Ketika Pengkhianatan dan Perselingkuhan Terjadi Karena Reuni (Sebuah Kisah)

0
SHARE
perselingkuhan karena reuni, bahaya reuni, reuni membawa petaka, kisah perselingkuhan yg mengharukan, kisah perselingkuhan dalam rumah tangga, kisah perselingkuhan yang menyedihkan
Image via: videoblocks.com

… cobaan kami tak kalah hebatnya untuk kali ini, yakni pengkhianatan!

~

Siang, sekitar pukul 13.30 WIB, seseorang mengirimkan DM di IG. Setelah basa-basi sebentar, dia meminta nomor WhatsApp dan saya memberikannya. Kami chattingan, lalu dia membeberkan kejadian memilukan yang menimpanya.

Oh, iya. Sebut saja dia Bree, karena dia berpotensi menjadi figur wanita kuat nan tangguh.

Mulanya Bree bercerita tentang kisah cintanya. Dia dan suami sudah menikah selama 5 tahun. Awalnya keluarga besar Bree keberatan. Mereka tidak begitu menyetujui hubungan keduanya.

Namun setelah diyakinkan, akhirnya keluarga bisa menerima kehadiran suami Bree.

Ada pun kehidupan Bree dengan suami terbilang cukup. Tidak kekurangan, tidak bermewah-mewah juga. Intinya, Bree menikmati keadaannya bersama sang suami.

Baginya, suami bukanlah tipe lelaki romantis. Bahkan sampai sekarang, seingatnya, mereka tidak pernah jalan atau makan berdua. Namun suaminya begitu perhatian. Pesonanya juga tidak bisa Bree tolak.

Rintangan Pertama

Naluri manusia yang sudah menikah tentu ingin segera diberi amanah berupa keturunan yang sehat dan saleh/salehah. Rupanya Bree dan suami tidak segera mendapatkan apa yang diharapkan. Barulah pada usia pernikahan ke 2,5 tahun, mereka dikaruniai putri pertama. Panggil saja Bria, ya.

Kini Bria sudah berusia 1,5 tahun. Bree dan suami sangat bersyukur. Apa yang selama ini diupayakan dan didoakan bisa menjadi kenyataan. Bria yang cantik dan menggemaskan hadir bagai warna dalam kehidupan yang tadinya sempat hitam-putih saja.

Bree dan suami bertekad menjadi orang tua yang baik dan bertanggung-jawab bagi bagi Bria. Demikianlah rencana indah yang sudah mereka susun berdua. Namun rencana manusia sangat mungkin berbenturan dengan kejutan kehidupan.

Ujian Berat itu Bernama Pengkhianatan dan Indikasi Perselingkuhan

kisah selingkuh, kisah selingkuh hati, kisah selingkuh sedih, kisah nyata selingkuh seorang istri, kisah nyata selingkuh
Image via: marshaferrickcoaching.com

Ketika sedang dalam proses kami menjadi orang tua yang baik bagi Bria, cobaan kami tak kalah hebatnya untuk kali ini, yakni pengkhianatan!

Bree sebenarnya tidak bisa menghakimi kalau acara reuni itu berbahaya. Sebab, reuni selalu dibalut dengan tujuan berupa sambung-menyambungnya tali silaturahmi. Egois juga kalau Bree menuding kalau semua reuni itu buruk rupa.

Baca Juga :  Alasan Kenapa Momen Agustusan Identik dengan Aneka Perlombaan, Apa Maknanya?

Tetapi ada sebuah reuni yang memang mengundang petaka bagi keluarga mungilnya. Reuni itu mempertemukan Bree dan seseorang yang menjadi temannya sekaligus teman suaminya.

Dari reuni itu juga, mereka jadi lebih sering kumpul-kumpul, karaoke-an dan jalan-jalan. Semuanya dijalani beramai-ramai.

