Kumpulan Quotes atau Kutipan Buku “Orang-Orang Biasa” Andrea Hirata

4
SHARE
Kumpulan Quotes atau Kutipan Buku “Orang-Orang Biasa” Andrea Hirata, kumpulan quotes, kutipan buku, kutipan buku orang-orang biasa andrea hirata, andrea hirata quotes, kutipan andrea hirata
Via: instagram @rosedianadiary

Buku Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata memang sudah selesai saya baca. Tetapi masih ada orang-orang yang membahasnya di media sosial, sehingga usaha untuk “move on” jadi agak sulit. Padahal saya perlu menjernihkan hati dan pikiran agar fokus pada buku selanjutnya. Hehe

Meski demikian, OOB memang berkesan, sehingga ceritanya masih menancap sampai sekarang. Banyak hal yang bikin saya ‘rindu’ pada OOB (padahal baru beberapa hari tamat). Salah-satunya yaitu quotes atau kutipannya, baik dari narasi mau pun dalam dialog. Oleh karena itu, postingan ini pun tercipta.

Nah, berikut ini Kumpulan Quotes atau Kutipan Buku “Orang-Orang Biasa” Andrea Hirata:

 

“Kesempurnaan memaknai hidup manusia, ketidaksempurnaan melengkapinya”. (hal. 3)

 

“… pada zaman internet ketika semua orang adalah wartawan, yang bahkan salah mengancingkan baju dilaporkan pada dunia, dan semua mendadak gandrung dengan kenangan sehingga tak ada yang luput dari bidikan kamera hape, makanan sebelum dimakan adalah kenangan manis yang ingin dikenang, awan yang berbentuk macam kuntilanak adalah berita besar, apa saja, tak ada yang luput…” (hal. 4)

 

“Anak sekolah zaman sekarang ternyata suka berkelompok berdasarkan bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri, dan bagaimana mereka ingin dilihat orang lain.” (hal. 9)

 

“Dalam keadaan apa pun, berdua lebih baik”. (tulisan Salud di bukunya, hal. 11)

 

“Tak ada yang lebih ditakuti penjahat selain penegak hukum yang jujur”. (hal. 15)

 

“Sesungguhnya selalu ada lelaki dalam setiap lelaki. Lelaki di dalam diri Bastardin dan Boron adalah lelaki jahat. Lelaki dalam diri Salud adalah lelaki lembut yang baik hati”. (hal. 20)

 

“… dalam hidup ini kita tidak selalu mengerjakan apa yang kita cintai. Namun, kita dapat belajar untuk mencintai apa yang kita kerjakan… “ (Inspektur Ali Rojali, hal. 22)

Baca Juga :  Apakah Kamu Harus Sukses dan Harus Bahagia Seperti Versi Orang Lain?

 

“… anak-anak itu tak pernah punya cita-cita sebab mau belajar saja susah”. (hal. 29)

 

“… baginya (Junilah) semua lelaki di dunia ini patut dijejer di muka regu tembak”. (hal. 37)

 

“Berjualan buku di negeri yang penduduknya tidak suka membaca adalah tindakan heroik”. (hal. 37)

 

“Mereka yang  mau belajar, tak bisa diusir”. (hal. 44)

 

“Dunia ini rusak gara-gara banyak bawahan yang suka melapor pada atasan asal atasan senang saja …” (kata Kumendan Inspektur Abdul Rojali, hal. 48)

 

“… tiga serangkai persekongkolan pengusaha, politisi, dan birokrat. Itulah segitiga emas kejahatan”. (hal. 52)

 

“Inspektur tak pernah gentar menghadapi penjahat yang paling sangar sekalipun. Namun, menghadapi putri kecilnya yang sedang kecewa, dadanya berdebar-debar”. (hal. 66)

 

“Apa boleh buat, sebagian orang memang menilai buku dari sampulnya”.  (hal. 75)

 

“… Kalau seorang anak tidak sekolah, masa depan jadi musibah…” (Nihe-Junilah, hal. 85)

 

“Orang yang tak takut pada Tuhan takkan dapat surat kelakuan baik dari kepolisian!” (Kumendan, hal. 93)

 

“Kiranya benar bahwa hari paling penting dan paling bahagia dalam hidup manusia adalah hari ketika dia tahu untuk alasan apa dia dilahirkan ke muka bumi ini”. (hal. 95)

 

“Perampok adalah pemain watak dengan kharisma menggertak luar biasa sehingga korban terkesima sekaligus takluk dalam hitungan detik. Orang-orang biasa yang tak bermental penjahat mustahil melakukannya …” (hal. 99)

