … barulah kita bisa mengungkapkannya.

Baca Juga :  Bawang Goreng 4 Rasa yang Menambah Nafsu Makan Dalam 3 Detik atau Kurang

Sebenarnya kita akan selalu butuh motivasi, nasihat, pemikiran positif, aura positif, kata-kata membangun, dll. Tetapi kadang ada momen, di mana mood atau suasana hati sedang tidak mendukung. Ketika Kita Tidak Butuh Motivasi, Tapi Cukup Seseorang yang Memahami. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.