Komentar Netizen Pada Akun Instagram Orang Bunuh Diri, Miris Sekali!

2
SHARE
bunuh diri, kasus bunuh diri, bunuh diri davia emelia, bunuh diri instagram story, bunuh diri gadis malaysia, komentar di akun instagram orang yang bunuh diri
Image via: self.com

Beberapa hari yang lalu, seorang gadis Malaysia bernama DA (16 tahun) meng-update Instagram Story. Dia memosting poling bagi pengikutnya. Isi polingnya kurang lebih begini:

Really important, help me choose D/L.

Penting banget, bantu aku pilih D/L.

Banyak yang menduga kalau D itu ‘die’ atau mati, sedangkan L itu ‘live’ atau hidup.

Sayang sekali, 69% pengikut DA memilih D. Beberapa jam kemudian DA dilaporkan meninggal dengan cara menjatuhkan diri dari lantai 3 rumahnya sendiri.

Entahlah, apa para followers DA tidak tahu maksud D dan L atau memang mengira DA sedang bercanda saja. Namun yang pasti, kejadian ini begitu mengejutkan. Sampai-sampai mendapat perhatian internasional.

komentar bunuh diri, kasus bunuh diri, bunuh diri davia emelia, bunuh diri instagram story, bunuh diri gadis malaysia, komentar di akun instagram orang yang bunuh diri

Banyak yang “menggeruduk” akun Instagram DA, well … ya, termasuk saya. Banyak juga yang langsung ngepoin apa gerangan pemicu DA untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Usut punya usut, dia diduga depresi dan memiliki masalah keluarga.

Saya tidak akan memaparkannya dengan detail. Intinya begitu. Namun tentu saja dugaan ini masih perlu diinvestigasi lagi.

Kasus bunuh diri yang berkaitan dengan media sosial memang pernah terjadi sebelumnya. Namun bukan berarti kita mesti “menganggap biasa” berita-berita seputar bunuh diri. Justru semestinya kita terus meningkatkan kesadaran, khususnya terkait kesehatan mental.

Komentar para netizen

netizen, netizen indonesia, netizen julid, netizen maha benar

Ketika sedang melihat-lihat akunnya, saya pun “berpapasan” dengan netizen lain. Sepertinya semua postingan dia jadi sasaran para pengguna medsos. Isi komentarnya juga bermacam-macam.

Mulai dari yang mengomentari ‘RIP’, mengekspresikan simpati, menyayangkan aksinya, menjadikannya sebagai candaan, bahkan mengutuk si empunya akun.

Padahal kita sama-sama tahu, kalau DA tidak akan pernah login dan membaca komentar-komentar di semua postingan Instagramnya.

Saya kebetulan mengomentari sebuah komentar, yang setelah dicek berasal dari akun lelaki Indonesia, tepatnya Surabaya. Jadi Si Masnya komen, ‘neraka jahanam menantimu sobat’. Lalu tampak 3 balasan untuk komentarnya. Saya pun ikut berkomentar.

Baca Juga :  Menjadi Remaja Broken Home

Menurut saya, komentar Mas asal Surabaya itu tidak membantu dan tidak mengubah apa pun.

Soal masuk surga atau neraka, biarlah jadi urusan Tuhan YME. Nasib saya pribadi saja masih menggantung, entah akan berakhir seperti apa dan bagaimana.

Tetapi saya menyayangkan komentar Mas Surabaya. Bisa dibayangkan kalau keluarga, teman, atau guru-guru DA membaca ini. Setidaknya tunjukkan simpati, sebab bagaimana pun ada pihak-pihak yang kehilangan DA.

Jalan amannya, diam saja. Tidak perlu berkomentar apa pun.

Komentar netizen yang menyalahkan

netizen, netizen indonesia, netizen julid, netizen maha benar

Masih banyak lagi komentar yang bikin miris. Seakan-akan masalah kesehatan mental itu “receh”.

Padahal masalah kesehatan mental itu serius dan rumit. Tidak sebercanda itu.

Bagaimana pun, luka batin itu kasat mata. Tidak mudah untuk menyembuhkan dan memulihkannya, bukan?

Di samping banyak komentar negatif dan memilukan, ada juga akun-akun yang “sudah dewasa” menanggapi isu kesehatan mental. Misalnya akun Maaax.leg, yang tidak habis pikir kenapa orang-orang tidak punya wawasan soal kesehatan mental. Menurutnya, 16 tahun itu usia yang sangat muda.

kesehatan mental, kesehatan mental remaja, komentar bunuh diri, kasus bunuh diri, bunuh diri davia emelia

Selain itu, dia bilang bahwa orang yang memiliki masalah mental itu jadi cepat sedih. Apa-apa jadi hal yang menyedihkan. Ketika sedih dan tak tahu arah, lalu tidak memiliki orang-orang terpercaya untuk menolongnya, maka dia akan “lari” ke media sosial.

Dia sebenarnya ingin validasi dan perhatian. Namun sayangnya, “pertolongan” yang dia dekati justru yang menjerumuskannya.

Komentar lainnya:

Kasus bunuh diri tentu tidak boleh didukung, tapi jangan sampai “dibully” juga. DA dan yang lainnya memang sudah tiada. Namun bisa jadi banyak DA-DA lain yang memiliki pikiran senekad itu.

Tetapi mereka tidak terbuka karena takut dihakimi duluan. Mereka cemas jika dianggap orang depresi, dianggap cengeng, dianggap dramatis, dianggap membangkang pada Tuhan, dst. Mereka ingin meraih dan diraih, tapi seringkali tidak bisa. Terkurung oleh jeruji pikiran buruknya sendiri.

Mereka tidak butuh nasihat, ceramah, ancaman neraka, dsb. Mereka butuh orang yang tetap ada, yang mendengarnya, yang memeluknya, yang menerimanya, yang memahaminya … kalau bisa, yang membimbingnya untuk konsultasi pada psikolog atau psikiater.

Selain itu, menertawakan dan mencaci orang yang bunuh diri, “sesepele” apa pun alasannya (di mata kamu), sungguh tidak membantu.

Baca Juga :  Surat Terbuka untuk Anak Broken Home yang Membenci Orang Tua dan Keluarganya

Dirilis dari Regional.kompas.com, berikut daftar layanan konseling yang bisa Anda kontak maupun untuk mendapatkan informasi seputar pencegahan bunuh diri:

Gerakan “Into The Light”
Facebook: IntoTheLightID
Twitter: @IntoTheLightID
Email: intothelight.email@gmail.com
Web: intothelightid.wordpress.com

Save yourself
Facebook: Save Yourselves
Instagram: @saveyourselves.id
Line: @vol7047h
Web: saveyourselves.org

Kalau tidak tahu luka batin seseorang, sebaiknya memang diam. Komentar Netizen Pada Akun Instagram Orang Bunuh Diri, Miris Sekali! #RD

SHARE

2 COMMENTS

  1. benar mbak, perlu diberikan wawasan ke orang2 kalo seseorang itu curhat sampe nangis atau deprrsi jangan dianggap remeh dan cengeng, malah butuh kita lindungi dan kawal. kalau sudah begini apa mau dikatakan lagi,

    keputusan mengakhiri hidup diawali dengan depresi, ketidak pedulian lingkungan terhadap dirinya (intimidasi berupa stigma dia cengeng dan lemah), dan akhirnya mengakhiri hidup.

    • Betul, Mas Sabda. Pikiran dan sekilas keinginan untuk bunuh diri bukan perkara enteng. Jangan sampai kalau sudah kejadian baru menyesal, ya..

      Terima kasih untuk tambahannya. 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

13 − seven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.