Home » My Files » Diary Tentang Kuningan - Jawa Barat » Kumpulan Quote dari Buku “Tuhan, Aku Divonis Cuci Darah”

Kumpulan Quote dari Buku “Tuhan, Aku Divonis Cuci Darah”

Kumpulan Quote dari Buku

“Tuhan, Aku Divonis Cuci Darah”

COver Buku Tuhan Aku Divonis Cuci Darah_

maxchempaka.blogspot.com

Cuci darah atau… mati?

Begitu kira-kira yang ada di benak Teh Lien (almh) ketika pertama kali mendapat vonis gagal ginjal terminal dan mesti HD aka hemodialisis aka cuci darah untuk menyambung hidup. Mudah-mudahan Allah Swt mengampuni, mengasihi dan menempatkan beliau di syurga-Nya. Aamiin…

Buku “Tuhan, Aku Divonis Cuci Darah” adalah buku karangan Teh Lien Auliya Rachmach, yang rilis pada tahun 2007 silam. Terbitan femmeline, grup syaamil. 138 halaman dengan lebar buku 13 x 17,5 cm. Bersifat True Story.

Bukan buku beliau satu-satunya. Namun buku inilah yang pertama kali mengenalkanku padanya. Masih ingat saja ketika launching, waktu itu berbarengan sama bedah bukunya “Ayat-ayat Cinta” dengan Kang Abik. Daku yang sudah SMA mulai tersiram pengaruh baik, motivasi serta inspirasi dari beliau.

Namun kami tidak berkomunikasi secara langsung. Lebih lagi daku juga pelan-pelan mulai jarang mengikuti kegiatan FLP Kota Kuningan, Jawa Barat. Sampai kemudian di tahun 2012 kemarin… daku mengikuti event lomba cerpen mereka. Dewan jurinya Teh Lien sendiri. Siapa sangka waktu itu mendapat tempat di posisi kedua dan berkesempatan bertemu Teh Lien (lagi). Walau hanya sebentar dan ternyata jadi yang… terakhir.

Err… ada yang pengin membaca cerpennya? Klik di sini, ya. Terima kasih.

Kemarin-kemarin, daku membuka buku “Tuhan, Aku Divonis Cuci Darah”. Buku ini berisi jurnal harian atau diary lengkap tentang Teh Lien, tentang seseorang yang sakit gagal ginjal terminal. Beliau mencurahkan emosi, pengalaman, hikmah, informasi medis soal cuci darah, sisi psikologi orang yang divonis cuci darah, berbagai tips, sentuhan romantis, humor, dst. Benar-benar sangat direkomendasikan untuk membacanya!

Nah, ada banyak sekali quote atau kutipan menarik yang langsung nancap ke hati. Beberapa daku tulis dan diposting di blog ini. Mudah-mudahan kebaikan tulisan Teh Lien ini sampai pada kita semua, serta membawa keberkahan pada beliau. Aamiin…

Daku awali dengan ucapan dokter yang memeriksa Teh Lien dan memberikan diagnosa awalnya. Entah bagaimana jadinya kalau perkataan dokter yang satu ini ditujukan padaku. Daku sepertinya tak akan bisa setabah Teh Lien kala itu. Berikut kata-katanya:

“Kamu punya Askes? Kerja di mana? Ada jaminan kesehatan, enggak? Dengarkan baik-baik, kamu harus menjalani cuci darah dua kali seminggu. Satu kali cuci darah Rp 600.000,00. Artinya, kamu harus sedia minimal Rp 4.800.000,00. setiap bulan. Kalau tidak, kamu akan mengalami komplikasi penyakit sampai koma dan bisa berakibat kematian, gimana?”

Pikiran Teh Lien ketika masa-masa awal dari sakitnya. Bahwa hidupnya hanyalah tentang kematian:

quote atau kata kata putus asa tentang kematian

iknowyou.dk

“Ketika teman-temanku sedang merajut mimpi tentang asanya di masa depan, aku tidur terlelap dan bermimpi tentang kematian… Ketika teman-temanku sedang menikmati kebahagiaan bisa melangkah sendiri, aku masih belajar merangkak… ketika mereka tertawa menikmati hidup, aku terkubur oleh genangan airmataku sendiri. Dan ketika mereka baru memulai hidup, aku seperti bersiap-siap untuk mengakhiri kehidupanku.”

“Sisa hidupku sekadar untuk merasakan kesakitan. Sekadar untuk menyusahkan orang lain, sekadar untuk menangis dan sekadar untuk bersedih. Hidup hanyalah tentang bagaimana merasakan kesakitan-kesakitan baru dalam tubuhku, bagaimana bertahan dengan kondisi yang tidak stabil dan bagaimana caranya menjauh dari kehidupan lamaku.”