 

“Mereka yang berada di belakang senjata belum tentu sekubu dengan hukum! Mereka yang berada di depan senjata, segaris dengan maut!” (Handai, hal 113)

 

“… Tengoklah banyaknya anak-anak pintar miskin yang tidak dipedulikan Pemerintah! Tengoklah jurusan tertentu hanya dapat dimasuki orang-orang kaya! Tengoklah langkanya anak-anak orang miskin jadi dokter! Mendaftar ke fakultas itu saja mereka tidak berani! Padahal, kecerdasan mereka bisa diadu! Ilmu hendaklah hanya tunduk pada kecerdasan, bukan pada kekayaan! Para pemimpin, birokrat, politisi, sibuk denganperiuk belanga mereka sendiri…” (Debut, hal. 118)

Baca Juga :  11 Tips Ketika Stress Masalah Keuangan, Atau Pendapatan Lebih Kecil Dari Pengeluaran

 

“Dan, tak ada pembunuh yang lebih berdarah dingin membunuh kreativitas selain rutinitas”. (hal. 127)

 

Kopi gampang dingin di depan orang yang plinplan”. (Handai, hal. 132)

 

“Hanya orang bodoh yang menuntut respek dari orang-orang bodoh”. (Handai, hal. 133)

 

“Ternyata jika seseorang idealis, tetapi dia bodoh, pekerjaannya hanya akan menuju pada suatu hal: kurungan penjara!” (hal. 167)

 

“Ragu lebih berbahaya dari bodoh … ragu plus bodoh sama dengan borgol”. (Handai, hal. 222-223)

 

“ Maaf, Kawan, uang korupsi, uang haram, sesen apun tak mau menyekolahkan anakku dengan uang ini”. (Dinah, hal. 224)

 

“Pernah dia (Inspektur) membaca bahwa jika seseorang terlalu menghayati seni, orang itu bisa eror”. (hal. 234)

 

“Selalu ada lelaki dalam setiap lelaki. Lelaki yang berdiri menunggu bus antarkota di bawah terang sinar matahari itu, sesungguhnya lelaki yang berdiri di dalam gelap, liar mengawasi sekitar dari balik dinding toko tembakau di seberang jalan sana. Lelaki yang tersenyum ramah pada setiap orang adalah lelaki yang menghunus belati, berdiri gugup di sampingnya. Orang-orang berpakaian rapi itu adalah para pencoleng dan penjual-penjual es tebu itu adalah para penyangkal kebenaran”. (hal. 250)

 

“Kejahatan meninggalkan sidik jarinya di setiap kota, khas satu sama lain, yang akhirnya membentuk watak kota itu”. (hal. 260)

 

“Inspektur Abdul Rojali tersenyum ikut gembira menyaksikan orang-orang yang berdendang itu, dan takjub, bagaimana orang-orang biasa dapat merasa senang atas hal-hal yang sederhana”. (hal. 261-262)

~

Bonus:

“Debut itu orangnya memang idealis, mungkin karena dia anak seorang montir sepeda” (hal. 16)

 

“Debut Awaludin itu sedikit banyak memang punya kualitas memimpin, mungkin karena ibunya penjual kue cucur” (hal. 17)

Baca Juga :  7 Cara Agar Kita Tidak Melampiaskan Kekecewaan Pada Orang yang Disayang

 

“… jangankan memberi jawaban yang benar, memberi jawaban yang salah saja dia tak bisa.” (hal 8)

 

“… tampak benar anak-anaknya tak punya bakat sekolah” (hal. 30)

 

“Kurasa kau adalah satu-satunya murid di dunia ini yang pernah tak naik kelas, banyak nilai merah di rapor, yang berani bercita-cita jadi dokter, Aini.” (hal. 59)

 

“Mana ada perampok minum teh manis, Rin! Yang minum teh manis itu guru honorer! Minum kopi, Ini! Kopi pahit! Kopi para perampok!” (Kakak, hal. 102)

 

“Nihe memang punya ijazah SMP, tetapi mulutnya buta huruf”. (hal. 135)

 

Selesai. 🙂

SHARE

4 COMMENTS

  1. Keren2 kuotnya yah. Susah tuh menyusun kata yang dalam maknanya.

    saya tersentuh banget sama yang ini
    “Ternyata jika seseorang idealis, tetapi dia bodoh, pekerjaannya hanya akan menuju pada suatu hal: kurungan penjara!”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.