Namun di tengah keramaian itu, ada kesepakatan kecil yang terjalin di belakang Bree, yang dilakukan oleh suami dan teman mereka sendiri.

“Ya Tuhan, apa yang terjadi?”

“Mengapa sampai begini?”

“Siapa yang merasuki jiwa suami?”

Ribuan tanya bersarang dalam pikiran Bree. Tak pernah dia bayangkan, sosok yang dicintai dan dikaguminya akan menjelma menjadi pengkhianat.

Entah ke mana ingatannya akan janji suci pernikahan yang sudah lama dijalankan. Entah sudah seremuk apa hatinya. Entah sudah seruntuh apa kepercayaannya.

Bagi Bree, suami tinggallah raga. Badannya ada. Jaraknya dekat. Tapi jiwanya seperti melayang. Ikatan mereka terasa renggang.

Di saat itu Bree sadar, kalau dia sudah kehilangan sang suami.

kisah selingkuh, kisah selingkuh hati, kisah selingkuh sedih, perselingkuhan karena reuni, bahaya reuni, reuni membawa petaka, kisah nyata selingkuh
Image via: onehdwallpaper.com

Bree tidak tahu ke mana perginya perhatian dan kecerewetan suami. Semua berubah drastis. Bahkan semua sarana komunikasi suami pun berubah jadi privasi.

Naluri Bree sebagai seorang istri, ibu dan wanita tidak bisa diremehkan. Dia mencium gelagat yang tidak beres. Kecurigaan yang menumpuk itu pun terbukti. Suaminya memang sudah melakukan pengkhianatan.

Sial, sang suami selalu mengelak. Di tengah bukti-bukti yang terpampang nyata, jangankan meminta maaf, dia bahkan enggan mengakui kesalahan.

Namun entahlah … entah Bree terlalu kuat, terlalu penyayang atau memang terlalu bodoh … dia malah memilih untuk tetap bersama.

Tetapi Bree tetap mendesak suaminya untuk berbicara tentang apa pun. Dia lebih memilih ditampar kejujuran ketimbang dibelai dengan kebohongan. Sayang sekali, suaminya tidak kooperatif. Dia tetap bungkam. Kata ‘maaf’ pun tidak pernah terucap.

Padahal jelas-jelas … selain sudah menciderai ikatan sakral pernikahan, suami juga sudah mencoreng nama baik keluarga.

Baca Juga :  Menggali Kekuatan Besar Dibalik Tindakan Kecil Ketika Mengajar

Bree gelisah. Apa yang terjadi adalah ujian baginya dan keluarga. Dia pun harus berusaha untuk lulus dan naik level. Tapi bagaimana caranya? Bree benar-benar bingung.

Sampai detik ini, Bree dan suami bertingkah seolah tidak ada kejadian besar yang pernah terjadi. Semua ditampakkan baik-baik saja. Padahal di balik biduk rumah tangga mereka, terdapat prahara luar biasa.

Bukankah konflik terbesar itu terjadi, ketika kamu merasa tidak ada apa-apa di tengah carut-marut masalah yang jelas-jelas ada?

Bree mati kutu. Dia hampir melakukan pertemuan dan konfirmasi kepada orang ketiga yang mengobrak-abrik keharmonisan keluarganya. Namun suami menghadang rencananya. Suami beralasan kalau urusan rumah tangga sebaiknya dihadapi berdua, tidak perlu melibatkan orang lain.

Namun bagaimana Bree tidak gusar, sebab perang dalam keluarganya kini memang melibatkan orang lain? Tidak, wanita itu bukan orang lain. Dia adalah teman Bree dan suami. Dia juga sudah menjadi istri lelaki lain dan ibu bagi 4 orang anak.

Bree kadang suka bertanya-tanya sendiri; ‘apakah suami teman kami itu tahu semua ini?’, ‘bagaimana reaksinya nanti kalau sudah tahu?’, ‘bagaimana suami ke depannya?’, ‘bagaimana nasib keluarga ke depannya?’.