Kutipan atau kata-kata untuk bisa menerima semuanya dengan ikhlas:

“Ketika ikhlas itu datang… kesakitan mengajariku tentang banyak hal dalam kehidupan dan kematian. bahwa hidupku bukan sekadar menunggu mati, bahwa kehidupan adalah saatnya mencari bekal untuk kematian, dan bahwa kita harus berusaha memperjuangkan hidup tanpa harus melupakan kematian.”

Kutipan atau kata-kata tentang rasa sakit/ kesakitan, tentang penyakit yang diderita serta hikmah dari sakit itu:

“Kesakitan mengajariku tentang ikhlas dan sabar yang tak terbatas. Bagaimana aku meyakini bahwa Allah tak akan menguji di luar batas kemampuanku dan bagaimana aku mengambil hikmah dari setiap kesakitan yang kurasakan…”

“Kesakitan mengajariku tentang kesyukuran yang tak akan berujung. Bagaimana aku bersyukur masih bisa melakukan banyak hal dan bagaimana aku menyadari bahwa masih banyak orang lain yang seharusnya menangis lebih keras dari tangisku.”

“Kesakitan mengajariku tentang kesedihan dan kebahagiaan. Bahwa kesedihan adalah ekspresi dari ketidaksiapanku menghadapi kenyataan yang tak seindah harapan. Dan kebahagiaan akan hadir apabila aku mampu beradaptasi dengan kesedihan dalam hidupku. Karena hidup harus dijalani, siap ataupun tidak.”

“Kesakitan mengajariku tentang… menangis dan tertawa… menangis terus-menerus tak akan membuat rasa sakitku berkurang. Tertawa terus-menerus membuat aku melupakan Rabb-ku.”

“Kesakitan mengajariku tentang… kesendirian. Tentang bagaimana aku tak bisa hidup sendiri, tentang bagaimana aku membutuhkan orang lain dan tentang bagaimana aku menghargai kehadiran orang lain dalam hidupku.”

“Kesakitan mengajariku tentang cinta. Bahwa begitu banyak orang yang mencintaiku, bahwa aku bertahan karena doa dari orang-orang yang kucintai dan mencintaiku dan bahwa cinta telah memotivasiku untuk melakukan yang terbaik dalam sisi usiaku.”

poto perempuan berjilbab berkerudung sedang berjalan, quote untuk orang sakit, kata-kata untuk menyemangati orang sakit

pixgood com

Puisi “Tentang Kesakitan”

Kesedihan saat ini

Sudah cukup membuat luka hatimu menganga

ambillah hikmahnya

atau kamu akan terluka selamanya

Kutipan dari puisi berjudul “Tentang Kehendak-Nya”

Baca Juga :  Si Manis nan Gurih Es Suket (Susu Ketan) Khas Kuningan

Hidup harus dijalani, Salehah

Semenyakitkan apapun

Siap atau pun tidak

Karena Rabb-mu tidak pernah butuh persetujuanmu

atas kehendaknya

Kutipan kata-kata yang tersembul dari Teh Lien ketika menyesali gaya hidup kurang baik, sehingga memicu datangnya penyakit:

“Kalau boleh menyesal, aku sangat menyesal. Tapi sekadar menyesal tidak akan memperbaiki kondisi tubuhku.”

~

Kutipan kata-kata ketika Teh Lien menyadari bahwa ia mesti move on dari penyakitnya:

“Aku harus bangkit dan mulai belajar untuk menjaga kualitas hidupku, walaupun aku tahu aku harus siap hidup dengan penyakit ini sampai akhir hayatku.”

“Kenapa aku harus menangis sedemikian menyayat padahal aku masih bisa merasakan dinginnya air wudhu membasahi permukaan kulitku.”

“Kemudian aku kembali sendiri, lebih banyak mengingat Allah, mencoba memaknai sabar dan ikhlas yang tak berbatas.”

Kutipan kata-kata ketika Teh Lien didera sesak napas hebat:

“Ya Allah kenapa orang lain sedemikian mudah menghirup udara-Mu?”

“Dan ketika aku tak tahu bagaimana caranya bernapas, Allah memberi tarbiyah terbesar bagi hidupku; Rabb, nikmat Engkau yang mana lagi yang akan hamba dustakan?”

Kutipan dari Puisi “Tentang Kesendirian”;

Kesendirian adalah sesuatu antara aku dan Rabb-ku

Kesendirian adalah ketika aku berlepas dari cinta

kecuali cinta-Nya

Kutipan kata-kata ketika Teh Lien terkena anemia hebat:

“Allah… aku iri melihat orang-orang itu hilir-mudik di hadapanku, betapa mudahnya Engkau menguatkan kaki mereka untuk menopang berat badannya. Nikmat luar biasa yang tak pernah kusadari selama ini. Ampuni hamba, Ya Ghofur…”

Kutipan kata-kata Teh Lien ketika dirawat dan tidak diperbolehkan minum sebab paru-parunya terendam air, dokter hanya memberi nasihat, “kalau haus, usap saja bibirnya dengan air…”

“Pernahkah aku berpikir tentang nikmatnya minum? Betapa menyenangkan bisa minum sebanyak yang kumau, betapa nikmatnya bisa minum apapun yang kumau, betapa… dan berjuta betapa yang lainnya.”

