Menikmati Momen Pertunangan Tanpa Memusingkan (Dulu) Soal Pernikahan

0
SHARE
tunangan, pertunangan, momen tunangan, momen lamaran, momen khitbah, tidak dulu memusingkan soal nikah, menikmati momen pertunangan
Image via: independent.ie

“Jangan biarkan kekhawatiran masa depan merenggut kedamaian masa kini kamu.”

Saya merapalkan kalimat tersebut dalam hati, tepat ketika menghadapi acara puncak tunangan dengan partner selama ini. Acara intinya belum terjadi, tetapi kekhawatirannya sudah terasa.

Selalu ada pikiran absurd; misalnya, ‘gimana kalau nanti calon mertua kembali sakit dan tidak bisa hadir?’, ‘gimana kalau nanti jari saya membesar atau mengecil sehingga cincinnya jadi tidak pas?’, ‘gimana kalau nanti hidangan atau prasmanannya tidak cukup/tidak enak?’,  dan ‘gimana kalau’ lainnya.

Tentu saja saya stres dan grogi, tetapi saya tidak mau pikiran dan rasa itu terus menggerogoti. Saya ingin tetap tenang dan sadar.

Ketika partner tiba dengan perwakilan keluarganya, dada saya semakin berdesir. Saya sampai menarik napas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan. Saya ingin tetap tenang.

Ada kelegaan ketika calon mertua datang semua. Apalagi mereka dalam keadaan sehat dan bugar.

Detik demi detik, semuanya berlangsung mengalir dan lancar. Syukurlah.

Apakah hanya berakhir sampai itu?

Tentu saja tidak. Cincin yang melingkar dengan pas di jari saya tidak memecahkan semua konflik. Justru perhiasan tersebut menjadi simbol, di mana saya dan dia sudah saling menambatkan hati. Disaksikan seluruh keluarga, lagi!

Ketika pikiran dan hati saya memutuskan untuk menerima lamaran, khitbah, pinangan, tunangan, ngiket, atau apalah itu namanya, muncul sederet “calon masalah” lain.

Orang-orang mengucapkan selamat dan memberikan doa – yang mana sangat saya apresiasi.

Tetapi mayoritas dari mereka lebih riuh membicarakan soal rencana pernikahan.

“Jadi, mau tanggal berapa dan bulan apa nikahnya?”

“Dekorasi dan makeup-nya ke XXX saja biar!”

“Mesti nyewa tim shooting dan photography yang bagus, dong!”

Baca Juga :  “Do You Diary?”

“Photo booth-nya mau di pojokan mana saja?”

“Mau bikin berapa tuh baju seragamnya?”

Tema pernikahannya mau apa, terus dresscode buat tamunya bagaimana?”

“List tamu undangannya harus disiapkan dari sekarang.”

“Jasnya mau nyewa apa bikin sendiri?”

“Nanti pakai bunga hidup semua apa campur tuh sama yang artifisial?”

“Mau catering atau nyuruh juru masak saja?”

“Cat kamar sama ruangan utamanya warna apa, ya, bagusnya?”

“Isi souvernir-nya mau apa? Terapkan sistem voucher apa gimana?”

Dan seterusnya.

Uh, bisakah mereka menunggu dulu?

Jangan salah paham. Saya berbahagia dan bersyukur. Entah harus dalam bahasa apa, saya mengutarakan ucapan ‘terima kasih’ kepada semua pihak yang membantu dalam berbagai bentuk, sehingga acara terlaksana sesuai rencana.

Saya sangat mengapresiasi inisiatif partner yang semakin membuktikan kemantapannya untuk berkomitmen. Saya sangat berterima-kasih keluarganya bersedia bertandang ke rumah. Apalagi mereka semua menyampaikan iktikad yang sangat baik.

Tetapi saya hanya meminta waktu agar mereka tidak buru-buru membicarakan soal semua itu.

Pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral. Hampir semua orang ingin menghelat dan merayakannya dengan spesial. Tetapi inti dari pernikahan tidak hanya sebatas kemewahan, riuh-rendah, atau pujian dari para tamu. Lebih dari itu, pernikahan meninggalkan jalan meliuk-liuk dan membentang yang mesti dilewati semua pasangan.

Hmm … sudah dulu, ya.

Selama satu sampai empat hari, saya ingin dulu fokus mencecap dan menikmati momen ini. Menikmati Momen Pertunangan Tanpa Memusingkan (Dulu) Soal Pernikahan. #RD

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.