Bree seperti botol yang sudah penuh dan tertutup rapat, namun ada yang memaksa mengisinya lagi. Dia begitu sesak, stres, bingung dan seperti orang tersesat. Mungkin apa yang dirasakannya menjadi bom waktu, yang sewaktu-waktu bisa meledak hebat.

Di tengah kepanikan jiwa itu, Bree sadar kalau dia ‘salah tekan tombol’, taruhannya tidak saja ikatan pernikahan dengan suami. Dia juga mempertimbangkan Bria, putrinya. Ketika masalah ini menyeruak ke keluarga, suami sempat membawa Bria ‘kabur’.

Bree tidak mau momen pahit ketika berpisah dengan Bria terulang.

Sampai detik ini, Bree hanya bisa pasrah. Dia sadar akan keterbatasannya. Dia tidak bisa mengendalikan semuanya.

Setiap harinya, rumah yang mestinya menjadi tempat paling nyaman dan damai, justru menjelma menjadi arena perselisihannya dengan suami. Mereka semakin sering marah-marah tidak jelas, sering berdebat dan keributan pun tak terelakkan.

Baca Juga :  "Rendang Rasa Garam"

Sampai detik ini, Bree hanya bisa menuruti apa yang diinginkan suami, dengan harapan sang suami akan sadar dan berubah. Setidaknya Bree ingin suaminya mengakui kalau apa yang dilakukannya selama ini salah total.

Mungkin sebagian perempuan “normal” akan menganggap pengkhianatan/perselingkuhan sebagai kesalahan fatal yang tidak dilayak diberi toleransi. Sebagian perempuan itu pasti akan memilih menyerah, balik badan dan menjalani hidup sendiri.

Bree sadar dia seperti manusia sangkar. Dia bebas, tapi terpenjara.

Tetapi Bree merasa kemampuannya hanya sebatas itu.

Suami Bree menganggap semua polemik ini sudah selesai, padahal bagi Bree tidak sesederhana itu. Mereka masih menjadi benang kusut. Permasalahan belum terurai.

Bree benar-benar gelap akan masa depan. Dia tidak mau banyak berspekulasi.

Tetapi dia mengakui sebagai pribadi yang payah. Sebab sampai saat ini, dia hanya menjalani rutinitas seperti biasa dan menunggu sosok suami ‘pulang’ dan ‘kembali’ menjadi dirinya yang dulu Bree kenal.

Bree tidak tahu bagaimana ending-nya. Apakah penantiannya berakhir sesuai ekspektasi atau tidak. Apakah segalanya sesuatunya membaik atau justru memburuk.

Bagi Bree, energinya kini berpusat pada Bria. Putrinya yang menjadi alasan kuat, kenapa dia tetap bertahan dan melanjutkan perjuangan.

Bree juga, syukurnya, masih ingat pada Sang Pencipta dan segala kewenangan-Nya. Dialah Sang Penentu. Cerita hidupnya pasti ada di Tangan yang tepat. Hanya saja, kini, keimanan dan kesabarannya tengah diuji.

~

Demikianlah sepenggal kisah Bree. Dia mengaku butuh tempat untuk menumpahkan unek-uneknya. Dia juga yang meminta saya untuk meramu kisahnya dalam sebuah tulisan, dengan catatan identitasnya tidak dipublikasikan.

Saya pribadi merasa terguncang ketika membaca curahan hatinya dan merangkai tulisan tentangnya. Tidak bisa berbuat banyak, selain menyediakan ruang untuk berbagi.

Bree adalah figur wanita yang kuat. Saking kuatnya, dia diamanahi ujian yang berat ini. Semoga keberkahan selalu melimpah dalam hidupnya. Ketika Pengkhianatan dan Perselingkuhan Terjadi Karena Reuni (Sebuah Kisah). #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.