“Aku harus  belajar bangkit, aku harus mulai merangkak lagi meniti puing-puing kehidupanku yang telah hancur berkeping, karena aku masih punya mimpi dan asa yang akan kugapai untuk membuat mereka tersenyum bangga padaku…”

Hidup yang penuh warna, walau kadang memudar

Baca Juga :  Kata-kata Super dari Ibu Bupati

Hidup yang begitu indah, walau kadang ada awan hitam yang memayungi

Hidup yang penuh dengan kebahagiaan, walau kadang tangisan menyela

Dan hidup dalam kebersamaan, walau kadang kesendirian menghampiri

“Aku masih di sini untuk membuktikan kecintaanku pada Rabb-ku dan orang-orang yang kucintai. Berusaha memahami tangisan sebagai awal dari kebahagiaan dan memahami kesakitan sebagai jalan menuju kemenangan.”

“Aku berusaha berikhtiar agar hidupku tidak sia-sia, agar aku tidak sekadar menunggu mati, dan agar orang-orang yang mencintaiku masih bisa merasakan kehadiranku. Dan aku masih berusaha berikhtiar walau aku tahu, aku harus hidup dengan penyakit ini sampai akhir usiaku…”

“Dan aku berusaha untuk pasrah agar hidupku lebih tenang, agar aku tetap bisa bersyukur, agar aku berlepas diri dari keputusasaan dan agar aku tetap merasakan kehadiran Rabb-ku di sisiku… selalu.”

poto tentang bersyukur pada Allah atas apapun yang terjadi

nmustapha.weebly.com

Suatu hari, Bu Harti (teman sesama pasien cuci darah Teh Lien) pergi ke suatu seminar dan pembicaranya yang seorang dokter mengatakan,

“Walaupun ibu dan bapak menderita penyakit sudah sekian lama, belum tentu ibu dan bapak yang meninggal duluan, bisa jadi begitu keluar dari gedung ini saya tertabrak mobil dan meninggal duluan…”

Kata Mas Endy (teman sesama pasien cuci darah Teh Lien),

“Walaupun pada awalnya berat, seakan Allah Swt tidak adil dalam menimpakan ujian kepada saya, tetapi mungkin inilah bukti nyata dari janji Allah, bahwa ‘sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Maka bertawakallah kepada Allah Swt dan tetap istiqomah dalam menjalani ujian dari-Nya. Karena sesungguhnya ujian Allah Swt sepahit apapun, sesakit apapun dan semenderita apapun tetap manis dan indah. Saya adalah bukti hidup dari kebesaran Allah yang saya rasakan langsung dan riil, diantara ribuan, jutaan dan milyaran manusia yang telah menerima kebesaran-Nya. Tetap bersabar dan semangat!”

Semoga saat kematian menghampiri, kita termasuk orang yang berkata,

“Selamat datang, Kematian. Hidup dan mati adalah kehendak Allah Swt. Manusia terlalu sombong untuk merasa tahu semua rahasia alam dan kebesaran Allah Swt. Manusia terlalu angkuh dan picik jika tidak mau mensyukuri kasih dan anugerah Allah yang terhampar di setiap sudut planet dan ruang kehidupan. Manusia sungguh tertipu oleh pandangan yang rabun dan myopic ketika memandang bahwa kekayaan, pangkat dan ilmu adalah segala-galanya yang diyakini menjanjikan kebahagiaan dan kemuliaan abadi…*”

Akhirnya… semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa memohon,

“Ya Allah, ketika suatu saat ajal kami tiba, jadikanlah hari itu sebagai hari wisuda kami mengakhiri jadwal hidup di dunia, tempat bertanam untuk bekal perjalanan lebih lanjut. Tetapkan iman dan kecintaan kami pada-Mu. Anugerahkan kepada kami keturunan dan teman-teman yang saleh dan bijak. Dengan kasih-Mu semoga di kampung akhirat nanti Engkau masukkan kami ke dalam komunitas para anbiya dan syuhada, meski pada barisan yang paling belakang, Allaahumma aamiin…*”

Mudah-mudahan bermanfaat.

Baca Juga :  Si Manis nan Gurih Es Suket (Susu Ketan) Khas Kuningan

~~~

*dikutip dari buku Psikologi Kematian, Komarudin Hidayat

error: