Kumpulan Quote dari Buku “Tuhan, Aku Divonis Cuci Darah”

0
SHARE

~

Kutipan kata-kata ketika Teh Lien menyadari bahwa ia mesti move on dari penyakitnya:

“Aku harus bangkit dan mulai belajar untuk menjaga kualitas hidupku, walaupun aku tahu aku harus siap hidup dengan penyakit ini sampai akhir hayatku.”

“Kenapa aku harus menangis sedemikian menyayat padahal aku masih bisa merasakan dinginnya air wudhu membasahi permukaan kulitku.”

“Kemudian aku kembali sendiri, lebih banyak mengingat Allah, mencoba memaknai sabar dan ikhlas yang tak berbatas.”

Kutipan kata-kata ketika Teh Lien didera sesak napas hebat:

“Ya Allah kenapa orang lain sedemikian mudah menghirup udara-Mu?”

“Dan ketika aku tak tahu bagaimana caranya bernapas, Allah memberi tarbiyah terbesar bagi hidupku; Rabb, nikmat Engkau yang mana lagi yang akan hamba dustakan?”

Kutipan dari Puisi “Tentang Kesendirian”;

Kesendirian adalah sesuatu antara aku dan Rabb-ku

Kesendirian adalah ketika aku berlepas dari cinta

kecuali cinta-Nya

Kutipan kata-kata ketika Teh Lien terkena anemia hebat:

“Allah… aku iri melihat orang-orang itu hilir-mudik di hadapanku, betapa mudahnya Engkau menguatkan kaki mereka untuk menopang berat badannya. Nikmat luar biasa yang tak pernah kusadari selama ini. Ampuni hamba, Ya Ghofur…”

Kutipan kata-kata Teh Lien ketika dirawat dan tidak diperbolehkan minum sebab paru-parunya terendam air, dokter hanya memberi nasihat, “kalau haus, usap saja bibirnya dengan air…”

“Pernahkah aku berpikir tentang nikmatnya minum? Betapa menyenangkan bisa minum sebanyak yang kumau, betapa nikmatnya bisa minum apapun yang kumau, betapa… dan berjuta betapa yang lainnya.”

“Aku harus  belajar bangkit, aku harus mulai merangkak lagi meniti puing-puing kehidupanku yang telah hancur berkeping, karena aku masih punya mimpi dan asa yang akan kugapai untuk membuat mereka tersenyum bangga padaku…”

Hidup yang penuh warna, walau kadang memudar

Baca Juga :  Pindah Tidur dan Makan Ke Hotel Purnama Mulia Kuningan

Hidup yang begitu indah, walau kadang ada awan hitam yang memayungi

Hidup yang penuh dengan kebahagiaan, walau kadang tangisan menyela

Dan hidup dalam kebersamaan, walau kadang kesendirian menghampiri

“Aku masih di sini untuk membuktikan kecintaanku pada Rabb-ku dan orang-orang yang kucintai. Berusaha memahami tangisan sebagai awal dari kebahagiaan dan memahami kesakitan sebagai jalan menuju kemenangan.”

“Aku berusaha berikhtiar agar hidupku tidak sia-sia, agar aku tidak sekadar menunggu mati, dan agar orang-orang yang mencintaiku masih bisa merasakan kehadiranku. Dan aku masih berusaha berikhtiar walau aku tahu, aku harus hidup dengan penyakit ini sampai akhir usiaku…”

“Dan aku berusaha untuk pasrah agar hidupku lebih tenang, agar aku tetap bisa bersyukur, agar aku berlepas diri dari keputusasaan dan agar aku tetap merasakan kehadiran Rabb-ku di sisiku… selalu.”

poto tentang bersyukur pada Allah atas apapun yang terjadi
nmustapha.weebly.com

Suatu hari, Bu Harti (teman sesama pasien cuci darah Teh Lien) pergi ke suatu seminar dan pembicaranya yang seorang dokter mengatakan,

“Walaupun ibu dan bapak menderita penyakit sudah sekian lama, belum tentu ibu dan bapak yang meninggal duluan, bisa jadi begitu keluar dari gedung ini saya tertabrak mobil dan meninggal duluan…”

Kata Mas Endy (teman sesama pasien cuci darah Teh Lien),

“Walaupun pada awalnya berat, seakan Allah Swt tidak adil dalam menimpakan ujian kepada saya, tetapi mungkin inilah bukti nyata dari janji Allah, bahwa ‘sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Maka bertawakallah kepada Allah Swt dan tetap istiqomah dalam menjalani ujian dari-Nya. Karena sesungguhnya ujian Allah Swt sepahit apapun, sesakit apapun dan semenderita apapun tetap manis dan indah. Saya adalah bukti hidup dari kebesaran Allah yang saya rasakan langsung dan riil, diantara ribuan, jutaan dan milyaran manusia yang telah menerima kebesaran-Nya. Tetap bersabar dan semangat!”

Semoga saat kematian menghampiri, kita termasuk orang yang berkata,

“Selamat datang, Kematian. Hidup dan mati adalah kehendak Allah Swt. Manusia terlalu sombong untuk merasa tahu semua rahasia alam dan kebesaran Allah Swt. Manusia terlalu angkuh dan picik jika tidak mau mensyukuri kasih dan anugerah Allah yang terhampar di setiap sudut planet dan ruang kehidupan. Manusia sungguh tertipu oleh pandangan yang rabun dan myopic ketika memandang bahwa kekayaan, pangkat dan ilmu adalah segala-galanya yang diyakini menjanjikan kebahagiaan dan kemuliaan abadi…*”

Akhirnya… semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa memohon,

“Ya Allah, ketika suatu saat ajal kami tiba, jadikanlah hari itu sebagai hari wisuda kami mengakhiri jadwal hidup di dunia, tempat bertanam untuk bekal perjalanan lebih lanjut. Tetapkan iman dan kecintaan kami pada-Mu. Anugerahkan kepada kami keturunan dan teman-teman yang saleh dan bijak. Dengan kasih-Mu semoga di kampung akhirat nanti Engkau masukkan kami ke dalam komunitas para anbiya dan syuhada, meski pada barisan yang paling belakang, Allaahumma aamiin…*”

Mudah-mudahan bermanfaat.

Baca Juga :  Kehangatan Reunian & Kesegaran Kwetiau Siram Berpadu di Kota Kuningan

~~~

*dikutip dari buku Psikologi Kematian, Komarudin Hidayat

1
2
SHARE